
Setelah dokter pergi meninggalkan mereka, Lina bertanya-tanya dalam dirinya, "Mengapa bos Helmi sakit perut? Apa karena makan di restoran itu?" gumam Lina. Lina duduk di kursi yang ada di ruangan VIP tersebut.
"Nona Lina, kamu tidak bertanya kenapa aku bisa sakit?" ucap Helmi.
"Tadi kan dokter sudah bilang, bos sepertinya salah makan. Mungkin restoran kemaren tidak bersih." Lina tersenyum kepada Helmi. "Jangan-jangan bos makan yang aku tidak tahu ya?" canda Lina. "Biar ku ingat-ingat, apa ya?" Lina memegang dahinya.
"Sudahlah aku jujur saja, supaya kamu tidak lama berpikirnya." Helmi dengan posisi agak duduk di bantu Lina merubah posisinya. " Aku sebenarnya kemaren makan jajanan yang kamu beli," jujur Helmi.
"Hah? Beneran bos? Aku tidak salah dengar? Kamu makan cemilan yang mana bos. Aku mendengarnya hampir tidak percaya. Haha.., " Ucap Lina kaget dengan ucapan Helmi, dia tidak menyangka Helmi bakal makan cemilannya.
"Kamu jangan tertawa. Aku ingat dulu pernah memakannya dengan Raditya waktu kecil, jadi aku ingin merasakannya lagi," jelas Helmi.
"Terus? Bos makan yang mana?" tanya Lina.
"Mie lidi. Aku minta kamu jangan cerita ke siapa-siapa masalah ini," tegas Helmi.
Lina me kedip kan matanya, menandakan dia akan menuruti perintah Helmi. "Bos, aku belikan bubur iya. Aku akan mencari restoran yang menjual bubur yang bersih." Kata Lina, dia juga merasa lapar.
"Iya boleh, Ingat cari yang bersih!" perintah Helmi.
Lina memasang muka manja, "Bos tapi minta duitnya, yang kemaren sudah habis." Lina menyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
__ADS_1
"Kamu ambil dompet saya yang ada di jas itu." Helmi menunjuk jas nya yang ada di gantungan. "Ingat ambil dua lembar saja!" perintah Helmi.
"Iya." Lina mengambil jas berwarna abu-abu bermerek world w*** record challenge cup su*** dan mengeluarkan dompet kulit bermerek her*** yang berada di jas tersebut.
"Ini bos lihat, aku ambil dua lembar ya." Ucap Lina, dia mengeluarkan uang dalam dompet Helmi lalu menaruhnya lagi setelah mengambil uang tersebut. "Aku pergi dulu ya bos, ingat jangan makan mie lidi lagi!" canda Lina lalu cepat-cepat keluar dari ruangan Helmi.
Saat berjalan ke rumah sakit Lina bertemu dengan dokter yang tadi, "Bagaimana bu, suaminya? Apa sudah sehatan?" tanya dokter tersebut.
Lina menutup mulutnya ingin tertawa dia di anggap istri dari Helmi, "Sebenarnya dok, saya bukan istrinya. Saya hanya asisten nya di kantor." Lina tersenyum kepada dokter tersebut.
"Maaf bu, soalnya anda tadi begitu khawatir dan sangat sigap membantu bapak yang tadi." Dokter merasa tidak enak karena dia salah prasangka.
"Sudah tidak apa-apa dok. Aku harus perhatian sama dia, karena dia bos ku. Kalau dia sakitnya lama, aku bisa tidak gajian." Bisik Lina kepada dokter tersebut. "Sudah ya dok, saya buru-buru mau beli bubur." Lina pamit dan meninggalkan dokter sambil melambaikan tangan.
Dokter jaga hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkah Lina.
Setelah berputar-putar, akhirnya Lina dapat sebuah depot bubur yang tampak bersih. Lina memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam depot.
Lina memesan bubur take away. Lina meminta agar bubur dengan teman-temannya di pisah karena dia tidak tau Helmi suka apa tidak dengan yang lain.
Saat menunggu pesanannya, Lina duduk di kursi tunggu. Tidak lama ada suara yang Lina kenal, ternyata benar pria berbadan besar memakai kemeja putih, memakai kalung itu adalah Feri.
__ADS_1
Feri memesan bubur take away juga, lalu duduk di samping Lina. Feri sibuk main handphone tidak sadar kalau Lina di sampingnya.
Lina mengagetkan Feri dan memukul pundak Feri, "Dor.. serius banget liat handphone nya ditagih hutang ya?" canda Lina.
"Astaga, hampir handphone ku jatuh." Hampir saja Feri melempar handphone nya karena kaget. "Loh, ngapain di sini? Bukannya kemaren sudah pulang?" tanya Feri melihat kanan kiri Lina. "Kamu sendiri?" Feri lihat Lina sedang sendiri.
Lina menutup telinganya, "Kamu bisa ga satu-satu nanya nya." Lina menyikut pelan dada Feri. "Aku sama bos ku terjebak di desa ini, tau!Jalan menuju kota di tutup kemaren. Jadi kita menginap di sini." Lina memasang muka sedih.
"Iya sih, kemaren hujan deras. Biasa kalau hujan deras gitu, di sini." Feri melihat sana sini memastikan Lina sedang sendiri. " Loh, bos mu kemana? Apa di mobil?" tanya Feri.
Lina menggelengkan kepalanya, "Dia lagi istirahat, jadi aku yang pergi." Lina tidak ingin bilang Helmi sakit karena perintah Helmi tidak boleh cerita ke siapapun.
"Wah.. Enak sekali jadi bos mu. Aku juga ingin begitu." Canda Feri sambil melihat wajah Lina.
"Makanya kamu cepat buat perusahaan, supaya aku bisa kerja tempatmu. Haha," canda Lina.
"Oh iya Lina, aku dengar dari Aurel kamu mau mengajak dia bekerja sama dengan perusahaan Bulan?" sambung Feri.
Lina menjawab, "Iya, tapi dia tau gosip tentang ku jadi dia mentah-mentah menolak." Lina mengangkat kedua bahunya.
Sudah ah jangan liatin Feri mulu 😜
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen.