Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 8


__ADS_3

Gunawan adalah salah satu orang yang bekerja pada Jelita sejak awal Jelita membuka butik pertamanya. Sebenarnya Gunawan tidak memiliki kemampuan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkannya saat itu. Latar belakang Gunawan pun hanya lulusan SMU. Jelita menerima Gunawan bekerja di butiknya atas nama rasa kemanusiaan.


Suatu hari di butik kecilnya yang baru buka beberapa bulan, terjadi kehebohan. Sepasang suami istri mula-mula duduk beristirahat di depan selasar butik. Meski sedikit menganggu pemandangan, Jelita membiarkan mereka dan tidak mengusirnya. Tapi kemudian si istri yang perutnya sudah membesar berteriak kesakitan. Ternyata si istri sudah akan melahirkan. Karena tidak punya ongkos dan tidak punya kendaraan, mereka berniat berjalan kaki menuju puskesmas. Tapi saat baru setengah jalan, sang istri kelelahan, hingga akhirnya mereka duduk untuk beristirahat di depan butik milik Jelita. Melihat ada orang yang membutuhkan pertolongan tepat di depan butiknya, Jelita pun tidak tinggal diam. Jelita menolong wanita itu masuk ke dalam mobilnya, lalu mengantar mereka ke puskesmas yang dituju. Bahkan saat melihat si suami yang hanya punya beberapa lembar ribuan di dompetnya, yang bahkan tidak cukup untuk membeli makan dan minum untuk sang istri, hati Jelita pun tergerak untuk membantu. Jelita berinisiatif melunasi biaya perawatan wanita itu, juga memberi sejumlah uang yang cukup besar di dalam amplop untuk mereka. Tapi saat Jelita berpamitan, sang istri yang baru selesai melahirkan menahan tangan Jelita dan tak membiarkannya pergi begitu saja.


"Mbak, terimakasih banyak sudah menolong kami...tapi ini semua terlalu banyak, kami tidak bisa menerimanya dengan cuma-cuma..."


"Tidak apa Ibu, saya senang bisa melihat Ibu melahirkan bayi lelaki tampan dalam keadaan sehat dan selamat, saya juga sudah ikhlas untuk membantu, semoga bisa bermanfaat untuk Ibu dan keluarga..."


"Terimakasih banyak, tapi Mbak...bolehkah saya minta tolong lagi?"


"Minta tolong apa Bu? Kalau bisa pasti saya usahakan..."


"Mbak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu dengan mudah, pasti Mbak bukan orang sembarangan. Sudah enam bulan lebih suami saya tidak bekerja, sementara tagihan dan biaya kebutuhan sehari-hari terus membengkak, tabungan kami sudah habis, belum lagi kami harus membayar biaya sewa kontrakan. Tolong beri suami saya pekerjaan atau tolong carikan pekerjaan dengan koneksi yang mbak punya, saya janji akan mencicil semua bantuan yang mbak berikan hari ini..."


Mendengar permintaan itu sejenak Jelita berpikir. Dia tidak sedang membutuhkan karyawan, tapi menggaji satu orang lagi untuk membantu di butik sepertinya tidak masalah.


"Baiklah, nanti biar saya pikirkan dulu ya Bu...apa ada nomor yang bisa dihubungi?"


"Ada mbak, tapi handpone suami saya hanya handpone zaman dulu yang cuma bisa menerima telepon dan sms..."


"Tidak apa-apa, nanti akan saya hubungi kalau saya ada informasi...nama saya Jelita, ini kartu nama saya, siapa nama Ibu?"


"Nama saya Lidya, dan suami saya Gunawan, terimakasih banyak sebelumnya, ini nomor telepon suami saya..."

__ADS_1


"Baiklah Bu saya pamit dulu, kalau ada apa-apa Ibu bisa hubungi saya..."


"Baik Mbak, sekali lagi terimakasih banyak, hati-hati di jalan..."


"Sama-sama..."


Jelita kemudian setuju untuk memperkerjakan Gunawan di butiknya. Mulanya Gunawan hanya membantu serabutan. Tapi kemudian Jelita melihat bahwa Gunawan cepat belajar dan memiliki potensi. Sedikit demi sedikit Gunawan diberi kesempatan untuk belajar administrasi, keuangan, design, juga pemasaran. Singkat cerita karir Gunawan berkembang cukup pesat seiring berkembangnya butik milik Jelita yang kemudian berubah menjadi GAYA.Corp. Tapi Jelita tidak mengerti kenapa sekarang Gunawan justru mengkhianatinya dan berbalik menyerangnya.


Gunawan juga yang mengenalkan Jelita pada Arya Anggara yang tidak lain adalah keponakannya. Jelita curiga bahwa mereka memang memiliki rencana jahat dan bekerjasama untuk menjatuhkannya. Bahkan setelah hubungan asmaranya dengan Arya kandas di tengah jalan, beberapa kali Jelita mendapati temuan penyimpangan yang dilakukan Gunawan yang sangat merugikan perusahaan. Tentu Jelita tidak akan tinggal diam. Tapi Jelita juga tidak ingin gegabah. Jelita ingin menyelidiki semuanya dan menemukan bukti yang lengkap untuk mengungkap kasus ini. Dan terutama, Jelita sangat ingin tahu, apa sebenarnya motif Gunawan dan Arya melakukan ini semua padanya?


Maka sore itu dalam penyamarannya sebagai Mawar, si office girl kampungan, Jelita nekat masuk ke ruangan Gunawan di saat si empunya ruangan sedang ada meeting di luar kantor. Saat ini Gunawan menjabat sebagai direktur pemasaran dimana semua kegiatan promosi dan pemasaran menjadi kekuasannya. Belakangan Gunawan diketahui sengaja memundurkan jadwal launching produk, dimana ternyata produk dengan design serupa telah diluncurkan lebih dulu oleh perusahaan kompetitor. Saat memeriksa komputer di ruangan Gunawan, Jelita menemukan beberapa email mencurigakan antara Gunawan dengan seseorang yang di duga oknum dari perusahaan kompetitor. Jelita melakukan tangkapan layar dan menyimpannya untuk mengumpulkan bukti. Jelita juga menemukan beberapa dokumen mencurigakan di meja Gunawan. Jelita memotret semuanya dan menyimpannya. Tidak berselang lama setelah Jelita alias Mawar selesai dengan aksinya, dia mendengar langkah kali mendekat ke ruangan Gunawan. Jelita yang menyamar sebagai Mawar segera membereskan semuanya dan keluar dari ruangan dengan membawa alat pel. Mawar berjalan menunduk, tapi masih bisa melihat dengan jelas kalau Gunawan datang bersama Arya menuju ruangannya. Berani-beraninya Arya masih datang ke perusahannya setelah semua yang terjadi? Tapi yang lebih mencurigakan tentu, apa yang akan mereka lakukan di dalam?


Jelita menghubungi Diara dan mengirimkan semua bukti yang dia dapatkan, juga memberi tahu kalau Arya datang ke kantor.


Di, tolong selidiki lebih dalam dan lakukan analisa tentang temuan-temuan ini!


Jelita melampirkan semua bukti yang dia dapatkan dalam email itu.


Setelah email terkirim, Jelita menghubungi Diara di ponselnya agar cepat merespon permintaannya. Tidak berselang lama Diara langsung membalas pesannya.


Aduh Je, kerjaan gue numpuk nih, bukannya bantuin kek, malah ditambah-tambahin terus! Btw, kenapa nggak lo tendang aja langsung si Gugun sialan itu, kan buktinya udah banyak kalau emang dia nyeleweng!


Sabar Di, kita harus selidiki sampai ke akar-akarnya! Lo lembur lagi ya malam ini, nanti gue kasih bonus deh! Gue lagi banyak kerjaan nih jadi OG

__ADS_1


Sialan! Lo yang nyamar kok jadi gue yang repot sih!


Meski mengomel, Diara tetap melaksanakan perintah Jelita dengan tekun. Tapi sebagai gantinya, Diara punya ide cemerlang untuk membalas semua perlakuan semena-mena yang dilakukan bosnya.


Enak aja! Gue dikasih kerjaan seabreg, lo asyik-asyikan sama OB ganteng!


Begitu gerutu Diara dalam hati.


Diara lalu pergi ke pantry untuk mencari Mawar.


"Mawar, tolong buatkan kopi lalu antarkan ke ruangan saya ya!"


"Ya mbak!"


"Mawar, setelah selesai tolong fotocopykan berkas-berkas ini ya?"


Ucap Diara sambil menyerahkan setumpuk berkas.


"Lalu belikan camilan di minimarket untuk teman lembur saya nanti! Oya, setelah itu kamu jangan pulang dulu, kamu tolong temani saya lembur karena sepertinya saya akan butuh banyak bantuan nanti..."


"Ya mbak..."


Diara tertawa penuh kemenangan. Kapan lagi bisa memperbudak si bos? enak saja! Dia tidak mau capek sendirian.

__ADS_1


__ADS_2