Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 77


__ADS_3

Setelah melalui berbagai macam perdebatan dan diskusi yang cukup menguras energi, akhirnya jelita dan Farid sepakat untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana dengan mengundang teman-teman dan keluarga terdekat saja.


Tapi ternyata perdebatan mereka bukan sampai disitu saja. Sebab dalam prakteknya, mereka masih terus berdebat tentang berbagai detail acara akad dan resepsi nantinya.


"Aku mau dekorasi nanti warnanya serba ungu ya Mas Farid, terus bunga-bunga nya dibanyakin..."


"Waduh, kenapa nggak warna yang netral aja sih sayang?"


"Nggak mau, ungu itu warna kesukaanku Mas Farid, dari dulu aku udah punya cita-cita kalau nikah harus serba ungu baju dan dekorasinya..."


"Yaudah deh terserah..."


Farid akhirnya mengalah. Mereka lalu pergi ke sebuah butik untuk mencoba baju pengantin bernuansa ungu. Jelita sangat antusias, sementara Farid hanya memasang wajah datar.


"Senyum dong, masak mau nikah nggak seneng sih Mas Farid?"


Akhirnya Farid tersenyum demi membuat Jelita senang.


Setelah mencoba baju Farid mengajak Jelita ke sebuah cafe untuk makan malam.

__ADS_1


"Mawar, aku punya satu permintaan sama kamu?"


Ya, Jelita meminta agar Farid tetap memanggilnya Mawar seperti sebelumnya.


"Apa itu Mas Farid?"


"Setelah menikah, apa kamu mau tinggal dirumahku bersama Ibuku, tidak mungkin aku meninggalkan Ibuku sendirian di rumah..."


"Ya Mas Farid..."


Tanpa berfikir panjang Jelita langsung setuju. Jelita tahu banyak cerita dimana menantu yang tidak cocok dengan Ibu mertuanya. Tapi entah mengapa, sejak pertama kali berjumpa Jelita langsung merasa nyaman dengan Ibu dari Mas Farid. Jelita merasa menemukan kasih sayang Ibunya yang sudah tiada. Dan lagi pula, mereka tidak punya pilihan lain bukan?


"Terimakasih banyak Mawar, aku kira kamu akan keberatan..."


"Ya, insya Allah, semoga nanti kamu bisa nyaman tinggal dirumahku yang sederhana. Kalau soal Ibu kamu bisa tenang, karena Ibuku tipe orang yang akan baik ke semua orang apalagi ke keluarga, semoga saja tidak akan ada masalah di kemudian hari, karena aku sayang kamu dan juga sayang Ibuku..."


Mendengar ungkapan Farid yang sederhana membuat hati Jelita meleleh.


"Ayo dimakan Mawar..."

__ADS_1


Jelita menyantap makanannya untuk menutupi kegugupan.


"Mas Farid..."


"Ya?"


"Setelah menikah, aku tetap boleh bekerja kan?"


"Tentu saja boleh, hanya saja aku ingin kita hidup dengan uangku...."


"Terus uangku nanti buat apa?"


"Ya buat kamu sendiri...kamu simpan untuk keinginanmu, tapi kebutuhan rumah tangga harus aku yang tanggung..."


"Baik Mas Farid..."


Jelita mengerti kalau Farid ingin menjaga harga dirinya sebagai laki-laki. Setelah membicarakan banyak hal akhirnya Farid mengantarkan Jelita pulang ke apartemennya. Jelita sudah jujur tentang semuanya. Jadi Farid juga sudah tahu tempat tinggalnya yang sebenarnya. Meski begitu Jelita tetap senang dibonceng naik motor kemanapun oleh Mas Faridnya.


Rencananya mereka akan menikah tiga bulan lagi. Diam-diam Farid memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melamar kerja di perusahaan lian. Rasanya agak aneh jika nanti dirinya menikah dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Lagi pula Farid tidak ingin mendengar gosip-gosip miring yang mungkin akan berhembus saat pernikahan mereka diumumkan. Untunglah Farid segera diterima di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang IT, sesuai kemampuannya.

__ADS_1


Rencananya pernikahan mereka akan dilakukan diam-diam supaya lebih sakral, baru setelah rangkaian acara pernikahan selesai, Jelita akan mengumumkan pernikahannya ke publik untuk menghindari fitnah.


Baik Farid maupun Jelita sama-sama sudah tidak sabar. Semoga saja semua berjalan dengan lancar.


__ADS_2