
"Kalau janji kan harus ditepati, Mas." Frida cemberut. Ia tahu sudah salah langkah. Mestinya jangan memutuskan hubungan dulu sebelum ia dibayar. Sekarang sudah terlambat. Bila Bram melangkah pergi dengan janjinya, maka ia bisa tidak kembali lagi.
"Wah jangan cemberut begitu dong. Kau nampak mengerikan tahu? Baiklah, kuberi kau uang. Tapi sedikit dulu ya? Besok-besok kutambah lagi."
"Besok-besok itu kapan?" kata Frida setelah melihat Bram cuma memberi lima puluh ribu rupiah saja. Tapi uang itu diterimanya. "Dan berapa sih jumlah yang sebenarnya mau kau berikan? Selama ini aku cuma diberi seenakmu saja."
"Jangan serakah Frid," kata Bram jengkel.
"Kau yang serakah. Padahal ingat baik-baik aku menyimpan rahasia mu lho."
Tapi setelah berkata begitu, Frida menyesali. Ia melihat ekspresi marah Bram dan menjadi takut karenanya. Kalau dia diapa-apakan, tak ada yang tahu.
"Baiklah. Ini kutambah." Bram mengeluarkan lagi dompetnya. Lalu menyodorkan seratus ribu. "Tapi jangan macam-macam ya?"
Sikap Bram itu membuat Frida melupakan penyesalannya barusan. Ternyata Bram gampang diancam, pikirnya. Ia pun tidak puas melihat jumlah uang yang diterimanya. Pasti Bram mampu memberi lebih banyak. "Tambah lagi dong," katanya dengan nada merengek sambil mengulurkan tangannya. Ia tak melihat bagaimana sorot mata Bram menyala marah.
"Lihat isi dompetku kalau tidak percaya," Kata Bram sambil membelah dompetnya dan menyodorkannya kepada Frida. Tetapi Frida tidak mempercayainya dan merampas dompet itu kemudian memeriksanya. Sesudah itu ia mencabut dua lembar uang lima puluh ribuan. "Tambah lagi ya?" katanya manis. "Tuh masih banyak sisanya."
"Kau benar-benar rakus," gerutu Bram dengan wajah marah. Tapi ia tidak mencoba merebut uang di tangan Frida. Ia menyimpan kembali dompetnya. Lalu berjalan ke pintu
"Lho, mau pergi Mas?" tanya Frida dengan tertawa. Ia merasa menang dan tidak takut lagi. Ia pun merasa dirinya pintar karena berhasil menggaet uang Bram lebih banyak. Lain kali ia harus melakukan hal yang sama bila ingin berhasil.
"Iya. Lama-lama disini dompetku bisa kempes."
Frida tertawa geli. Tapi Bram tidak tertawa. Sebelum membuka pintu, ia berkata dingin, "Ingat akan janjimu karena kau pun harus melindungi dirimu sendiri."
"Hei, kenapa?" seru Frida.
Bram menutup pintu kembali lalu berkata, "Karena kau pun terlibat."
"Tidak bisa! Aku tidak membantumu membunuh orang!"
__ADS_1
Bram cuma memandang tapi tatapannya membuat Frida serasa beku. Setelah Bram pergi, Frida cepat-cepat mengunci pintu. Ia menyimpan uang perolehannya dengan perasaan puas. Jumlah yang lumayan untuk jasa yang sebentar. Sekarang Bram tidak lagi bisa sembarangan mempermainkannya. Seandainya lelaki bernama Johan itu menghubunginya lagi, maka ia akan memberitahu Bram. Informasinya itu bisa membuat Bram mengeluarkan uang lagi Tak apa-apalah memberi Bram sedikit balasan. Bram sudah mengambil.banyak dari perempuan-perempuan korbannya, maka sepatutnya lah bila ia diberi lebih banyak juga.
Bram pulang dengan menggeram-geram dan tinju terkepal.
*****
Malam hari di rumah Dinda suasana tenang dan sepi. Ia membuat PR nya di temani bi Imah yang asik menonton televisi. Disamping Dinda terletak pesawat telepon, siap dalam jangkauan. Ia menunggu kabar dari ayahnya.
Hari-hari belakangan setelah Bram enyah dari rumah itu, mereka berdua menjadi lebih akrab daripada sebelumnya. Dinda jadi lebih menghargai bi Imah dan tidak lagi memperlakukan nya sebagai pembantu semata. Ia juga menganggap nya sebagai teman dan sebagai ibu. Bi Imah sangat bahagia dengan peran baru nya karena ia sendiri sebatang kara. Ia melakukan tugasnya sebaik mungkin, dengan perasaan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dulu ia memang sekedar pembantu atau orang yang disuruh-suruh. Sekarang ia pun merangkap nyonya rumah bila Dinda tak ada.
Telepon berdering. Bi Imah melompat kaget. Dinda tertawa melihatnya lalu buru-buru mengangkat telepon. Ia kecewa karena yang menelepon itu temannya. Ia berbicara sejenak, lalu mengatakan, "Aduh kepalaku sakit. Sori ya. Udahan dulu." Ia meletakkan telepon dengan mulut dimonyongkan. "Orang lagi nunggu telepon, eh dia ngajak ngobrol," gerutunya.
"Temannya Non?"
"Iya Bi. Siapa lagi kalau bukan si Boy. Heran deh, Bi. Cowok kok bawel ya? Kalau sudah ngomong gak mau berhenti."
"Yang jangkung dan rambutnya kayak sikat itu, Non?"
"Dia pernah kesini waktu Non pergi sama pak Johan. Tapi bibi lupa beritahu, Non."
"Lain kali kalau dia datang lagi selalu katakan padanya bahwa aku tak ada di rumah, pergi sana ayah biarpun sebenarnya aku ada. Dan jangan sekali-kali beritahu bahwa kita disini cuma berdua. Biasanya cowok itu suka kurang ajar Bi. Nggak boleh dikasih hati. Bilang aja ayah tinggal disini."
"Ya, non beres," sahut Bi Imah sambil mengagumi pendirian Dinda. Dia bukan saja tidak kesulitan menjaga Dinda, sebaliknya ia jadi merasa terlindung oleh sikap Dinda yang dewasa. Betapa mengerikan seandainya dia harus menjaga seorang anak yang binal dan sulit diatur.
"Enak ya Bi, kalau masih punya orang tua."
"Tentu saja non. Apalagi kalau punya orang tua yang menyayangi, wah, bahagia sekali."
"Apakah bibi masih punya orang tua?"
"Nggak Non. Kan bibi sudah tua. Kedua orang tua bibi sudah meninggal."
__ADS_1
Wajah Bi Imah nampak murung hingga Dinda memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak lagi mengenai soal itu. Kebetulan telepon berdering kembali hingga perhatian mereka teralih. Kali ini harapan Dinda terkabul. Suara Johan menyambutnya.
"Berhasil Dind. Idemu disambut oleh Tante Irene dengan antusias. Tante tidak perlu dibujuk, malah sebaliknya akulah yang dibujuk."
"Apakah ayah sendiri segan?" tanya Dinda khawatir.
"Segan sih tidak, cuma takut tidak mampu."
"Ayah pasti bisa."
"Aku tidak seperti Om Bram yang pintar merayu."
"Tapi kan tujuannya tidak sama yah. si Bram untuk kejahatan, sedang ayah untuk kebenaran."
"Pokoknya aku akan berusaha, Dind. Mudah-mudahan bisa. Ini ada yang mau bicara, Dind."
Suara Irene menggantikan Johan. "Halo, Dinda. Kapan kesini lagi?"
"Secepatnya Tante. Jadi Tante tidak keberatan ayah main sandiwara?"
Tawa Irene yang halus terdengar. "Tentu saja tidak. Aku menganggap itu ide yang bagus. Frida jembatan satu-satunya yang bisa mengungkap kebenaran yang kita cari."
"Jadi Tante percaya sama ayah?"
"Ya. Aku pun percaya sama kamu Dinda."
"Terimakasih Tante."
****____****
Haloooo semuanyaaa apaaa kabaarrrrr?????
__ADS_1
Semogaaa semuaaanyaaa selaluuu dalammm keadaaan sehattt dan baikk yaaa.