
Pagi harinya, Helmi mempersiapkan dirinya untuk ke kantor. Helmi datang ke perusahaan dengan menggunakan kacamata hitam. Dan bahkan saat rapat, dia tetap tidak melepaskan kacamata itu sehingga membuat para direktur heran melihatnya.
Rapat sudah selesai. Helmi berada di ruangannya dan sedang memeriksa luka kecil di atas alis kirinya. Ternyata Helmi memakai kacamata untuk menyembunyikan luka tersebut.
Ketua/Oma tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Helmi dengan Ben. Helmi yang duduk membelakangi pintu tidak menyadari kalau yang masuk adalah ketua dan mengira itu adalah Ben.
Ben memberitahu kalau ketua ada di sini. Dan Helmi dengan panik segera berbalik dan menyapa ketua. Dia juga segera melepas kacamatanya dan Ketua dengan jelas melihat plester kecil di atas alis Helmi.
Ketua bertanya mengenai luka tersebut, "Apa yang terjadi hingga membuat cucu Oma terluka?" Sambil memegang luka Helmi.
Ben dan Helmi bingung menjelaskannya. Ben malah menjelaskan, "Luka itu di dapat di bar kemaren malam karena pukulan Ketua."
Ketua kaget. Dia salah paham kalau Helmi berkelahi dengan seseorang di bar. Ketua mulai marah-marah. "Helmi, cucu Oma harusnya kau tidak mendapat luka ini menyangkut image perusahaan. Kau terluka maka wartawan akan menulis yang aneh-aneh dan berimbas kepada saham perusahaan kita."
"Maaf Oma, Saya salah." Helmi hanya bisa meminta maaf.
__ADS_1
Ketua akhirnya mulai memberitahu maksud kedatangannya. Dia ternyata kesulitan dan tidak bisa menemukan Raditya. Ketua mulai marah lagi pada Ben dan pengawalnya yang tidak bisa membawa Raditya untuk datang bekerja.
Helmi dengan tenang menjawab, "Tenang Oma, Saya sudah punya rencana yang akan membawa Raditya datang bekerja. Saya butuh waktu beberapa hari."
Ketua bertanya rencana Helmi, "Apa yang kau rencanakan?"
Helmi menjelaskan, "Saya sudah menemukan masalah psikologis Raditya." Oma mengkerut kan dahinya mendengar jawaban Helmi.
Ben memberi kode kepada Helmi untuk tidak memberitahukan hal itu (mengenai Lina) tetapi Helmi terus berbicara. Ben pura-pura batuk.
Ben meminta maaf, "Maaf, Saya terkena demam dan flu karena kerja lembur."
Ketua menyuruh Ben untuk ke RS saja dan jangan datang bekerja karena penyakitnya bisa menular. Ketua sendiri akhirnya menyerahkan semua rencana ke tangan Helmi dan memintanya jangan mengecewakannya. Oma lalu pergi meniggalkan ruangan Helmi.
Ben sendiri masih berpura-pura batuk. Helmi segera berbalik dan menggunakan saputangannya untuk menutup hidung dan mulutnya. Dia memerintahkan Ben untuk segera mencari Raditya. Ben sedih, tidak jadi pulang cepat.
Di apartemen Helmi, Lina akhirnya bangun setelah terjatuh ke lantai. Lina bingung melihat sekitarnya yang asing dan bajunya yang sudah berganti. Seperti jubah mandi. Lina bangkit dan berkeliling melihat sekitar ruangan. Dia sangat kagum melihat rumah yang besar, akuarium dan kulkas yang penuh dengan minuman.
__ADS_1
Lina mengambil sebuah botol minum. Selesai dia minum, perutnya tiba-tiba sakit. Dia segera berjalan cepat dan mencari kamar mandi. Namun, di lantai 1 tidak ada. Lina berlari panik menuju ke lantai 2 mencari kamar mandi. Dan akhirnya dia menemukan kamar mandi.
Sebelum masuk kamar mandi, dia menemukan pakaiannya berada di tong sampah. Lina heran melihatnya dan mulai mengingat.
Dia ingat saat Helmi menemuinya di bar dan menawarkan pekerjaan. Dia juga ingat saat dia memarahi Helmi dan memecahkan botol bir. Dia juga ingat saat dia muntah di baju Helmi.
Lina berteriak kesal karena mengira Helmi telah melihat tubuhnya. Tetapi, perutnya masih sakit dan dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
_________________________________________
Terima kasih sudah membaca, Reader.
Jangan lupa like dan komen.
_________________________________________
__ADS_1