PASANGAN TERBAIKKU

PASANGAN TERBAIKKU
Apa ini salahku?


__ADS_3


Di ruang desain, semua orang sedang sibuk, ada yang bergosip masalah yang terjadi pada hari ini sambil melihat ke Renatta. Renatta menganggap nya dengan cuek, dia tetap menggambar di bukunya. Renatta tidak menunjukkan rasa bersalahnya.


Sekretaris Anita datang ke ruang desain. Dia mencari Lina, tetapi Lina tidak ada. Dia menunggu Lina di ruangan desain sampai Lina datang. Setengah jam kemudian, Lina datang.


"Nona Lina, Kamu di minta ke ruangan bos Helmi sekarang." Sekretaris Anita berdiri dari kursi Lina dan mengajak Lina.


Renatta mendengar dan melihatnya tidak suka, Lina dan Sekretaris Anita pergi ke ruangan Helmi.


Di ruangan Helmi, Helmi sedang berbicara kepada Ben, "Kemana dia? Apa dia hantu yang bisa menghilang kapan saja? Kenapa Kau tidak meneleponnya?" Helmi mengajukan banyak pertanyaan.


Ben menjawab, "Aku sudah mencarinya tapi tak menemukannya, Aku tidak mempunyai nomor teleponnya. Aku pergi ke ruang SDM untuk mencari nomor ponselnya. Berkasnya hanya tertulis nomor rumahnya sedangkan nomor ponselnya kosong."


Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu ruangan Helmi. Ben membuka pintunya. "Akhirnya." Ben lalu keluar ruangan sambil mengelus dada.


Lina masuk ke ruangan, heran melihat tadi sikap Ben tidak seperti biasa.


Helmi menyapa Lina, "Akhirnya Kamu muncul juga."


Lina menanyakan mengapa mencarinya, dia memberitahu Helmi kalau dia dari luar karena mengurus keperluan Raditya. Lina menjelaskan karena takut di omel Helmi.


Helmi memberikan print-an ulasan pelanggan di produk mereka, "Produk ini menimbulkan masalah sehingga begitu banyak pengaduan. Kamu bisa menjelaskan masalah ini?"


Lina menjawab pertanyaan Helmi "Masalahnya ukurannya tidak pas, bahannya tak nyaman, lingkarannya tak enak. Aku tahu akan seperti ini."


Helmi bingung dengan perkataan Lina dengan dia bilang sudah tahu. Helmi meminta Lina menjelaskan.


Lina hanya menjawab, "Iya ini sudah ku perkirakan dari awal bakal jadi seperti ini."


Helmi mulai marah mendengarnya, "Kamu tahu produknya cacat tapi tak coba menghentikan dan tetap melanjutkan, benar?" Helmi mendekat ke Lina, "Aku sudah jelaskan. Betapa pentingnya peranmu dan bagian ini."


Lina hanya diam, kaget dengan ucapan Helmi yang tiba-tiba menyudutkan dia.


"Apa kamu dengar kata-kata ku?" tanya Helmi.


"Aku sudah beritahu Renatta masalah ini tetapi dia tidak mendengarnya," lirih Lina.


"Jangan limpahkan tanggung jawab mu kepada orang lain. Kamu orang yang bertanggung jawab di departemen desain. Kalau punya logika dan tanggung jawab hal ini tidak akan terjadi," bentak Helmi.

__ADS_1


"Kamu salah, orang yang memutuskan Raditya. Aku sudah memperingatkan dan menghentikannya, tapi dia tidak mau dengar," sambung Lina menjelaskan bukan salah dia.


Helmi berbalik dan memukul dinding, "Apa ini penjelasan mu?"


Lina menjawab, "Lalu Aku harus bagaimana? Dia bos ku di atasan langsungku. Dia bersikeras dengan keputusan nya dan keras kepala. Kamu ingin aku benturkan kepalaku ke dinding di hadapannya?"


Helmi berbalik menghadap Lina, "Dari perkataan mu, Kamu berpikir Aku memperlakukanmu tak adil di sini?"


"Iya Aku merasa begitu. Lalu Aku harus bagaimana? Apalagi yang harus Aku jelaskan. Jika ingin mendapatkan penjelasan, ini tanggung jawab Raditya," ucap Lina.


Helmi mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Lina, "Harusnya Kamu lapor ke Saya apabila ada masalah begini." Lina menjauh dari Helmi.


"Aku tak mendapatkan email ataupun berkas dari Kamu tentang kesalahan desain ini. Apa Aku tak punya hak untuk tahu?"


"Kamu harus letakkan tanganmu di dada mu dan tanya dirimu sendiri, kalau Kamu memberikan yang terbaik untuk pekerjaan ini. Bekerja lah dengan hati," Helmi mencotohkan.


Helmi terus berbicara, "Masalah ini membuat rugi banyak perusahaan. Aku juga di salahkan, ini salahku mempekerjakan Kamu di posisi ini."


Lina hanya diam tidak berani berbicara.


"Kamu bisa pergi sekarang," ucap Helmi.


Lina pergi meninggalkan ruangan Helmi dengan mata berkaca-kaca dan tanpa berkata apapun, saat keluar ruangan Lina bertemu dengan Raditya.


"Ini semua salahmu, Dit." Raditya melepaskan tangan Lina. "Andai Kamu kemaren mengikuti mau ku, masalah ini tidak bakal terjadi," ucap Lina.


Raditya memberikan sapu tangannya kepada Lina untuk menghapus air matanya.


"Kak Helmi memarahi mu karena masalah itu?" ucap Raditya dengan lembut.


Lina menjawab, "Sudahlah Dit, Aku malas membahasnya. Kamu tanya Kakakmu saja. Aku harus kembali ke ruangan ku. Banyak pekerjaan menungguku." Raditya membiarkan Lina pergi.


Raditya masuk ke ruangan Helmi dan bertanya ada masalah apa? Sehingga kakaknya begitu emosi kepada Lina.


Helmi memberikan laporan produksi lingerie tersebut dan print-an ulasan produk tersebut. Raditya membaca semuanya.


Setelah membaca Raditya berbicara kepada kakaknya, "Sebenarnya ini salahku Kak. Kemaren Lina sudah menjelaskan masalah kesalahan desain tetapi Aku tidak mendengarnya. Walau produk ini tidak berhasil, produk lain masih membuat untung kita."


"Produk ini membuat rugi kita 2 miliar, Dit." Helmi menunjukkan jumlah pengeluaran produksi ke Raditya. "Bukan itu saja nama kita bisa jelek di pelanggan, itu bisa menurunkan image Bulan Online untuk ke depannya"

__ADS_1


"Keuntungan kita dari produk lain lebih dari itu Kak. Atau potong saja gaji ku selama kerja di sini. Masalah image nanti kita pikirkan Kak. Aku minta, Kak Helmi jangan menyalahkan Lina lagi," bela Raditya.


"Lain kali Kamu jangan mengambil keputusan sepihak, Kamu harus bertanya dulu. Masalah gaji, akan Kakak potong sebanyak 50% selama lima tahun untuk menutupi kerugian kita," ujar Helmi.


Raditya mengakui kesalahannya, "Siap Kakakku yang paling ganteng dan baik hati, masalah gaji tidak gajian juga tidak apa-apa. Aku ada pendapatan dari ambasador produk iklan."


"Kakak akan menurutimu, Kamu tidak akan mendapatkan gaji sampai lima tahun ke depan," kata Helmi.


Lalu mereka tertawa bersama.


Raditya masih di ruangan Helmi dia teringat muka sedih Lina tadi, dia berinisiatif memesankan Lina seblak pedas. Helmi masih sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.


Kurir makanan datang, membawakan pesanan Raditya. Raditya izin ke Helmi ke luar ruangan. Raditya pergi ke ruang desain membawakan Lina makanan tersebut.


"Ada apa lagi, Dit?" tanya Lina yang sedang sibuk bekerja.


"Ini Aku bawakan seblak pedas level 5." Raditya menaruh bungkusan tersebut di meja Lina. "Kata orang makan pedas bisa menghilangkan kesedihan," kata Raditya.


Kina tersenyum dan melihat makanan tersebut, "Terima kasih ya Dit. Nanti Aku coba," ucap Lina.


Raditya melihat Lina sedang sibuk, dia pamit ke ruangannya dahulu.


Malam harinya, Lina pulang kerja dan mampir dahulu ke minimarket dekat apartemen. Lina membeli banyak minuman soda dan cemilan.


Lina duduk di taman apartemen. Dia duduk sambil meminum soda. Lina terbayang keadaan tadi siang saat di ruangan Helmi. Lina juga mengingat ucapan Helmi di kantor.


Lina meletakkan tangannya ke dada mengingat ucapan Helmi yang bekerja dengan hati. Dia merasa bersalah karena tidak mengabari Helmi saat itu.


"Hei, sedang apa Kamu di sana," terdengar suara laki-laki menegur Lina.


Siapa yang datang?


a. Helmi


b. Raditya


c. Satpam


d. Tidak ada jawaban di atas. 😂

__ADS_1


Reader jangan lupa like dan komen.



__ADS_2