
Diara duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan perasaan yang hancur. Seandainya dia lebih memperhatikan Mama. Seandainya Diara lebih memilih meluangkan waktunya bersama keluarga dibanding melakukan pekerjaan yang fana. Andai saja waktu bisa kembali dan dirinya tidak bersikap egois dan kekanak-kanakan. Tapi sayang semua pengandaian itu tak berguna lagi sekarang. Semua sudah terjadi. Penyesalan tidak akan mengembalikan apa yang hilang dan telah terlewat. Yang bisa dilakukan Diara saat ini hanyalah berdoa dan terus berdoa, semoga mamanya bisa segera pulih dan dirinya masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Itulah satu-satunya harapan Diara saat ini.
Di ruang itu, Tomi dan Diara duduk bersisian, tapi mereka tak saling bicara. Mereka sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kemarahan Tomi sudah mereda, tapi kekhawatirannya akan keadaan Mama tak bisa lepas dari pikirannya. Begitupun dengan Diara. Keduanya hanya terus merapal doa-doa sambil sesekali mencoba menghubungi Papa. Tapi hasilnya nihil. Papa sama sekali tidak bisa dihubungi. Merekapun akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan. Keesokan harinya, dokter spesialis yang memeriksa Mama datang untuk menjelaskan kondisi Mama.
"Ada kemungkinan beliau mengidap kanker paru stadium akhir...tapi sementara ini fokus kami adalah membuat kondisinya stabil terlebih dahulu, jika kondisi Nyonya Diana sudah melewati masa kritisnya, baru setelah itu kita bisa merencanakan terapi untuk kankernya..."
"Kira-kira sampai berapa lama dok?"
"Kami tidak bisa memastikan, banyak-banyaklah berdoa agar Nyonya Diana segera sadar..."
"Baik Dok, terimakasih banyak..."
Diara kembali terduduk lemas setelah mendengar penjelasan dokter.
"Kamu bisa jagain Mama kan Di? Aku mau balik rumah sebentar, terus ada beberapa pekerjaan yang harus aku beresin dulu, kalau ada apa-apa kamu kabarin kakak ya?"
__ADS_1
"Ya Kak, aku mau disini terus sama Mama..."
"Ok, setelah urusanku beres aku janji bakal balik sini secepatnya..oh ya kamu jangan lupa makan ya...jangan sampai nanti kamu malah ikut sakit kayak Mama..."
"Ya Kak, Kakak tenang saja, sudah sana pergi..."
Sepeninggal kakaknya, Diara lalu memutuskan untuk menelpon Jelita, mengabarkan kalau dirinya ingin mengambil cuti mendadak, dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Hay Di, ada apa?", sapa Jelita di ujung telepon.
"Its ok Di, take your time...gue usahain jenguk nyokap lo nanti malam, tenang aja Di kerjaan bisa gue handle, lo fokus aja ngurus nyokap lo dan jangan lupa jaga kesehatan lo sendiri!!"
"Yoi Je, makasih banyak ya...dah.."
klik. Sambungan terputus. Diara bisa fokus pada Mamanya sekarang.
__ADS_1
Sepanjang malam, Diara terus duduk di ruang tunggu sampai tertidur.
Saat pagi tiba, Diara merasakan perutnya keroncongan. Diara lalu turun sebentar ke cafetaria. Disana Diara membeli air mineral, sanwich, juga beberapa macam camilan yang mudah dimakan. Tak ingin terlalu lama meninggalkan Mamanya. Setelah selesai Diara memilih kembali ke atas. Diara duduk di ruang tunggu dan menatap aneka makanan yang dibelinya. Perutnya lapar, tapi Diara sama sekali tidak berselera. Diara akhirnya memaksakan diri memakan sanwichnya hingga setengah dan Diara menenggak air mineral hingga setengahnya.
Diara ingin masuk untuk menengok Mama nya lagi. Tapi saat akan melangkah Diara mendengar suara orang yang amat dikenalnya sedang bicara di telepon.
"Tunggu sebentar sayang, sebentar lagi aku akan kesana, aku hanya ingin menengoknya sebentar saja..."
"Ya...ya...sekarang juga...aku juga sudah kangen sama kamu..."
Saat berbelok di koridor rumah sakit Diara hampir saja menabrak seorang pria.
"Papa!", pekik Diara dengan terkejutnya.
"Eh, Diara! Untung kamu sudah disini, Papa harus pergi ada urusan penting, tolong jagain Mamamu ya..."
__ADS_1
Tanpa memunggu jawabab Diara, Papanya sudah pergi dengan terburu-buru.