
Hari itu, akhirnya Jelita bisa pulang tepat waktu. Memiliki dua orang asisten baru ternyata cukup membantu mengurangi beban pekerjaannya. Badannya terasa lelah, tapi Jelita enggan langsung pulang keapartementnya.
Dalam perjalanan akhirnya Jelita akhirnya memutuskan untuk menelpon Diara.
"Hallo Je, ada apa nih? tumben telpon!"
"Gue mau mampir ke rumah lo boleh? Lo ada di rumah kan?"
"Yoi, gue stay dirumah terus kok, sama Pak Bin?"
"Ya lah, emang sapa siapa lagi?"
"Yaudah gue tunggu...bye"
Jelita menikmati sisa perjalanan itu sambil terkantuk-kantuk. Tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan rumah Diara.
"Sudah sampai Non..."
"Ya Pak Bin, makasih, Pak Bin pulang aja, kemungkinan aku mau nginep disini.."
Jelita lalu turun dan mengetuk rumah Diara.
"Masuk Je!"
Teriak Diara dari dalam rumah. Jelita pun tanpa segan membuka pintu sendiri dan masuk ke dalam. Jelita tahu kalau Diara hanya tinggal sendiri jadi Jelita berani melakukannya.
Begitu melangkah masuk, Jelita langsung mencium aroma masakan yang menggugah selera.
Jelita melangkah ke arah sumber aroma. Dan ternyata benar, Diara sedang sibuk di dapur.
__ADS_1
"Masak apa sih Di? Sibuk amat orang tinggal sendiri ini!"
"Gue lagi cobain menu andalan buat calon resto gue nanti, eh kebetulan lo nongol!"
"Asyik, kebetulan gue lagi laper, kayaknya enak nih, apa aja menunya?"
"Yang gue cobain ini beef teriyaki sama ayam goreng mentega, ambil nasi putih gih kalau laper, bentaran lagi juga selesai..."
Tanpa ragu Jelita menurut, mengambil dua piring dan diisinya dengan nasi putih porsi sedang.
"Gue ambilin buat lo sekalian ya..."
"Yoi.."
Jelita meletakkan dua piring berisi nasi putih di meja makan. Tidak lama kemudian Diara menyusul dengan dua piring lauk yang masih mengepulkan uap panas.
"Tada...beef teriyaki dan ayam goreng mentega istimewa by chef Diara..."
"Cicipin dulu donk Je, biar pujian lo lebih valid..."
Jelita menyendok satu menu itu ke dalam piringnya. Lalu mengunyahnya perlahan.
"Yang ini beefnya empuk, bumbunya ok, cuma agak keasinan dikit kalau menurut gue, hmmm gue kasih nilai 8,5/10..."
Lalu Jelita melanjutkan mengambil menu berikutnya, menu favoritnya alias ayam goreng mentega.
Baru satu suapan, matanya membulat sempurna.
"Nah kalau yang ini perfecto menurut gue, ayamnya crunchy di luar tapi juicy dalamnya, bumbu menteganya juga gurih banget, gue suka...gue suka...bisa lah ya gue kasih nilai 9,5/10..."
__ADS_1
"Wah beneran Je? padahal gue agak insecure sama kemampuan gue..."
"Sumpah Di, ini enak banget, nggak kalah sama makanan di resto yang mahal-mahal..."
"Yaudah kalau gitu habisin gih..."
Mereka berdua lalu sibuk menghabiskan makanan di atas meja. Saking sukanya dengan menu buatan Diara, tanpa sadar Jelita terus makan hingga kekenyangan.
"Yah, gue khilaf lagi Di, gagal deh diet gue!"
Kata Jelita setelah piring-piring di meja makan bersih dari isinya.
"Jelaslah diet lo gagal terus, lo sadarnya kalau makanannya udah habis!"
"Ini kan salah lo juga Di, bikin makanan enak banget sampai bikin gue khilaf, jadi kapan nih lo mau buka restonya?"
"Secepatnya Je, besok rencananya udah mau mulai renov rumahnya, gue boleh kan sementara numpang di apartement lo kalau nanti terpaksa tergusur?"
"Boleh donk, gue malah seneng jadi ada temen...tapi malem ini gue nginep disini boleh?"
"Ya boleh donk, jadi gimana asisten baru lo? Ok nggak orangnya?"
"Lumayanlah, bisa meringankan beban gue,..."
"Bagus Je, selain kerja, jangan lupa juga buat menikmati hasil kerja lo..."
"Ya dunk, gue bakal ambil cuti dan sebelum lo buka usaha lo dan bakal super sibuk, gimana kalau kita healing berdua kemana gitu?"
"Wah ide bagus tuh, tapi kemana Je enaknya..."
__ADS_1
"Tar deh, biar gue pikirin dulu..."
Tapi kemudian, saat Jelita membuka ponselnya, ada sebuah pesan dari seseorang yang diam-diam dirindukannya. Sebuah pesan yang kemudian berlanjut dan menggagalkan rencana mereka.