PASANGAN TERBAIKKU

PASANGAN TERBAIKKU
Cemburu?


__ADS_3

Raditya sedang apa iya di ruangannya? Main game atau tidur? hehe..



Ben masuk ke ruangan Raditya, ruangan Raditya berbeda dengan ruangan Helmi. Ruangan Raditya penuh warna, banyak lukisan atau fotografi yang terpampang di dinding ruangannya.



Di dalam ruangan, Raditya sedang bermain game di handphone. Ben menunggu Raditya, berharap Raditya menegur dia yang sedang membawa berkas. Ben duduk di sofa yang berada di ruangan Raditya. Ben sabar menunggu sambil melihat-lihat majalah yang ada di meja tamu Raditya.


Sudah lima belas menit berlalu, Raditya masih bermain game di handphonenya. Akhirnya Ben mendekat dan menegur Raditya, "Bos, maaf menganggu." Ucap Ben menaruh berkas nya di dekat Raditya.


Raditya menjawab walaupun matanya tetap tertuju kepada handphonenya, "Iya, ada apa? Ada yang harus aku kerjakan?" tanya Raditya.


Ben menelan ludah karena dia harus sabar dengan bosnya yang satu ini, "Maaf bos, ini ada berkas yang harus di tandatangani. Kebetulan bos Helmi sedang berada di luar," ucap Ben.


"Oh iya, kakak sedang berada di luar kota dengan Lina." Raditya berhenti bermain handphone. "Astaga aku baru sadar, jadi mereka pergi berdua saja? Aku kira kamu ikut, Ben?" Raditya kaget, kakak nya hanya pergi berdua dengan Lina.


Ben yang mendengar perkataan Raditya juga ikut kaget dan melotot, "Apa? bos pergi berdua saja dengan Lina? Apa bos ku bisa makan dan tidur nyenyak? Mengapa aku tidak di beritahu dia? " Ben memasang muka sedih.


Raditya berdiri dengan posisi menghadap keluar jendela kaca, dia memegang dahinya. Raditya bertanya kepada Ben, "Apa Helmi tidak bilang ke kamu, Ben?" Ben menggelengkan kepala nya.


"Ini bukan seperti bos biasanya. Biasanya dia selalu memberi kabar kepada diriku." Ben menunduk sambil memegang wajahnya.


Raditya gelisah, mungkin di hatinya merasa cemburu melihat Lina pergi dan harus menginap di luar kota bersama kakaknya. Raditya meminta Ben menelepon kakaknya. Tapi Ben tidak berani, malah meminta Raditya yang menelpon kakaknya.


Raditya mengambil handphone nya di atas meja, lalu menelepon Helmi. Sudah menelpon sebanyak 5x tetapi Helmi belum mengangkatnya.


Ben melihat sikap Raditya menjadi penasaran, "Bos Radit kenapa kau begitu gelisah? Mereka pasti kembali dengan aman. Bos jangan takut," Ben menenangkan Raditya.


"Apa Lina baik-baik saja?" Raditya menghadap ke Ben.


"Nona Lina sangatlah kuat seperti wonder woman, dia pasti baik-baik saja. Bos yang harus di pikirkan. Dia tidak bisa makan sembarangan dan tidak bersih, tidak bisa tidur di tempat yang kotor dan pengap, tidak bisa--," Raditya menutup bibir Ben dengan tangannya, menyuruh Ben berhenti berbicara.


Raditya melepaskan tangannya, "Ben, apa kau punya nomor Lina?" tanya Raditya. Raditya baru sadar selama Lina balik, dia belum mempunyai nomornya.

__ADS_1


"Maaf bos, aku tidak punya. Hanya Bos yang mempunyai nomornya. Oups.." Ben menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Dia lupa kalau harus merahasiakannya.


Raditya mendekat ke Ben, "Maksudmu? Cuma kakak yang tau, apa? Cepat ceritakan! Kalau tidak, akan aku bilang ke kakak," ancam Raditya.



Visual Ben yang merasa bersalah karena keceplosan berbicara.


"Jangan bos Radit, aku tau kamu orang yang baik. Aku akan ceritakan, tapi bos Radit jangan bilang ke bos ku." Ben memasang muka memelas berharap Raditya tidak cerita ke kakaknya.


Raditya menjawab, "Iya.. Cepat ceritakan! Aku janji hanya kita saja yang tau." Raditya duduk di sofa dan mengintruksikan Ben duduk di sofa juga.


Ben akhirnya menceritakan kepada Raditya kalau Lina selama ini tidak mempunyai handphone dan baru saja Helmi yang memberikannya.


Awalnya Raditya tidak percaya bagaimana bisa orang jaman sekarang tidak memegang handphone sama sekali.


"Itulah hebatnya Nona Lina," ucap Ben. Dia pun awalnya juga kaget tau Lina tidak punya handphone sejak keluar dari rumahnya.


Raditya berpikir kakaknya memberi handphone kepada Lina agar dirinya dan Lina bisa berkomunikasi lagi. Raditya menganggap kakaknya perhatian kepadanya. Dari awal kerja Raditya sudah berpikir, kalau kakaknya akan membantu memperbaiki hubungannya dengan Lina.


Ben yang mendengar cerita Raditya hanya tersenyum, dia takut salah berbicara lagi seperti tadi. Ben melihat jam dan meminta Helmi untuk mengerjakan pekerjaan tadi, yaitu menandatangani berkas-berkas.


Ben yang melihatnya bingung dan bertanya, "Bos, kamu tidak membacanya dulu? Siapa tau ada yang salah?"


Raditya dengan santai menjawab, "Masuk perusahaan sini sangatlah sulit. Aku percaya dengan kemampuan pegawai di sini."


Ben tersenyum kecil, "Beda sekali dengan bos Helmi yang begitu detail membaca satu-satu setiap kata di berkas," gumam Ben.


Raditya sedang menandatangani berkas-berkas. Ben melihat-lihat lukisan dan foto alam hasil jepretan di ruangan Raditya.


Setelah Raditya selesai menandatangani, dia melihat Ben yang sedang melihat-lihat ruangannya. "Ada apa Ben? Ramai iya, di sini? Berbeda dengan ruangan kakak."


"Iya bos, di sini ruangannya begitu full color. Tidak salah bos menaruh bos Raditya di bagian produksi desain. Bos sepertinya sangat suka dengan seni-seni." Ben selesai melihat-lihat lalu duduk di kursi depan Raditya.


"Sebenarnya aku tidak suka dengan bisnis ini, aku lebih suka dengan seni-seni. Itu semua adalah hasil karyaku," ucap Raditya.

__ADS_1


Ben hanya bilang sabar dan semua pasti sudah di rencanakan Allah, lebih baik kita mengerjakan yang sudah ada di depan mata dulu.


Raditya tersenyum kecil mendengar ucapan Ben.


Ben izin keluar, karena harus mengembalikan berkas-berkas ini ke pemiliknya. Ben pergi keluar ruangan Raditya.


Setelah Ben keluar, Raditya me nge-chat Aurel.


Raditya : Sayang, kamu sedang sibuk?


Aurel : Tidak juga, cuma lagi siap-siap hadir di acara daerah X.


Raditya : Bisa telponan?


Aurel : Bisa sayang.


Raditya langsung menelepon Aurel.


📞Aurel : Ada apa sayang?


📞Raditya : Rel, kemaren kakakku hanya datang berdua dengan Lina?


📞Aurel : Iya, mereka hanya berdua. Apa mereka berdua sepasang kasih?


📞Raditya : Tidak Rel. Kenapa kamu bisa bertanya begitu?


📞Aurel : Iya juga sih, mana mungkin kakakmu mau sama tukang jiplak itu. Kemaren kakakmu sangat membela itu cewek. Kalau di ingat kesel banget.


📞Raditya : Apa? Kakakku membelanya?


📞Aurel : Iya, dia juga menggenggam tangan cewek itu saat keluar.


📞Raditya : Hah? Sudah dulu ya, Rel. Nanti aku telepon lagi. Muach..


Raditya melempar handphonenya ke meja, "Apa kakak suka dengan Lina? Bagaimana bisa kakak yang tidak pernah menyentuh orang, bisa menggenggam tangan Lina? Apa kakak mau mengambil hati Lina untuk mendekatkan ku lagi dengannya? Arghhh.." Raditya memegang rambutnya sambil berpikir.

__ADS_1


Reader setia Pasangan Terbaikku jangan lupa komen dan like.. Di vote juga boleh. hihi.



__ADS_2