Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 65


__ADS_3

Mereka terus asyik mengobrol hingga tanpa sadar hari sudah beranjak sore.


"Lo nggak balik ke kantor Je?"


"Pengennya sih langsung pulang rebahan, tapi kayaknya gue masih harus lembur lagi deh kejar deadline..."


"Sorry ya Je, gue jadi buang-buang waktu lo yang berharga..."


"Apaan sih Di? Gue malah seneng banget akhirnya bisa ngobrol banyak sama lo, dan akhirnya pikiran gue jadi terbuka..."


"Btw, lo harusnya cepetan cari pengganti gue, nggak lucu ya kalau owner harus terus-terusan kerja lembur bagai kuda!"


"Maunya sih gitu Di, tapi gimana ya, belum ada yang cocok, tapi kalau seandainya lo mau balik gue pasti terima dengan tangan terbuka.."


"Haha, so sorry Je, gue udah nggak berminat..."


"Yaudahlah, nyerah gue.. doa in gue cepet dapet asisten yang cucok meong sejenis lo!"


"Yoi Je, gue bakal selalu doain lo, btw lo juga doa in gue ya, supaya usaha gue nanti bisa lancar dan laris manis..."

__ADS_1


"Jelas dunk, btw kalau lo butuh suntikan modal atau sejenisnya, jangan ragu hubungin gue, ok?"


"Sejauh ini masih tercover kok Je, tapi thanks tawarannya...btw, balik sekarang yuk, kasian tar lo masih harus lembur lagi..."


"Ok, gue anter sampai ke rumah lo, baru gue balik kantor..."


Begitulah akhirnya mereka menyudahi acara reuni dadakan itu. Hubungan kerja diantara Jelita dan Diara boleh saja berakhir, tapi persahabatan mereka tidak akan mudah goyah meski diterpa badai.


Jelita bersama Pak Bin terlebih dulu mengantarkan Diara ke rumahnya. Barulah setelah itu Jelita kembali ke kantor.


Sampai dirumah, Diara langsung mandi. Entah mengapa setelah bertemu dengan Jelita, Diara jadi bersemangat untuk merealisasikan mimpinya. Diara memilih duduk di sofa lalu menyalakan televisi sekedar untuk membuat suasana rumah yang sepi menjadi lebih meriah. Dan pada kenyataannya, Diara malah lebih sibuk dengan gawainya. Diara sedang antusias untuk mencari-cari vendor yang bagus untuk merenovasi rumahnya. Namun ternyata rasa antusiasnya tidak sebanding dengan stamina tubuhnya. Hanya selang beberapa menit saja, Diara akhirnya malah jatuh tertidur di sofa karena kelelahan.


Keesokan harinya Diara terbangun dan merasa lebih segar. Sepertinya semalaman tidurnya sangat nyenyak. Diara ingin segera membangun bisnis impiannya. Tapi tiba-tiba Diara ingat masih ada urusan yang harus diselesaikannya. Dia belum memberi tahu Arya tentang kematian Ibunya.


Diara kemudian memutuskan untuk memasak dengan bahan yang ada di dapur. Menu sederhana favoritnya jadi pilihan. Nasi goreng kampung. Setelah semua siap, Diara segera berangkat.


Mereka bertemu di tempat sama seperti sebelumnya. Sebuah ruangan dengan meja dan bangku panjang. Mereja duduk berhadapan dan entah mengapa suasana menjadi canggung.


"Makanlah..."

__ADS_1


Diara berkata sambil mengeluarkan kotak bekal. Karena buru-buru dan tanpa persiapan, kali ini Diara hanya membawa satu untuk Arya saja.


"Ada apa kamu datang kemari?"


"Makanlah dulu, baru nanti kuberi tahu..."


Sejak kemarin lusa, Arya merasa perasaannya tidak enak entah mengapa. Dan kedatangan Diara semakin membuatnya bertanya-tanya. Tak ingin berdebat, Arya akhirnya memilih menyantap makanan itu dengan cepat.


"Sudah, tolong katakan maksud kedatanganmu kesini, sebab sejujurnya, sejak kemarin perasaanku sudah tidak enak..."


Diara menguatkan hatinya sebelum bicara.


"Ibumu meninggal dunia kemarin lusa..."


Kata-kata Diara yang tenang bagaikan batu besar yang menimpanya dan membuat dada Arya terasa sesak. Arya tahu peristiwa ini cepat atau lambat akan terjadi. Sebab kondisi Ibunya sudah amat lemah dan keajaiban terasa mustahil. Tapi tetap saja, mendengar berita itu membuat hatinya hancur.


"Jangan khawatir semua sudah diurus sebagaimana mestinya dan Ibumu sudah beristirahat dengan tenang..."


"Terimakasih banyak sudah memberitahuku dan mengurus semuanya, semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat-lipat, sekarang pulanglah..."

__ADS_1


Diara mengangguk. Meski berat, Diara melangkah pergi meninggalkan Arya.


Setelah memastikan Diara benar-benar pergi dan tak terlihat lagi, barulah Arya duduk bersimpuh dan menangis sepuas-puasnya. Entah kenapa hatinya sakit sekali. Arya merasa gagal dan menjadi anak tak berguna.


__ADS_2