
Belakangan ini Diara memilih fokus menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Hubungannya yang semakin menjauh dari keluarganya, juga hubungannya yang sedang renggang dengan Jelita belakangan ini membuat Diara tidak punya pilihan lain, selain bekerja dan bekerja, hingga larut malam bahkan terkadang Diara memilih menginap di ruangan kantornya dengan beralaskan sofa yang lumayan empuk.
Jauh di dalam lubuk hatinya Diara kerap dihinggapi perasaan sepi, dan diam-diam Diara merindukan kehadiran Juna yang dulu selalu mewarnai hari-harinya. Ah ya, bagaimana dirinya bisa segera move on dan segera mencari pendamping seperti yang diharapkan keluarganya kalau sampai detik ini dia masih saja kerap teringat pada Juna.
Dan kemudian, saat sedang berada di kantor di malam hari, Diara mendapatkan telepone dari kakak laki-lakinya dengan suara yang panik.
"Diara, dimana kamu malam-malam begini?"
Tanya kakaknya dengan suara keras di ujung telepon.
"Gue dikantor Kak, ada apaan sih kakak telepon teriak-teriak?"
"Ada apa Di? Mama sekarang lagi kritis di rumah sakit Di, bisa-bisanya lo tinggal dirumah sampai nggak tahu? Sekarang juga lo pulang atau langsung ke RS! Gue kirim no kamarnya sekarang!"
Bagaikan petir di siang bolong, berita itu menampar telak Diara.
__ADS_1
Diara yang selama ini selalu berusaha tegar dan berdiri di atas kakinya sendiri, seketika jatuh limbung, dan air matanya meluncur begitu saja. Berita ini sungguh sangat mengejutkan bagi Diara. Sebab yang Diara lihat selama ini, Mamanya masih sehat dan bugar, bahkan hoby sekali mengomeli dirinya hingga kerap membuatnya kesal dan memilih menghindar keluar rumah. Oh ya Diara lupa, kapan terakhir kali dia melihat mamanya dengan sungguh-sungguh? Pastilah dirinya yang salah mengira. Pada kenyataannya Diara tak pernah sempat memperhatikan Mamanya. Waktunya hampir selalu habis untuk bekerja dan selalu berada di luar rumah. Bahkan saat dirumahpun Diara lebih sering mengunci diri di dalam kamarnya untuk menghindari omelan Mamanya. Tapi, bagaimana mungkin Mamanya bisa tiba-tiba kritis? Selama ini Diara tidak pernah mendengar Mamanya mengeluh atau membicarakan tentang dirinya sendiri. Yang Diara dengar Mamanya hanya terus mengkhawatirkannya dengan berlebihan hanya karena dirinya belum mempunyai calon yang akan menikahinya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya Diara bangkit dan meneguk air mineral untuk menenangkan pikirannya. Diara membuka ponsel dan membaca pesan yang dikirim kakaknya. Jelita menguatkan dirinya dan memesan taksi online ke alamat tersebut.
Diara turun tepat di loby rumah sakit, setelah itu Diara langsung menuju ke ruang ICU tempat dimana Mamanya dirawat.
Diara menyaksikan Mamanya yang tergolek lemah dengan berbagai alat penunjang. Hati Diara serasa teriris. Mamanya yang biasa membuatnya kesal karena terus mengomel ternyata jauh lebih menyenangkan dibandingnya Mamanya yang hanya diam.
"Ma...Mama...Mama bangun Ma, Diara kangen denger Mama ngomelin Diara, Diara janji akan dengerin Mama dan nggak akan kabur-kaburan lagi...maafin Diara Ma, maafin Diara Ma..."
"Sudah...sudah...jangan nangis disini, nanti Mama keganggu, yuk kita keluar dulu..."
Tomi, kakak Diara lalu menuntun Diara untuk kekuar menuju ruang tunggu.
"Gimana ceritanya Kak Mama bisa sampai kayak gini?"
__ADS_1
Tanya Diara pada Kakaknya.
Tom8 adalah kakak Diara yang sudah menikah dan kini tinggal bersama keluarga kecilnya.
"Harus gue yang nanya ke elo! Tadi jam lima an gue di telepon Bi Sari, katanya Mama sesak nafas, gue suruh Bi Sari sama Mang Herman bawa Mama ke rumah sakit dan gue langsung nyusulin Mama ke rumah sakit juga..."
Tomi bercerita sambil menahan geram pada adiknya.
"Terus Papa sekarang dimana Kak? Apa Papa udah tahu?"
"Mana gue tahu Papa dimana, dari tadi gue telponin nomernya nggak aktif-aktif. Kamu ini gimana sih? Nggak kamu, nggak Papa, tinggal satu rumah tapi nggak ada yang perduli sama Mama..."
Kali ini Tomi benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.
Sementara Diara hanya bisa duduk terdiam. Dalam hati mengakui bahwa semua yang dikatakan kakaknya memang benar. Dan Diara benar-benar menyesal. Jika nanti terjadi sesuatu pada Mama, Diara takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1