Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 26


__ADS_3

Hari kedua setelah ide taruhan itu tercetus. Mawar dan Mona masih kukuh untuk mencari keberadaan Farid yang diyakini kembali bekerja di GAYA.Corp.


Entah dimana Farid bersembunyi, Mawar sampai heran sendiri, padahal dia tahu pasti kalau Farid jelas bekerja di divisi IT. Bahkan sampai jam makan siang tiba mereka belum juga menemukannya.


Kali ini Mawar memilih bergabung dengan kawan-kawan OG-nya makan siang dikantin. Ada Mona, Ratih, Marni, dan juga Rosa. Mereka yang sebelumnya seperti memusuhinya kini telah menerimanya dengan tangan terbuka. Suasana kantin di jam makan siang sangat ramai. Mawar memilih memesan bakso dan es jeruk sebagai menu pengganjal perutnya.


Ternyata cukup menyenangkan makan sambil bergosip dengan teman sejawat. Hal yang tidak mungkin dilakukannya sebagai Jelita. Disinilah tempat dimana semua pegawai berbaur tanpa memandang kasta.


"Aduh gue jadi pesimis nih bakal kalah taruhan...", keluh Mona di sela-sela suapan baksonya.


"Santai Mbak Mona, kan masih ada sampai satu minggu lagi..."


"Yah kalau ternyata itu bukan Farid, mau kita nunggu satu minggu lagi juga nggak bakal ketemu, Mawar!"


"Yah, paling nggak kan minggu depan Mbak Mona pasti sudah gajian, jadi pasti bisa bayar taruhan kan?"


"Sialan lo!", Maki Mona sambil meninju pundak Mawar, pelan.


"Ssst...sssttt, kayaknya orang yang diomingin panjang umur nih!" , kata Rosa sambil menunjuk ke arah rombongan pria yang berjalan ke arah meja mereka.


Reflek Mona dan Mawar menoleh ke arah yang dimaksud.


"Yes, gue menang taruhan!", seru Mona kemudian.


Sementara Mawar masih tertegun karena sesaat pandangannya bertemu dengan Farid. Mawar ingin menyapa tapi ragu-ragu. Tapi kemudian, Farid bersama teman-temannya berlalu tanpa memperdulikannya.


Entah mengapa ada sebersit perasaan kecewa di hatinya.


"Eh jangan pura-pura bengong, jangan lupa bayar, kan lo yang ngajakin taruhan..."


"Sabar Mbak Mona, Mawar lagi patah hati dicuekin Mas Farid kayaknya...", bela Rosa dengan polosnya.


"Hahaha, biarin lah si Mawar ngrasain, siapa suruh belagu banget nolak-nolak Farid mentang-mentang OB, eh sekarang naik pangkat kan"


Mawar hanya bisa tersenyum kecut menanggapi ledekan rekan-rekannya. Mawar lalu merogoh dompetnya dan mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya.

__ADS_1


"Nih, lunas ya hutangku Mbak Mona?"


"Wah...wah, serius nih War langsung dibayar, duit darimana?"


"Lo nggak ngepet kan?", tanya Mona sambil bercanda.


"Nggak mbak Mona, itu uang halal, gini-gini aku kan juga punya tabungan..."


"He, thanks Mawar, sebagai gantinya makan siang kalian kali ini gue yang traktir!"


"Asyik..., makasih ya Mbak Mona..."


Dan akhirnya semua menyambut dengan gembira hasil taruhan itu.


Namun dalam hati, diam-diam Mawar merasa gundah. Bukan karena hasil taruhan yang menyatakan dirinya kalah, tapi tentang sikap acuh Farid yang jelas-jelas mengabaikannya.


Berbagai pertanyaan muncul memenuhi benak Mawar. Apakah memang seperti itu sifat asli Farid, yang sudah melupakan dan tidak mau mengakui teman-teman dimasa sulit. Atau hal itu karena Farid masih menghindarinya karena masih sakit hatinya sebab penolakan tempo hari.


Setelah selesai menghabiskan makanan masing-masing, Mawar bersama Mona dan kawan-kawan yang lain akhirnya kembali ke pantry. Dari kejauhan Mawar melihat Farid ada disana, sedang bercengkrama dengan rekan-rekan lamanya yang berprofesi sebagai OB. Hal itu jelas menunjukkan jika Farid masih seperti yang dulu, sosok yang ramah dan baik hati pada siapa saja.


Hari itu dilalui Mawar dengan menjalani rutinitasnya seperti biasa. Tapi menjelang sore saat meliwati koridor untuk membersihkan lantai disana, Mawar tanpa sengaja melihat pemandangan yang membuat hatinya panas. Farid terlihat sedang sibuk mengerjakan sesuatu didepan layar komputer. Tepatnya Farid sedang berada di ruangan divisi marketing. Dan di sekitarnya, para gadis mengerubutinya dan nampak berlomba mencari perhatiannya.


Melihat itu entah mengapa Mawar merasa tidak terima. Lalu munculah ide licik di kepala Mawar. Mawar lalu secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya dan membereskan alat-alat kerjanya. Setelah itu Mawar pergi ke pantry dan menyeduh secangkir kopi lengkap dengan creamernya.


Mawar lalu kembali ke ruangan divisi marketing dimana tadi Farid berada. Dan seperti dugaannya, Farid masih terjebak diantara pegawai divisi Marketing yang sebagian besar adalah perempuan.


Dengan percaya diri Mawar berjalan masuk menghampiri Farid, lalu meletakkan cangkir kopi di depan Farid.


"Silahakan diminum Mas Farid, pasti haus kan kan dari tadi kerja terus..."


Mawar bisa melihat beberapa pasang mata memandangnya dengan tidak suka. Mawar merasa semakin tertantang untuk meneruskan aksinya.


"Oh ya, Mas Farid nanti pulang jam berapa?", lanjut Mawar memulai obrolan.


Farid nampak terkejut dengan pertanyaan Mawar. Tapi kemudian tersenyum dan menjawab dengan santai.

__ADS_1


"Pulang habis maghrib sepertinya, ada apa Mawar?"


Gadis-gadis di sekitar Farid semakin kesal melihat Mawar yang sok akrab pada Farid, dan memandang Mawar dengan tatapan jijik. Tapi Mawar tidak peduli, karena memang itulah tujuannya.


"Boleh nanti aku pulang bareng? dompetku ketinggalan tadi, jadi nggak ada uang untuk naik busway..."


Mendengar itu Farid hanya tertawa.


"Ok, nanti aku samperin ke pantry kalau kerjaan aku udah beres..."


Mendengar jawaban itu, para gadis di sekitar Farid kembali membelalakkan mata tak percaya.


"Yaudah Mas Farid, kalau begitu aku pamit dulu, mau kerja lagi.. sampai ketemu nanti ya Mas..."


Mawar segera berlalu dengan diiringi tatapan iri dan sinis para karyawan marketing disekitar Farid.


Mawar sendiri sebenarnya juga tidak menyangka bahwa Farid akan merespon permintaannya dengan baik.


Di waktu yang dijanjikan Farid benar-benar datang ke pantry, untuk mengajak Mawar pulang bersama.


"Ayo pulang, udah siap?"


Mawar terkesiap, lalu buru-buru berdiri ketika menyadari Farid sudah datang.


"Eh Mas Farid, udah kok Mas, ayo kita pulang..."


Mawar mengikuti Farid berjalan menuju parkiran.


Sepanjang langkah itu mereka hanya saling diam. Ternyata keberanian Mawar memprovokasi para gadis yang coba mendekati Farid berbanding terbalik dengan keberaniannya memulai percakapan saat mereka sedang berdua. Suasana canggung jelas amat kentara. Bagaikan dua orang asing yang berjalan bersama.


"Ayo naik, nanti keburu malam..."


Mawar menurut naik ke atas motor, masih tanpa bicara.


Farid sendiri merasa heran dengan sikap Mawar, tapi Farid membiarkannya saja karena tak bisa dipungkiri dia merasa senang bisa kembali bertemu dan berinteraksi dengan Mawar.

__ADS_1


Farid melakukan sepeda motornya perlahan. Akhirnya moment seperti ini bisa terulang lagi. Dia kira semuanya sudah berakhir saat dia meninggalkan GAYA.Corp. Tapi ternyata takdir justru membawanya kembali. Dan entah apa yang akan terjadi di depan nanti. Satu hal yang Farid tahu, ternyata meski hatinya pernah tersakiti, entah mengapa dia masih merasa senang untuk sekedar bisa berdekatan dengan Mawar.


__ADS_2