
Akhirnya Renatta kejahatannya terungkap, berkurang musuh Lina hehe.
Yuk baca selanjutnya.
Akbar membuka notebook nya, lalu membuka hasil rekaman dari CCTV . Di dalam rekaman ada wanita memakai setelan berwarna merah muda membawa tas. Dia menuju ke manekin yang terdapat desain Lina. Dia mengeluarkan bahan kupu-kupu, jarum dan benang lalu menjahitnya, menggabungkan kupu-kupu tersebut dengan karya Lina.
Aurel menampar Renatta, "Mengapa kau melakukan itu? Kamu jahat sekali!" kesal Aurel.
"Dia menginginkan Nona Lina di pecat. Saat itu kamu juga yang membuat Nona Lina di tuduh penjiplak." Helmi berbalik badan, lalu menghadap ke Renatta.
Renatta membela dirinya, "Bos Helmi, waktu itu kamu juga berada di sana. Melihat sendiri kejadiannya, mengapa sekarang kamu malah menuduh ku. Jelas-jelas dia yang menjiplak. Bos sendiri yang membuat dia di pecat. Mengapa sekarang berbeda?" Renatta mulai panik.
"Itu dulu kesalahanku. Sekarang aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku dulu. Aku sudah memeriksa semua, ternyata dia bukanlah penjiplak." Ben memberikan kertas sketsa kepada Helmi. "Ini adalah gambaran sketsa dari Nona Renatta." Ben memberikan kertas kedua ke Helmi. "Ini adalah gambar print-an yang dia bawa saat interview." Ben memberikan kertas ketiga. "Ini adalah desain dari Nona Lina." Helmi memberikan semua kertas kepada Raditya.
Raditya melihat kertas sketsa ketiganya, dan memperlihatkan ke kamera yang sedang siaran langsung. Helmi juga memberikan LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) dari Grafologi. Di LHP membuktikan kalau gambar yang dibawa Renatta saat interview adalah bukan gambar dari orang kidal seperti dirinya.
"Kamu mencuri hasil desain Nona Aurel, menuduh temanmu berbuat begitu, kamu juga hampir membuat kerja sama dengan Nona Aurel batal, dan kamu berbohong saat interview kalau itu adalah hasil karyamu. Kamu sudah melakukan kesalahan yang banyak dan fatal, aku sebagai bos di sini akan memecat mu sekarang juga!" bentak Helmi.
Renatta menangis, dia memohon kepada Raditya agar dirinya tidak di pecat. Raditya mengalihkan wajahnya. Akhirnya Renatta pergi meninggalkan semuanya dengan menahan rasa malu.
Helmi mendekat ke arah Aurel, "Nona Aurel, karena saya bos di sini, saya meminta maaf karena kelalaian saya. Saya harap Nona Aurel tidak memutuskan hubungan kerja sama kita," ucap Helmi.
__ADS_1
"Tenang saja semua. Karena Tuan Helmi yang sudah meminta maaf langsung, aku akan memaafkan dan menganggap semua ini tidak terjadi." Jawab Aurel ingin memegang bahu Helmi, tetapi Helmi menjauh sehingga Aurel tidak jadi memegang bahunya.
"Tapi Nona Aurel," kata Helmi.
"Tapi apa?" sambung Aurel.
Helmi tersenyum dan menghadap ke Lina, "Aku mau Nona Aurel meminta maaf kepada Nona Lina, karena tadi aku melihat Nona Aurel telah menamparnya. Nona Lina tidak melakukan kesalahan apapun, dia hanya korban dari Nona Renatta." Bela Helmi kepada Lina.
Aurel melihat ke arah Raditya, lalu Raditya mengangguk dan mengisyaratkan Aurel untuk meminta maaf ke Lina. "Maafkan aku Nona Lina, tadi aku salah menamparmu," ucap Aurel.
Lina hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca. Dia melihat Helmi sebagai sosok pahlawannya sekarang.
...******...
POV Helmi
Aku menelpon Akbar yang kebetulan, aku menyimpan nomor handphone nya saat itu.
Akbar mengangkat teleponnya, dia mendengar perkataan dan permintaanku. Setelah mendengar perkataan ku, Akbar menyetujuinya.
Masalah Akbar selesai, Aku memanggil Ben dan meminta gambar sketsa Lina dan Renatta di bawa ke ahli Grafologi.
H-3 pameran, Akbar datang. Kami bertemu di luar kantor dan aku mengantarkannya ke sebuah hotel. Aku memintanya besok malam untuk ke Mall untuk memperbaiki CCTV nya.
__ADS_1
H-2 pameran, Aku, Ben dan Akbar ke Mall pada malam hari untuk memperbaiki CCTV yang rusak. Setelah selesai aku meminta Akbar untuk memantau terus dari kamar hotelnya.
H-1 pameran, LHP dari ahlinya keluar. Ben membawakan hasilnya, saat aku membacanya aku sudah menduga hasil nya bakal seperti ini.
Saat hari pameran tiba, pagi-pagi aku dan Akbar bertemu. Dia melihatkan hasil rekaman CCTV yang dia lihat. Aku sedikit terkejut, tidak menyangka ada orang yang jahat sekali dan bekerja di perusahaan nya.
Aku bersembunyi tapi tidak begitu jauh dari mereka yang sedang memamerkan hasil karya nya. Aku lihat Lina di tampar dan terpojok. Adikku, Raditya juga tidak bisa membela Lina. Dia tidak mempunyai bukti kalau Lina tidak bersalah. Renatta semakin menjadi tak tau malu, akhirnya aku keluar karena tidak tega melihat Lina yang ingin menangis.
Aku mendekat ke mereka, menjelaskan semua. Renatta juga tidak menyadari kesalahannya, dan meminta maaf kepada Lina. Aku yang sudah sangat jengkel kepadanya, akhirnya aku memecatnya.
Aku juga menyuruh Aurel untuk meminta maaf ke Lina, karena Lina yang sebenarnya menjadi korban saat ini.
...******...
Helmi, Lina, Aurel dan manager nya keluar Mall menuju ke parkiran untuk mengantar Aurel dan managernya ke dalam mobil. Helmi dan Lina berterima kasih karena semua berjalan lancar dan ramai berkat usaha Aurel. Aurel dan manager pun turut senang. Mereka lalu pergi dari Mall Bulan.
Lina memandang Helmi sambil tersenyum, "Bos, terima kasih ya untuk yang tadi. Aku akan mentraktir mu minum kopi. Bagaimana?" Lina mengajak Helmi.
Helmi berjalan tanpa menjawab Lina. Wanita cantik itu menunduk dan tampak sedih. Tiba-tiba Helmi berbalik badan dan menghadap ke Lina, "Kenapa kamu tidak berjala?" Lina yang mendengar ucapan Helmi langsung tersenyum dan berjalan.
Saat Lina berjalan mendekat ke Helmi, tiba-tiba ada mobil melaju ke arah Lina. Lina tidak tahu kalau ada mobil yang mengarah kepadanya.
Waduh siapa ya itu? Apa cuma orang lewat?
__ADS_1
Jangan lupa komen, like dan vote hehe.