
Jelita masih terpaku ditempatnya setelah panggilan itu terputus. Apa yang baru saja di dengarnya benar-benar seperti mimpi. Jelita mencubit pipinya berulang kali. Terasa sakit. Jadi ini benar-benar bukan mimpi? Masih terekam jelas di benaknya kata-kata yang baru saja diucapkan Farid.
Ah sepertinya laki-laki itu sedang tidak waras. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menghubunginya dan langsung melamar. Padahal selama ini cukup lama mereka tidak berkomunikasi dan Jelita sudah mengubur rapat-rapat harapan yang sempat bersemi di hatinya. Yah, walaupun sesekali Jelita masih kepo dengan kehidupan Farid dan mengenang kebersamaan mereka yang sempat viral.
"Je..je...lo ngapain bengong disitu terus?"
Tadi Diara tahu bahwa Jelita menyingkir untuk menerima panggilan telepon. Diara cukup tahu diri untuk memberi ruang pada Jelita dan tak mengusik privasi sahabatnya. Tapi saat hari beranjak malam dan Jelita tak kunjung masuk, Diara akhirnya memutuskan untuk menghampiri Jelita. Dan yang dilihatnya Jelita sedang berdiri mematung entah memikirkan apa.
Sapaan Diara menyadarkan Jelita dan membawanya kembali ke realita.
"Eh, sorry Di, gue cuma lagi kurang fokus, masuk yuk disini banyak nyamuk!"
Jelita langsung masuk, melewati Diara yang berdiri di depan pintu.
Diara berdecak kesal dengan tingkah sahabatnya, tapi tak urung mengikuti langkah Jelita.
"Siapa sih Je yang malam-malam gini nelpon dan bikin lo jadi aneh begini?", tanya Diara dengan penasaran.
"Gue cuci muka dulu ya? abis itu kita ke kamar dan gue bakal cerita semuanya..."
Jelita memang sedang butuh seseorang untuk berbagi dan dimintai pendapat Dan Diara adalah orang yang paling tepat.
"Ok deh, gue tunggu di kamar ya, jangan lama-lama..."
__ADS_1
"Ok Bos..."
Jelita ke kamar mandi, menggosok gigi dan membersihkan seluruh badannya. Setelah itu Jelita langsung masuk ke kamar Diara.
Disana Diara sudah memunggu sambil menahan kantuk.
"Buruan ceritanya, gue keburu ngantuk nih!"
"Iya..iya...nggak sabaran banget sih..."
Dan kemudian meluncurlah cerita lengkap dari Jelita tentang pesan singkat dan panggilan yang baru saja diterimanya.
"Gila tuh cowok, sekalinya nongol langsung nglamar aja! Gue jadi curiga deh Je, gimana kalau dia ada maksud tertentu?"
"Iya juga yah Di, gue jadi bingung, tapi gue penasaran!"
Tapi mendengar pendapar Diara, Jelita jadi ikut waspada.
"Jadi gue harus gimana dong Di? Apa perlu kita sewa mata-mata buat cari tahu apa maksud dia yang sebenarnya?"
"Yah Je, nggak seru banget hidup lo! Dikit-dikit sewa orang buat cari tahu!"
"Terus gimana dong Di?"
__ADS_1
"Kenapa nggak kita aja yang cari tahu sendiri?"
"Maksud lo?"
"Ya kita pulang aja ke kampung lo, terus buktiin apa si doi dateng beneran nglamar lo atau nggak? Nah habis itu lo tanya deh apa maksud dia sejelas-jelasnya!"
"Iya juga ya Di, kok gue jadi bego sih!"
"Ya gitu deh Di, orang bego sama orang lagi jatuh cinta emang tipis bedanya..."
"Sialan lo!"
"Ok deh, kalau gitu, gue bakal ambil cuti buat pulang kampung..."
Jelita merasa ada sesuatu yang kurang. Jelita berpikir dengan pandangan menerawang sampai kemudian menemukan jawabannya.
"Yah Di, kalau gitu bisa gagal dong rencana healing kita. Padahal rencananya gue ambil cuti mau healing sama lo!"
"Ya nggak papa lah, anggap aja pulang kampung sekalian healing lagian gue juga penasaran sama kampung lo!"
"Bentar..bentar, emangnya gue mau ngajak lo pulkam?"
"Ya harus dong Je, gue harus ikut buat jagain lo, gimana sih!"
__ADS_1
"Dasar alibi, bilang aja lo emang mau piknik!"
Dan begitulah akhirnya keesokan harinya Jelita benar-benar mengirimkan alamat lengkapnya kepada Farid.