Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 28


__ADS_3

"Ya. Saya juga sudah mendengar pengaduannya. Anak itu bersemangat sekali ya? Kelihatannya cerdas. Tapi juga emosional. Baiklah. Kita akan mendiskusikan saja hal-hal yang disebutnya janggal itu. Anda seorang dokter. Jadi diskusi kita akan bermutu. Pertama, dia bilang ibunya menjatuhkan cangkir sewaktu minum dari fakta bahwa ditempat sampah ada pecahan cangkir dan tisu basah sedang lantai dalam keadaan kering. Itu masuk akal dan juga menjelaskan adanya luka di jari korban. Tapi bagaimana ia tidak melihat sendiri? Mungkin saja cangkirnya jatuh bukan pada saat korban sedang minum, melainkan kesenggol tangannya sendiri ketika berada diatas meja. Di samping itu, kalau memang korban sedang kesakitan mustahil ia bisa bersusah payah membersihkan lantai. Pasti ia tidak peduli lagi. Ia kan memilih tiduran saja. Kedua, pembantu melihat jalannya korban tidak stabil sewaktu berjalan menuju tangga. Mungkin saja ia mengantuk. Maaf, kabarnya korban sangat suka tidur. Jadi, kalau memang ia kesakitan pastilah ia sudah berteriak-teriak sebelum memunculkan diri. Lalu teori mengenai jeritan korban sebelum jatuh juga kurang bisa dijadikan alasan kecurigaan. Tentu saja ia menjerit sebelum jatuh, karena ia sudah menduga akan jatuh pada saat kehilangan keseimbangan. Nah, itu dari sudut pandang saya. Bagaimana pendapat anda, Pak?"


Bustaman merenung sebentar. Ia menganggap kesimpulan si petugas masuk akan. Maka terpaksalah ia mengangguk membenarkan. Dalam hati ada perasaan bersalah terhadap Dinda.


"Tadi saya sudah mendengar keterangan pak Bram. Ia bercerita tentang ketidakharmonisan hubungannya dengan anak tirinya yang tidak pernah menyukainya sejak awal ia menikahi korban. Menurut Pak Bram, anak itu selalu mencurigai apa pun yang dilakukannya. Menurut Anda, mungkinkah anak itu menderita paranoid?"


Bustaman menggeleng dengan keras. "Tidak pak. Saya yakin akan hal itu. Dinda gadis yang cerdas melebihi umurnya. Dia sangat menyayangi ibunya. Mungkin sikapnya agak berlebihan. Tapi saya yakin ia tidak paranoid. Ia selalu ingin melindungi ibunya."


"Nah, anda mengakui sendiri bahwa anak itu memang berlebihan. Toh kelihatannya dia bukan cuma ingin melindungi ibunya, tapi juga ingin menangkap ayah tirinya sebagai penjahat"


Bustaman tertegun. Ia tidak suka Dinda diberi citra seperti itu. "Saya lebih mengenal Dinda, Pak. Apakah Pak Bram yang berkata seperti itu? Dan apakah Pak Bram yang menentang autopsi, pak?" Bustaman bisa menduga.


"Betul. Dia mengatakan, istrinya pernah berkata bahwa kelak kalau meninggal ia ingin di kremasi saja supaya tidak merepotkan. Bila diautopsi, bukankah organ-organ akan terpisah dari bagian tubuhnya yang lain, yang dikremasi itu? Apalagi organ-organ yang diambil untuk pemeriksaan cukup banyak. Sama saja bohong jadinya. Sebagian dikremasi, sebagian lagi masuk toples. Oh, Maaf Pak. Tapi saya bicara benar bukan? Saya bisa memahami perbuatan pak Bram. Lantas bagaimana saran anda?"


"Segala jerih payah itu cuma untuk memberi kepuasan kepada seorang anak, pak?"


"Ya, tentu saja. Tapi apakah pak Bram tidak berhak juga? Dia adalah suami korban. Bila diperbandingkan dimata almarhumah, nilai keduanya pasti sama."


"Tetapi tak ada salahnya melaksanakan segala jerih payah itu, karena kami yang menanggung pak."

__ADS_1


"Anda lupa Pak dokter. Bukan cuma anda yang repot, tapi kami juga. Adalah hak suami yang menikah apakah suatu kasus berbau kriminal atau tidak. Bila dari hasil pemeriksaan seksama, dimana anda juga punya andil, kami menyimpulkan bahwa kasus itu adalah kecelakaan murni, maka tak perlu lagi permintaan autopsi."


"Saya kira, hasil autopsi bisa lebih menunjanv kesimpulan, Pak."


Si petugas menatap Bustaman dengan tatapan jengkel. Tapi ia bersikap menahan diri. Bila memaksakan keinginan nanti disangka yang bukan-bukan. Lalu ia teringat dengan cepat. "Barang-barang yang diberikan gadis itu sudah saya kirim ke lab, Pak. Hasilnya akan segera kita peroleh. Jadi, bisakah kita melakukan kompromi untuk menyenangkan segala pihak sekalian bertindak efisien?"


"Bagaimana itu, Pak?" Bustaman tak mengerti.


"Begini. Kalau hasil lab dari barang-barang itu negatif, maka tak perlulah jenazah diautopsi. Tapi bila positif, dalam arti mengandung bahan racun, maka sudah tentu autopsi menjadi keharusan. Bagaimana pendapat anda?"


Bustaman berpikir sebentar. Tiba-tiba ia merasa beban tanggung jawabnya terhadap Dinda menjadi bertambah berat. Ia tak ingin mengecewakan Dinda dan sungguh-sungguh ingin menolongnya dengan sepenuh hati. "Saya perlu konsultasi dulu dengan keponakan saya, Pak. Masalahnya saya cuma wakil. Secepatnya saya kesini lagi."


"Baiklah. Tapi secepatnya ya, Pak? Jenazah itu tak bisa lama-lama menunggu. Dan kalau bisa, ajak juga gadis itu kesini. Biar saya dengar sendiri dari orang yang bersangkutan."


Untung saja jalanan tidak terlalu macet, sehingga Bustaman bisa cepat kembali ke kantor polisi dengan membawa serta Dinda. Sepanjang jalan ia menjelaskan perbincangan dengan si petugas untuk menghemat waktu.


"Mungkinkah Om Bram yang membujuk polisi itu, Om?"


"Wah, kita jangan menyangka sembarangan, Din. Aku pikir dia tidak berani membujuk atau memaksa karena dengan berbuat begitu ia justru bisa dicurigai. Paling-paling ia mengajukan alasan-alasan yang masuk akal dan bisa diterima si petugas. Dimata si petugas, kau dan Bram nampak berbeda karena usia."

__ADS_1


"Jadi aku dianggap anak-anak," kata Dinda dengan jengkel.


"Betul. Karena itu, sebaiknya kau jangan tampak emosional di depannya. Bersikaplah tenang dan matang."


"Ya,Om. Aku akan berusaha," kata Dinda dengan patuh.


"Nah. Gunakanlah waktu yang sedikit ini untuk berpikir, Bagaimana kau akan menjawab permintaan itu."


"Aku sudah tahu jawabannya, Om."


"Oh ya?"


"Ya. Aku bersedia mengikuti permintaannya dengan syarat ibu tidak di kremasi."


Bustaman terkejut mendengar jawaban Dinda itu. Dinda benar-benar cerdik. Jelas baginya motivasi yang terkandung dibalik keputusan itu. Selama jenazah belum di kremasi, masih tetap terbuka kesempatan dan kemungkinan Om Bram berkeras dengan keinginannya. "Bagaimana kalau ia ngotot mengatakan, bahwa ibu semasa hidup menyatakan ingin dikremasi kalau meninggal?"


"Yang pasti cuma dia sendiri yang bilang begitu. Mana saksinya? Kepadaku ibu tidak pernah bilang begitu. Juga kepada Tante Della dan ayah. Jadi kalau dia ngotot, kita sebaiknya bersatu menghadapinya. Masa sih juta yang banyakan bisa kalah Om."


Bustaman jadi optimis.

__ADS_1


Didepan petugas yang mengaku bernama Arman dengan pangkat Lentan Satu Polisi, Dinda menyatakan pendiriannya itu. Dengan wajah manis dan mungil, terkesan kebeliannya, tetapi tampil tenang dan bicara lancar serta penuh logika, Dinda berhasil membangkitkan simpati Lettu Arman.


****____****


__ADS_2