
Lina mencari siapa yang memanggilnya. Pria berbadan atletis, berambut potongan militer menghampiri Lina, ternyata tetangga apartemen Helmi.
"Hai, kenapa Kamu tidak pergi ke kafe atau bar?" Tegur tetangga tersebut. Lalu dia duduk di samping Lina.
Lina menjawab, "Tidak ada uang."
"Hah, tidak ada uang?" Kaget mendengar jawaban Lina.
"Iya tidak ada uang." Lina mengocek isi kantongnya membuktikan dia tidak ada uang.
Tetangga tersebut tertawa, "Haha.. Kita belum kenalan sebelumnya. Panggil saja Aku, Jerry."
"Lina." Lina memperkenalkan dirinya.
Jerry menanyakan Lina ada masalah apa, karena Lina terlihat sedih dan menyendiri di taman malam-malam.
Lina bercerita kalau dia tadi membuat masalah dan di omelin bosnya. Sekarang dia merenung di sini karena merasa bersalah.
Jerry menenangkan Lina, "Aku pikir ada masalah besar. Itu normal dalam dunia kerja. Kamu harus tau. Hanya karyawan penting yang berhak di marahi oleh bos. Kamu tenang saja."
"Terima kasih iya, Aku baru tahu. Berarti Aku karyawan penting. haha..," balas Lina.
Jerry baru ingat kalau bos Lina itu adalah pacar Lina. Dia menyuruh Lina untuk pulang dan memarahinya balik, karena biasa wanita selalu menang dan pria mengalah.
Lina mengaku dan mengakatakan sebenarnya, "Maaf aku berbohong padamu. Dia bukan pacarku. Aku hanya tinggal di rumahnya."
"Serius?" Jerry kaget mendengar ucapan Lina.
"Serius banget. Maaf, Kamu orang yang baik dan aku bahkan membohongimu," jawab Lina.
Jerry tidak mempermasalahkan bagaimana hubungan antara Helmi dan Lina, karena tidak ada hubungannya dengannya. Jerry memuji dirinya sendiri dengan mengatakan dia pria yang berbaik hati yang pemaaf.
Lina melihat muka Jerry dengan muka datar.
Jerry berkata, "Pria tampan yang Kamu bohongi ini sudah memaafkanmu. Kenapa Kamu masih terlihat begtu menyedihkan?"
Dari kejauhan, Helmi melihat mereka sedang asyik mengobrol.
"Sebenarnya Aku merasa tidak adil. Kenapa hanya Aku yg di salah kan? Tapi aku juga merasa bersalah karena semua yang dia katakan benar. Aku sudah salah bertindak dalam pekerjaan ini.,"kata Lina.
"Sebenarnya tak sesulit itu, Kamu harus berpikir hidup itu tidak seserius yang kamu pikirkan, " ucap Jerry.
"Benar Jer, yang Kamu bilang," kata Lina.
__ADS_1
Tiba-tiba Lina berlari dan Jerry mengejarnya.
Lina berlari ke pinggir jalan melihat papan iklan.
"Ada apa Lin?" Jerry takut Lina bunuh diri karena mendadak lari ke pinggir jalan.
Lina menjawab dia sudah menemukan rencana untuk menebus kesalahannya.
Jerry bertanya, "Secepat itu?"
Di papan iklan itu terlihat gambar Aurel Moere, artis yang bersama Raditya kemaren.
Jerry menunjuk gambar Aurel, "Apa ini yang menjadi inspirasimu?" Lina mengangguk.
Setelah itu,Lina dan Jerry masuk gedung apartemen. Jerry membawakan barang belanjaan Lina. "Apa Kamu tidak makan malam? Ini hanya snack? Kebiasaan ini tidak baik, kau harus merubahnya."
Mereka sudah berada di depan pintu apartemen Helmi.
Lina menjawab, "Aku sudah tahu. Aku malam ini mau tidur sampai larut malam. Terima kasih sudah menghiburku, Jer."
Jerry membalas, "Sama-sama.. menemani wanita meringankan masalah, adalah tugas pria sepertiku. "
Lina tertawa, "Haha.. gombal, ya sudah Aku masuk dulu. Selamat malam."
Sampai di dalam apartemen, Lina tidak melihat Helmi di ruang TV ataupun ruang makan. Lina berpikir Helmi mungkin sedang istirahat di dalam kamar. Setelah mandi, Lina mengeluarkan snacknya dalam plastik dan mengeluarkan laptopnya dari laci.
Lina sangat bersemangat mengerjakan proposalnya. Lina bekerja sambil memakan snacknya, otomatis kamar Lina jadi berhamburan.
Keesokan harinya, Helmi keluar dari kamarnya lalu menuju kamar Lina. Dia mengetok kamar Lina, tapi Lina tidak merespon. Ternyata pintunya tidak dikunci, Helmi lalu masuk ke kamar Lina. Dia sangat kaget melihat kamar Lina yang sangat berantakan.
Bungkus snack dan kertas HVS bertebaran. Helmi mengeluarkan disinfektan dan menyeprotnya.
Helmi memanggil dari depan pintu, "Nona Lina.. Nona Lina.." tetapi Lina tidak bangun juga. Tampak gundukan selimut yang menggembung di atas tempat tidur. Helmi akhirnya mendekat dan membuka selimut Lina, ternyata di dalam selimut hanya boneka.
Helmi melihat buku sketsa Lina yang berada di samping tempat tidur. Helmi membuka buku tersebut, dan melihat desain gaun yang di foto Renatta saat wawancara sama persis dengan gambar Lina.
Hari ini jadwal Helmi memeriksa Mall, karyawan Mall berdiri di depan stand mereka berjaga. Seperti biasa Helmi mengecek satu persatu kebersihan dan kerapian yang ada di mall.
"Hari ini semua baik Bos, tidak ada masalah di mall," ucap Ben. Ben memerintahkan karyawan Mall untuk bekerja kembali.
Helmi masuk ke dalam ruangannnya, tiba-tiba Lina menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.
Helmi mengkerutkan dahinya dan berkata, "Apa Kamu tidak punya tata krama?"
__ADS_1
Lina lalu balik keluar ruangan dan mengketok pintu ruangan Helmi, "Permisi, apa aku boleh masuk?"
Helmi menjawab, "Iya masuklah."
Lina menaruh proposal yang telah dia buatnya di meja Helmi. Helmi melihat ke arah Lina. Lina yang merasa di tatap oleh Helmi, "Ada apa? Mengapa Kamu melihatku begitu?"
"Setiap aku melihatmu, Aku mengingat kiasan 'Buah yang tampak bagus diluar, ternyata di dalamnya sudah hitam.' Kamu mengerti maksudku?"
Lina dengan santai menjawab, "Wow buahkan banyak disukai orang dan menyehatkan. Kamu menyamakan Aku seperti buah, berarti Aku banyak di sukai orang."
Lina mendekatkan wajahnya ke Helmi, "Seorang sepertimu terlahir sebagai pimpinan, Kamu tidak akan paham dengan kesusahan dan kesulitan yang di alami oleh orang seperti kami. Jadi jangan asal berbicara," kata Lina.
Helmi memundurkan wajahnya, "Kamu mengerti kiasan tadi?" Tanya Helmi.
"Iya, Aku tahu. 'Bagian di luar indah namun isinya ya biasa saja.' Itu arti dari pepatah tersebut," jawab Lina.
Helmi berkata, "Tidak peduli seberapa bagusnya buah tersebut seperti penampilanmu, dalam kamarnya tetap berantakan. Apakah semua wanita sepertimu?"
Lina tersenyum, "Maaf tuan pisahkan pekerjaan dan masalah pribadi ini di dalam kantor."
"Aku ingin bilang ada aturan di perusahaan dan di rumah," sentak Helmi.
Lina menutup wajah Helmi dengan berkasnya, "Stop bicarakan masalah rumah nanti setelah pulang kerja." Helmi mengambil berkas yang menutup wajahnya. "Aku mencarimu ingin memberikan proposal ini kepadamu. Tolong lihat lah dahulu," ucap Lina.
Helmi mulai emosi, "Tolong ya Kamu jangan memotong pembicaraan saya, apalagi menutup wajah saya. Saya di kantor adalah bosmu."
Lina menjawab dengan muka tersenyum, "Iya Aku tahu Kamu bosku dan semua perkataanmu benar. Tetapi lihat dulu mana yang harus di prioritas kan, dokumen ku lebih penting daripada urusan rumah sekarang."
Helmi mau berbicara tetapi di tahan Lina, "Tolong dengarkan Aku dulu. Aku memikirkannya semalaman. Kupikir yang kamu katakan memang benar masalah Aku salah bertindak." Lina duduk di kursi ruangan Helmi.
"Itulah mengapa kemaren malam Aku tidur sampai larut malam, karena membuat proposal promosi ini. Proposal ini terkait dengan strategi Bulan Online kita. Jadi mohon pastikan Kamu menyelesaikan membaca dalam sepuluh menit."
Helmi melihat proposalnya. Lina melanjutkan berbicara, "Karena sudah beritahu departemen desain, Kita akan rapat dalam sepuluh menit untuk bahas proposal ini bersama."
Lina berdiri dari tempat duduk, "Ingat datang tepat waktu dalam rapat, dan satu lagi terima kasih sudah jujur atas penampilanku yang cukup baik." Lina mengkedipkan mata lalu keluar dari ruangan Helmi.
Helmi sedikit tersenyum melihat kelakuan Lina.
Readers jangan lupa like dan komen.
Terima kasih 😁
__ADS_1