
Flashback
Helmi sedang tidur dan merasa heran karena tidak merasakan selimutnya. Dia membuka matanya dan terkejut melihat Lina yang sedang bergulung selimut tertidur di bawah kakinya.
Helmi mendorong Lina turun dari tempat tidurnya. Dia juga memarahi Lina yang sudah menumpang tidur di rumahnya dan sekarang berani masuk ke dalam kamarnya. Dia berteriak memanggil nama Lina agar bangun, tetapi tidak ada jawaban.
Helmi jadi khawatir. Dia melihat Lina yang berkeringat banyak dan curiga jangan-jangan Lina sakit. Dia hendak mengecek suhu badan Lina dengan tangannya tetapi takut kotor. Akhirnya, dia meletakkan tissue di jidat Lina dan baru menyentuhnya. Sangat panas.
Helmi berbicara sendiri kalau Lina sakit itu karena dia terkena karma. Dia bahkan tertawa sinis. Tetapi… ternyata Helmi sedang memotong jahe untuk membuat minuman jahe dan bahkan membuatkan bubur untuk Lina. Dia menyakinkan dirinya kalau dia hanya menolong Lina dan menjadi gentleman.
Helmi memakai sarung tangannya. Dia menyuapi minuman jahe pada Lina Namun, karena merasa kesusahan, dia akhirnya jadi kesal sendiri dan tidak mau menyuapi lagi. Tetapi, Lina yang tidak sadar, meraih tangan Helmi dan menangis sambil bergumam : Ayah, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi.
Hari sudah pagi, dan Helmi menge check suhu tubuh Lina dengan cara seperti kemaren. Meletakkan tissue di dahi Lina, baru menge-check nya. Suhu badan Lina sudah normal. Dan Helmi mulai membereskan segalanya.
Helmi menghela nafas mengingat hal itu.
Lina sendiri baru bangun dan kaget melihat jam di dinding yang sudah pukul 11lewat. Dia mulai bersiap-siap dengan cepat. Lina takut akan dimarahi oleh Helmi karena terlambat datang. Dia tidak ingat kemaren Helmi merawatnya.
__ADS_1
Lina memilih pakaiannya di koper. Dia memilih dengan melempar-lemparkan semua pakaiannya keluar. Dan setelah menemukan yang pas, dia segera menukar pakaiannya dan memakai make-up dengan cepat. Dia segera pergi ke kantor tanpa membersihkan semua barang-barangnya yang berserakan.
*****
Di sebuah desa tampak ada seorang ibu sedang duduk di gazebo depan rumahnya. Dia sedang melamun melihat foto. Foto tersebut foto anaknya dahulu telah tiada. Ibu itu menangis, mengeluarkan air mata perlahan.
(Ibu ini, Ibu yang bertemu Lina dengan anaknya.) Dia mengingat kejadian dulu, di mana anaknya telah tiada.
Seorang remaja bernama Akbar datang. Dia menghibur Ibunya. Ibunya mau bercerita tentang masa lalunya. "Akbar, Ibu ingin cerita tentang Kakakmu."
"Iya Akbar. Dulu sebelum menikah dengan ayahmu, Ibu sudah pernah menikah. Ibu istri kedua di keluarga itu. Mereka menikahkan Ibu dengan pria itu karena istri pertama pria itu belum memiliki anak."
"Terus bu?" Akbar penasaran.
"Ibu melahirkan seorang anak Cowok, mereka sangat senang sekali karena ibu melahirkan anak cowok dan bisa jadi penerus keluarga mereka. Lima tahun kemudian istri pertama pria itu melahirkan juga anak cowok. Kasih sayang mereka berubah ke Kakakmu." Ibu ini bercerita dengan muka sedih.
"Ibu kenapa sedih? Sekarang Kakakku dimana bu?" Tanya Akbar.
__ADS_1
"Kakakmu sudah meninggal, Bar. Waktu itu hujan deras, Kakakmu berebutan mainan dengan adiknya, Ibu tidak mau menimbulkan pertengkaran. Ibu mengajak kakakmu jalan untuk membeli mainan yang sama dengan adiknya. Di saat kita mau menyebrang ke Mall, ada sebuah mobil yang menabrak kita. Ibu waktu itu koma, setelah koma ibu di bawa ke Desa sini dan bertemu dengan ayahmu nak." Ibu menangis.
"Sabar ya bu. Jadi Kakak meninggal karena kecelakaan itu? Sabar ya bu, Insyallah kakak di sana tenang." Akbar mengusap punggung ibunya, memenangkan.
"Keluarga tersebut menjelaskan Kakakmu luka parah dan meninggal."
"Sabar ya bu. Sekarang Ibu minum dulu teh Camelion nya, sudah Akbar buatkan." Hibur Akbar.
"Terima kasih ya Nak." Ibu itu lalu meminum tehnya.
__________________________________________
Terima kasih sudah baca Reader.
Jangan lupa di like dan komen.
___________________________________________
__ADS_1