
Jelita akhirnya membuat sebuah keputusan yang terasa konyol. Jelita mengirimkan alamat lengkap rumahnya di kampung halaman, yang artinya Jelita mengizinkan Farid untuk datang melamar.
Sebenarnya Jelita juga tidak terlalu yakin, apakah Farid sungguh-sungguh dengan ucapannya atau justru hanya berniat mengerjainya. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?
Tidak berselang lama setelah Jelita mengirimkan alamat lengkapnya, Farid langsung membalas pesannya.
Makasih banyak Mawar. Apa aku boleh VC sekarang?
Jelita langsung buru-buru membalas pesan itu.
Jangan, aku lagi kumpul-kumpul sama tetangga Mas Farid, mending ngomong lewat chat aja.
Ok, aku cuma mau ngasih tahu kalau akhir pekan nanti aku bakal datang sama Ibuku buat ngelamar kamu...tolong doain ya semoga semuanya lancar...
Jantung Jelita berdebar semakin kencang setelah membaca pesan itu.
__ADS_1
Ok
Jelita membalas pesan itu dengan singkat karena tidak ingin terlihat terlalu antusias.
Jelita harus segera bersiap-siap. Pertama-tama Jelita memberi tahu Diara bahwa mereka akan berangkat lusa ke kampung halamannya. Setelah itu Jelita sibuk menyelesaikan pekerjaan dan menitipkan beberapa pekerjaan lain untuk di handle asisten barunya. Setelah itu barulah Jelita mengumumkan bahwa dirinya akan mengambil cuti beberapa hari.
Yah, selain untuk menemui Farid, Jelita juga ingin tinggal lebih lama di kampung halamannya untuk bernostalgia. Karena itu Jelita memutuskan untuk mengambil cuti sejak dua hari sebelumnya.
Dan sebelum berangkat, Jelita menyempatkan diri untuk perawatan di salon terlebih dahulu. Sekedar menikmati pijatan ala spa, facial, dan merawat rambutnya mungkin bisa membuatnya lebih rileks dan terlihat segar. Tapi melakukan perawatan berjam-jam sendirian sepertinya membosankan. Jadi Jelita berinisiatif mengajak Diara agar ada teman untuk mengobrol. Meskipun yang terjadi setelah itu, Diara justru meledeknya habis-habisan.
"Apaan sih Di, gue udah lama nih nggak nyalon, gara-gara lo cabut gue jadi stres mikirin kerjaan melulu..."
"Ye, malah jadi nyalahin gue lagi"
Begitulah mereka terus berdebat sepanjang perjalanan menuju salon langganan. Jelita sudah boking sebelumnya, jadi begitu datang mereka langsung di layani. Di salon itu mereka menghabiskan waktu hampir setengah hari dan sepanjang itu mereka terus mengobrol hingga waktu tak terasa berlalu cepat. Dan hasilnya..tada...
__ADS_1
Tidak berubah banyak sih, karena Jelita dan Diara hanya melakukan perawatan biasa, bukan botox atau oprasi plastik yang bisa mengubah penampilan dengan drastis. Tapi setidaknya mereka sudah merasa lebih segar dan percaya diri.
Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Jelita memilih pulang ke kampungnya dengan mobil pribadi dengan mengajak Pak Bin. Pertimbangannya, supaya sesampainya di kampung halaman nanti mereka bisa bepergian dengan lebih bebas.
Sesampainya di kampung halaman Jelita, ternyata kondisi rumahnya dalam keadaan kotor dan terbengkalai. Akhirnya Jelita memilih menginap di hotel dan membayar beberapa orang untuk membersihkan rumahnya. Keesokan harinya barulah rumah Jelita bisa di tempati kembali dan mereka akhirnya menginap di rumah Jelita.
"Jadi, gimana nanti rencana lo selanjutnya?", tanya Diara memecah keheningan saat mereka sedang duduk menunggu kedatangan Farid dan Ibunya.
"Gimana apanya?"
"Kalau seandainya Farid beneran serius sama lo, lo nggak mungkin selamanya bohongin dia tentang identitas lo!"
Ah ya, saking groginya Jelita bahkan sampai melupakan hal sepenting itu. Lebih tepatnya Jelita sendiri belum yakin kalau Farid memang serius dan Jelita tidak ingin berharap terlalu banyak agar hatinya tidak sakit saat harapannya tak sesuai dengan kenyataan.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
Belum sempat Jelita menjawab pertanyaan Diara, sebuah suara salam dan ketukan di pintu menghentikan obrolan mereka. Akhirnya tamu yang di tunggu benar-benar tiba.