
Akhirnya Lina cerita ke orang masalah dia selama ini, semoga Feri temannya dia bisa percaya sama dia.
Feri mendekat ke Lina, "Aku penasaran Lin. Bagaimana cerita sebenarnya?" tanya Feri.
"Kamu jangan dekat-dekat. Aku bisa terpesona kalau kamu dekat-dekat." Lina berpindah tempat ke kanan sedikit. "Ini semua terjadi gara-gara ada pameran di mall Bulan. Kebetulan perusahaan ayah tiri ku sedang mengadakan pameran menampilkan hasil desain ku saat itu, aku membuat gaun pernikahan." Tiba-tiba Feri menutup mulut Lina.
"Jadi gaun pernikahan mu dengan ku udah kamu buat?" Canda Feri sambil tertawa.
"Astaga.. Ini serius!" Lina memasang muka bete.
Feri meminta Lina melanjutkan ceritanya.
"Di hari yang sama, Grup Bulan juga sedang pameran. Saat si Helmi melihat hasil desainku, dia menuduh aku menjiplak desain anak buahnya. Gilak nggak tuh! Padahal pegawai dia yang menjiplak! Lina mengepalkan kedua tangannya karena kesal.
"Terus? Orang-orang di perusahaan ayahmu gimana? Mereka percaya kamu kan?" tanya Feri serius.
Lina memukul meja pelan, "Boro-boro Fer, adik tiri ku malah memecat ku saat itu juga. Mana banyak wartawan. Kesel banget! Lina emosi menceritakan nya.
"Sabar-sabar bu, mereka belum tau aja teman ku satu ini si ratu desain." Menyenggol tangan Lina pelan dan tersenyum. "Oh, iya terus kenapa kamu mau kerja di perusahan bulan?" tanya Feri mengerutkan dahinya.
Penjual bubur mendatangi mereka, memberi bowl yang berisi bubur. Tanda pesanan mereka sudah selesai.
__ADS_1
Visual Bubur pesanan Lina pakai keju parut.
...******...
"Fer, kita lanjutkan nanti. Maaf banget iya, aku harus buru-buru." Lina berdiri memegang bahu Feri.
Feri menjawab, "Iya sudah kamu duluan aja, ini biar aku yang bayar. Nanti aku telepon kamu iya?"
"Tapi nomorku ganti, sekarang tidak bawa handphone. Nanti kamu email aku aja. Email ku masih yang lama. Btw terima kasih ya buburnya. Kamu tidak berubah selalu baik. Aku pergi dulu ya.." Lina pamit lalu pergi meninggalkan Feri.
"Tidak berubah itu orang, selalu semangat." Feri mengingat sedikit saat dia mengatakan cinta ke Lina dulu di Italia, tapi selalu ditolak.
...******...
Di rumah sakit, Lina berjalan cepat menuju ruangan Helmi. Sesampainya di ruangan Helmi sedang tertidur. Lina menaruh buburnya di meja. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Helmi, "Sebenarnya kamu ganteng bos, tapi sayang kamu nyebelin!" gumam Lina. Karena Helmi merasa ada orang yang berada dekatnya, Helmi terbangun. Mereka lalu saling berpandangan.
Helmi duduk di tempat tidurnya, "Maaf nona Lina, bisa ambilkan sendok ku di dalam koper yang di mobil. Aku tidak biasa makan dengan sendok plastik," ucap Helmi.
Sebelum Helmi memintanya, Lina sudah membawa koper Helmi ke dalam ruang IGD VIP. Lina antisipasi kalau Helmi menyuruhnya mengambil barang di kopernya.
Lina menyiapkan bubur Helmi di meja makan pasien. Sebelumnya Lina mengelap mejanya dulu dengan tisu basah agar steril.
Lina juga membuka buburnya dan makan di kursi yang ada dalam ruangan tersebut. Mereka lalu makan bersama.
...******...
__ADS_1
Di kantor Mall Bulan. Ruangan yang tampak luas, dengan barang-barang yang mewah tertata rapi.
Ben sedang duduk di sofa di dalam ruangan tersebut. Dia menunggu kabar dari bos nya, tapi tidak kunjung ada. Akhirnya dia memberanikan diri nge-chat bos nya.
Ben : Selamat pagi. Bos apa kabar? Mengapa tidak ada kabar dari kemaren?
Helmi yang lagi memegang handphone nya langsung membalas.
Helmi : Pagi. Aku sedang ada urusan di luar kota. Besok baru masuk kerja, tolong kerjaan di handel dulu. Raditya hari ini masuk?
Ben : Bos Radit..masuk bos. Ada berkas yang perlu di tandatangani bos, apa saya perlu ke tempat bos?
Helmi : Tidak usah, biar berkas itu yang tandatangan Raditya saja.
Ben : Siap bos. Sehat selalu bos.
Helmi : Ok
Ben : 😁
Setelah chat Ben, mengikuti perintah Helmi dia mengambil berkas-berkas di meja Helmi. Berkas tersebut dia bawa ke ruangan Raditya.
Jangan lupa komen dan like
__ADS_1