
...Yuk simak..
...
Lina yang ketiduran di sofa , terbangun dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 04.00. Dia kaget karena bisa ketiduran di ruang tengah. Lina merasa haus lalu mengambil minum di ruang makan. Dia duduk sambil minum, lalu melihat ada kotakan di atas meja makan. Dia melihat gambar kotakan tersebut gambar ayam bakar. Lina membukanya dan baru sadar semalam dia pesan ayam bakar lalu ketiduran.
Dia memindahkan nasi dan ayam bakar nya ke piring dan memanaskannya di microwave. Sambil menunggu makannya panas, Lina berpikir, "Bagaimana makanannya ada di atas meja? Tidak mungkin kurir makanan ini masuk ke dalam? Apa bos yang membukakan pintu dan membayarnya? Tumben dia baik," gumam Lina.
Tring.. Bunyi tanda makanan Lina sudah selesai di panaskan. Sebelum makan dia berdoa, lalu makan. Saat makan dia bergumam, "Mungkin si bos lagi baik. Ayam bakar ini enak sekali, dia nyesel tidak ikut makan." Lina semangat menyantapnya.
Jam menunjukkan pukul 07.00, Lina dan Helmi sudah siap untuk berangkat kerja. Pagi ini Helmi mengizinkan Lina pergi bersamanya. Di dalam mobil, Lina duduk di samping Helmi. Lina tiba-tiba keceplosan, "Bos tumben baik banget, lagi ada angin apa?" Lina menutup mulutnya. Dia takut Helmi marah.
Helmi melihat ke arah Lina sebentar lalu melihat ke jalan lagi, "Selama ini, aku tidak baik padamu? Sampai kamu bilang begitu?" tanya nya.
Lina merapikan rambutnya dan bilang, "Hehe.. Bos baik kok, sudah memberikan aku tumpangan buat tinggal." Lina memukul pelan pundak Helmi.
__ADS_1
"Satu lagi, sudah memberimu pekerjaan sesuai yang kamu mau," Sambung Helmi yang fokus menyetir.
Lina tersenyum terpaksa mendengarnya, "Aku berhenti bekerja kan akibat kamu yang menuduhku," batin Lina.
Sampai mereka di mall yang besar dan bergengsi, mereka berdua turun depan lobi. Pengemudi di belakang mereka mobil sport berwarna merah juga turun.
"Kak.. Kak.. Kau sudah bekerja lagi? Akhirnya, banyak sekali berkas kemaren yang harus aku tanda tangani kak," tegur Raditya. Raditya melihat Lina turun dari mobil Helmi. "Loh, bagaimana Lina bisa bersamamu pagi begini kak?" heran Raditya.
Helmi tidak menjawab pertanyaan Raditya dan terus berjalan menuju ruangannya. Raditya bertanya kepada Lina, "Bagaimana bisa kamu pergi bareng kakakku?"
"Sudahlah Dit, jangan banyak bertanya." Jawab Lina sambil berjalan menuju ke ruangannya.
Saat sudah sampai di ruang desain, Lina duduk dan Raditya mengambil kursi kosong dan menaruh di depan meja Lina.
Lina melihat ke arah Raditya, "Dit, ini bukan ruangan mu. Balik sana ke ruangan mu. Aku lagi malas berdebat." Lina membersihkan meja kerja nya.
Raditya mulai marah, "Kamu panggil aku apa? Ingat sekarang aku bos mu! Kalau bos mu bertanya, sebaiknya di jawab!" tegas Raditya. "Aku tanya, mengapa kamu bisa datang bersama kakakku?" tanya Raditya.
__ADS_1
Lina menghela nafas, "Aku sedang di jalan, lalu dia memungut ku!" jelas Lina tertawa terpaksa.
"Hah? Memungut?" Tanya Raditya bingung dengan jawaban Lina.
Lina mengangguk menjawab pertanyaan Raditya, "Ada lagi yang perlu di tanya, bos?" Lina mengambil pulpen dan bukunya di dalam laci. "Apa perlu aku menulis semua pertanyaan, bos?" Lina memperlihatkan sederet gigi atasnya (menyengir).
Raditya menutup buku di hadapan Lina, "Tidak perlu di tulis. Ada yang ingin aku tanyakan, mengapa kamu pergi dengan kakakku bukan dengan aku untuk menemui Aurel?" tanya Raditya.
Lina tiba-tiba batuk, "Hah, tidak salah dengar saya, bos. Bukannya bos yang melarang dari awal." jawab Lina.
"Kalau kamu memohon padaku, pasti aku akan membantu mu," sambung Raditya. Tiba-tiba handphone Raditya berbunyi. Raditya keluar dari ruang desain dan mengangkatnya.
...Jangan lupa komen dan like,...
...vote juga boleh hhe...
__ADS_1
...