Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 47


__ADS_3

Diara akhirnya pulang ke rumahnya saat hari telah beranjak malam. Diara membuka pintu yang tidak terkunci dan hanya ada kekosongan yang menyambutnya. Tidak ada Mama, tidak ada Papa, tidak ada pula Kak Tomi.


Rumah yang dulu selalu ramai dengan omelan Mama yang kerap membuatnya kesal, kini benar-benar terasa berbeda. Diara membuka kamar kedua orang tuanya dan melihat foto pernikahan mereka tergelerak di lantai dalam keadaan retak. Tiba-tiba hati Diara terasa sesak. Kemana Papanya pergi malam ini? Bahkan belum genap sehari Mamanya meninggal.


Diara mengambil pigura foto itu dan meletakkan kembali di meja. Diara lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Di cermin, Diara bisa melihat dengan jelas wajahnya yang sembab dan matanya yang bengkak. Mungkin inilah penampakan dirinya yang paling buruk rupa.


Saat keluar dari kamar mandi, Diara melihat Papanya masuk rumah dengan terburu-buru dan langsung masuk ke kamarnya. Diara memilih duduk di ruang tengah untuk menunggu Papanya keluar.


Tak berselang lama, Papanya keluar lagi dengan terburu-buru. Diara menurunkan egonya dan mengejar Papanya.


"Papa mau kemana Pa?"


"Tumben kamu pulang kerumah?",


Papanya terlihat tidak perduli. Pria yang dulu selalu bersikap manis dan lembut, kini menjadi dingin kepadanya.


"Papa mau kemana Pa?"

__ADS_1


Diara bertanya lagi dengan suara lebih tinggi, sambil mengabaikan harga dirinya.


"Papa mau ke rumah sakit..."


"Siapa Pa yang sakit?"


"Shinta, ada masalah dengan kandungannya..."


"Jadi, wanita simpanan Papa itu sudah hamil?"


"Jaga mulut kamu Diara!"


"Ini situasi darurat. Dan tahu apa kamu tentang urusan orang dewasa? Lebih baik kamu urus saja hidupmu sendiri yang berantakan itu! Kamu sendiri apa sudah merasa jadi anak berbakti sama Mamamu? Kerjamu kabur-kaburan saja!"


Setelah mengucapkan itu Papa langsung pergi tanpa memperdulikan Diara lagi. Meninggalkan Diara yang terluka oleh ucapan dan kelakuannya.


Diara masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu dari dalam. Dirinya benar-benar kacau saat ini. Perasaan sedih, kehilangan, marah dan kecewa bercampur jadi satu di dalam hatinya.

__ADS_1


Diara merasa dirinya tak berguna dan hidupnya sia-sia. Sepanjang malam itu Diara terus menangis dan menangis untuk melampiaskan kesedihannya. Hingga kemudian Diara jatuh tertidur karena kelelahan.


Keesokan paginya, Diara terbangun saat mendengar ketukan bertubi-tubi di pintu kamarnya. Dengan malas Diara memyeret kakinya dan membuka pintu.


"Kenapa se siang ini kamu belum bangun? Cuci mukamu lalu sarapan bersama Papa. Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan..."


Papanya berbicara tanpa rasa bersalah sedikitpun, padahal semalam baru saja mereka bertengkar hebat. Diara tidak mau menghabiskan energinya pagi ini untuk mendebat Papanya. Diara hanya diam sambil melakukan apa yang diperintahkan Papanya. Pergi ke kamar mandi untuk cuci muka lalu menyusul ke meja makan.


"Ayo dimakan! Wajahmu terlihat pucat, jangan sampai kamu sakit dan nanti merepotkan Papa, urusan Papa sudah banyak!"


Ucapan Papa kembali membuat Diara kesal. Diara tidak berselera, tapi ternyata perutnya benar-benar lapar. Diara akhirnya memilih melahap nasi goreng di depannya dengan cepat.


"Sudah! Papa mau bicara apa memangnya?"


Tanya Diara dengan datar.


"Minggu depan Papa akan menikahi Shinta secara resmi, silahkan kalau kamu mau datang, jika tidak pun tak masalah! Tenang saja harta dan hak milik Mamamu semua akan jatuh ke tangan mu dan Tomi, Papa sudah menyuruh pengacara untuk mengurus semuanya!"

__ADS_1


Habis sudah kesabaran Diara pada Papanya. Diara melempar sendok ditangannya lalu pergi masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.


__ADS_2