Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 10


__ADS_3

Dinda tertegun. Ia merasa terharu. Jadi itukah kecemasan ibunya? Ia merasa dirinya masih disayangi dan diinginkan. Rupanya biar pun ibunya sudah memiliki Bram tali ia toh masih berarti bagi ibunya. Kalau ia memang sudah tak berarti apa-apa lagi, karena ibunya mementingkan Bram, makan tentu ibunya akan lebih senang bila ia akrab dan bergabung dengan ayahnya. "Tentu saja aku tidak akan meninggalkan Ibu. Kenapa ibu berpikir seperti itu?"


"Kau berjanji?" tanya Lilis tanpa menjawab pertanyaan Dinda itu.


"Ya, Aku berjanji, Bu."


Lilis tersenyum lega. "Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan melarang kau pergi ke rumah ayahmu U belajar apa saja, asal kau selalu kembali kesini. Dan ingat pula untuk berhati-hati menghadapi pengaruh buruk mereka."


"Beres, Bu."


Tapi tak lama kemudian Dinda bertanya-tanya dalam hati, apakah janji yang diucapkannya itu bener-bener bisa ditepatinya nanti. Ia mulai merasa terganggu oleh instingnya terhadap Bram. Selama beberapa Minggu sejak perkawinan, Bram seperti menjauh darinya dan menjaga jarak serta bersikap wajar. Hal ini membuatnya tenang dan lega. Terpikir bahwa perkawinan telah mampu meredam niat buruk Bram, seandainya ia memang punya niat buruk. Tetapi tiba-tiba ia kembali memergoki tatapan Bram yang seperti dulu. Tatapan yang liar dan menyelidik, seperti milik hewan buas yang sedang menilai calon mangsanya. Instingnya berkata begitu.


Suatu malam ia terkejut ketika menyadari bahwa handel pintunya bergerak perlahan-lahan. Ketika itu sudah jam sebelas malam tapi ia belum tidur karena penasaran ingin menyelesaikan buku yang sedang dibacanya. Ia segera berteriak, "Siapa?" Tak ada suara yang menyahut dari luar. Tapi sesudah itu handel pintu kamar tak bergerak lagi. Ia tak berani keluar untuk menengok, khawatir kalau-kalau ia disergap di luar sana. Baru setelah itu ia menyadari bahwa sesungguhnya ia tidak aman di dalam kamarnya karena pintunya tak terkunci. Ia tak bisa menguncinya karena kuncinya sudah lama hilang. Dulu ia memang tak merasa perlu mengunci kamarnya. Dirumah itu ia cuma bersama ibu dan pembantu. Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Sudah ada seorang lelaki di rumah.


Dinda melompat dari tempat tidurnya. Ia memandang berkeliling lalu mendorong meja dan kursi untuk mengganjal pintu. Walaupun tidak dikunci suara gedebak-gedebuk yang ditimbulkan bila pintu didorong kedalam busa membangunkannya. Ketika ia bangun pagi-pagi sekali, seperti sudah menjadi kebiasaannya sekarang. Ia mendapati meja dan kursi sudah tergeser dari tempat semula, dan tidak lagi bersandar di pintu. Itu berarti semalam pintu dibuka dan didorong tapi karena sulit terbuka maka ditutup lagi. Pasti mendorongnya pelan-pelan karena ia tidak mendengar bunyi ribut-ribut, sedang kursi yang ditaruh diatas meja masih berada ditempat nya.


Pagi itu saat bertemu dengan Bram, lelaki itu tidak berkata apa-apa. Tentu saja Dinda pun tidak menanyakan. Tetapi ia merasa yakin. Siapa lagi orang bermaksud membuka pintu kamarnya semalam kalau bukan Bram? ibunya tidak berkata apa-apa. Demikian pula pembantunya. Mereka tentu tidak akan masuk diam-diam bila menginginkan sesuatu darinya. Mereka akan mengetuk dan berteriak.


Dinda merasa takut tapi juga marah. Ia jadi semakin rajin berlatih, baik pernapasan seperti yang diintruksikan ayahnya maupun kungfu yang diajarkan. Karena Bram punya kebiasaan berlari pagi, maka ia punya kesempatan untuk melakukannya pada saat Bram pergi. Dan sore hari pada saat ia tidak pergi ke rumah ayahnya ia bisa berlatih juga bila Bram belum pulang dan ibunya masih tidur.


Disamping latihan intensif yang dilakukannya ia pun menyimpan pisau dilamarnya. Pisau itu disimpan dibawah kasur.

__ADS_1


****


Sekitar tiga bulan setelah pernikahan, Lilis menerima telepon dari orang yang tak mau menyebut identitasnya. Ketika itu ia hanya berdua dengan pembantu. Bram dan Dinda belum pulang. Penelepon itu mulanya menanyakan Bram, tapi setelah diberitahu tak ada dan sebaiknya menghubungi kantornya saja ia mulai marah-marah. "Bu, suami ibu berulang-ulang berbohong pada saya. Janjinya gombal melulu! Saya sudah bosan menghubungi dia. Biar saya titip pesan sama Ibu saja ya."


"Boleh saja,Pak. Tapi bagaimana saya bisa menyampaikan kalau nama Bapak tidak saya ketahui."


"Tidak usah. Dia pasti tahu kalau dikatakan bahwa saya bermaksud menagih hutang kepadanya. Katakan saja, saya penagih utang lima puluh juta!"


Lilis terkejut. "Utang lima puluh juta?" ulangnya setengah tak percaya.


"Ya. Ibu pasti tidak tahu bukan? Nah, sekarang Ibu tahu. Sebagai istri,ibu mesti tahu."


"Katakan, kalau dia tidak membayar bulan ini, akan saya habisi dia!"


"Apa,, Pak?" jantung Lilis serasa mau copot. Sebenarnya ia mendengar dan memahami tapi rasanya masih saja kurang percaya.


"Akan saya habisi!" teriak orang disana, hingga Lilis terkejut oleh hantaman suara keras pada gendang telinganya. Hampir saja telepon terhempas dari pegangannya. Ia menjadi takut masih ingin mendengar selanjutnya. Bagaimanapun ia harus menyampaikannya secara lengkap kepada Bram.


"Dengar, Bu?"


"Ya. Tapi ...., sabarlah Pak. Jangan marah-marah dulu." Lilis mencoba membujuk dengan suara pelan. Barangkali ia bisa membantu meredakan amarah orang itu.

__ADS_1


"Maaf Bu, Saya mengagetkan ibu ya?" suara amarah orang itu berubah pelan. Mungkin emosinya menyurut atau sadar bahwa ia berhadapan dengan orang yang salah.


"Ya, Pak. Saya mohon jangan mengambil tindakan seperti itu."


"Habis suami ibu orangnya licik sih. Janjinya bohong melulu. Setiap kali ditagih, kalau tidak sebentar tentu besok. Terus saja begitu. Bagaimana saya bisa bersabar terus-terusan? Uang segitu mungkin tidak banyak buat orang lain, tapi buat saya besar sekali. Saya memerlukan sekali. Tapi kalau saya dilecehkan terus-menerus maka saya akan nekat."


"Baik, Pak. Nanti saya akan bicarakan dengannya."


"Ya, Saya akan menelepon lagi nanti. Apa saya bisa menghubungi ibu saja? Soalnya saya sudah bosan bicara sama dia."


"Bileh6" sahut Lilis. Tapi kemudian setelah pembicaraan berakhir ia jadi termangu sendiri. Bodohnya dia dengan membiarkan diri kejatuhan masalah?


Ketika Bram pulang ia menyampaikan pembicaraan telepon barusan. Bram termenung sebentar. Wajahnya nampak murung."Aku tidak ingin kau menanggung beban, Lis. Seharusnya kau mengatakan, bahwa itu sepenuhnya urusanku dan kau tidak ikut campur. Jangan sampai dia menyusahkan mu juga."


"Tapi aku juga tidak ingin ia mencelakakanmu, Mas."


"Percayalah. Aku bisa mengatasi sendiri. Masalahnya cuma waktu. Ia tidak sabaran dan tak mau mengerti kesulitan ku."


"Kau dalam kesulitan. Mas?" tanya Lilis hati-hati. Baru kali itulah mereka membicarakan masalah pekerjaan Bram yang sebelumnya itu tidak dipahaminya. Ia cuma tahu dari pengakuan Bram sendiri, bahwa lelaki itu bekerja sama dengan beberapa pengembangan proyek pemukiman, atau istilahnya developer. Bram seorang pengusaha pembebas lahan yang diincar pengembang perumahan atau real estate. Untuk itu Bram memang harus memiliki modal sendiri.


***___***

__ADS_1


__ADS_2