Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 51


__ADS_3

Johan menatap Dinda dengan terkejut. Bagaimana mungkin Dinda bisa begitu pasti? Cara bicara dan sikapnya penuh keyakinan. Apakah itu tertanda instingnya sudah bekerja lagi atau cuma perkiraan belaka? Sesungguhnya ia sendiri punya dugaan yang sama hanya saja ia tak berani mengatakannya.


"Tapi mayat tak bisa disembunyikan lama-lama." Irene mengemukakan pendapatnya. "Cepat atau lambat pasti ketemu."


"Ayah bertindak benar dengan menyuruh teman-teman Frida melapor. Mustahil polisi mencurigai orang yang justru melapor. Sudah terbukti dan ada bukti-bukti bahwa Ayah mencarinya ke bank dan juga ke rumah susun," Dinda membantah kekhawatiran Johan.


"Logisnya sih begitu. Tapi bisa saja aku dianggap bersandiwara. Pernah ada kasus orang hilang dimana si pembunuh pura-pura ikut mencari dan setelah mayat ketemu ia pun pura-pura sedih."


"Ayah punya alibi. Pada hari Jumat malam kita sedang berkumpul bersama. Sementara pada saat yang sama Frida dilihat orang pergi sendiri naik bajaj." Dinda mengingatkan.


"Betul juga, Dind." Johan merasa lebih lega. Memang sungguh tak nyaman perasaan takut dicurigai untuk perbuatan yang tidak ia lakukan. "Aku tak sempat berpikir ke situ."


"Sayang sekali kita kehilangan jejak Bram dengan hilangnya Frida," keluh Maya. "Mana mungkin kita bisa menuduh Bram sebagai penyebab hilangnya Frida?"


"Ya. Memang tak mungkin. Kecuali ada orang yang melihatnya bersama Bram disaat terakhir hidupnya. Siapa gerangan yang ditemuinya ketika pergi Jumat malam itu?" tanya Johan, tanpa ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.


"Sialnya di rumah aku tak berhasil menemukan satu pun foto Bram. Baik dia sendiri ataupun bersama ibu. Semua sudah dibawanya. Kalau ada, foto itu bisa diperlihatkan kepada orang di rumah susun. Pasti ada orang yang melihatnya datang kesana sekali waktu."


"Belum tentu Dind. Melihat Frida pergi sendiri itu, kemungkinan mereka membuat janji untuk bertemu diluar kompleks rumah susun. Bram tak ingin dilihat orang."


"Dia sangat cerdik," keluh Dinda.


Malam itu, disamping Irene, Johan mengutarakan perasaannya, "Aku jadi merasa bersalah, Ren. Seandainya aku tidak melakukan upaya pendekatan kepada Frida, mungkin dia tidak hilang sekarang ini. Mungkin ada orang yang merasa terancam oleh perbuatan ku itu hingga berupaya menyingkirkan nya."

__ADS_1


"Jangan berpikir begitu mas. Kita tidak tahu pasti. Tidak mungkin kita tahu secara pasti apa sebabnya dia hilang. Jadi jangan menyiksa pikiran dan perasaan mu sekarang. Ingatlah apa yang kau lakukan itu untuk mencari kebenaran. Dan seandainya dugaanmu itu ada benarnya, maka sudah pasti kita berada dijalan yang benar juga. Kau telah membuat si jahat itu ketakutan. Kalau dia tidak bersalah kenapa dia harus takut?"


"Terimakasih Ren. Kau telah menenangkan diriku. Apa jadinya bila aku tak memilikimu?"


"Dan juga Dinda?"


"Ya. Dan juga Dinda."


Mereka berpelukan. Ada ketegangan, ketakutan, dan keresahan, tapi ada juga ketenangan.


****


Sehari setelah itu Desi menelepon Johan. "Dia belum muncul Mas," lapornya dengan suara sedih. "Jadi bagaimana ya?"


"Kita harus melapor. Sekarang?"


Maka dengan ditemani Johan, kedua wanita itu pergi ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan hilangnya Frida. Disana laporan itu dicatat. Sebuah foto Frida yang ditemukan Erni diserahkan untuk melengkapi ciri-ciri yang disebutkan. Mereka disarankan untuk mencari alamat keluarga Frida agar bisa dihubungi dan diberitahu. Sudah tentu yang paling berkepentingan dengan kasus itu adalah orang tua atau keluarganya agar selanjutnya mereka yang mengurus.


Setelah mengantarkan Desi dan Erni kembali ke flat mereka. Johan pergi ke bank. Perasaan tanggung jawab dan simpatiknya kepada Frida mendorongnya untuk melakukan apa saja yang bisa diperbuatnya.


Satpam yang pernah bicara dengannya segera mengenalinya. "Bu Frida belum masuk juga pak," ia memberitahu.


"Justru untuk hal itu saya bermaksud menemui atasannya. Apakah bapak bisa membantu?"

__ADS_1


Johan dipertemukan dengan seorang wanita berwajah serius yang memperkenalkan diri sebagai Saraswati, manager. Tanpa membuang waktu Johan menceritakan kasus hilangnya Frida tanpa jejak dan terakhir ia sudah melaporkan kasus itu kepada polisi. "Dua orang teman serumahnya maupun lingkungannya tidak ada yang tahu dimana alamat anggota keluarganya, Bu. Padahal mereka perlu diberitahu. Barangkali ibu tahu atau seseorang disini yang cukup akrab dengannya bisa membantu?"


Saraswati nampak terkejut. Ia menjadi seriusnya situasi apabila setelah tahu bahwa kasus itu menjadi urusan polisi. Bila tidak dibantu sepenuhnya maka citranya bisa negatif. Apalagi Johan menceritakannya dengan ekspresi penuh keprihatinan. Cukup untuk menimbulkan rasa ngeri. Apa gerakan yang terjadi pada diri Frida?


"Tunggu sebentar pak. Saya sendiri tidak tahu, tapi saya akan berusaha mencari informasi dari teman-teman Frida."


Johan tahu, bahwa dalam waktu singkat Saraswati akan menimbulkan kegemparan dalam lingkungan karyawan bank itu. Seorang rekan mereka lenyap selama berhari-hari tanpa jejak. Ada baiknya juga kegemparan itu. Dengan demikian informasi lebih mudah masuknya.


Seperempat jam kemudian Saraswati kembali menemui Johan dengan ditemani seorang gadis. Ia memperkenalkan keduanya. "Ini Linda, temannya yang paling dekat dengan Frida. Dia tahu mengenai kerabat Frida yang tinggal di Jakarta. Silahkan kalian bicara."


"Terimakasih atas bantuan ibu," kata Johan sebelum Saraswati meninggalkan mereka.


"Saya tahu alamat om nya Frida pak." Linda menyodorkan secarik kertas yang sudah ditulisnya. "Saya pernah diajak Frida kesana."


Johan menerima kertas itu dan mengamatinya sejenak. "Kalau begitu, bisakah anda mengantarkan saya kesana untuk memberitahu? Mereka sudah mengenal anda, tapi saya masih asing. Dan saya pun sudah berjanji kepada polisi untuk mencari kerabat Frida."


"Tapi saya sekarang tidak bisa meninggalkan kantor pak. Kalau jam lima saya bisa."


"Baiklah. Jam lima saya jemput anda disini."


Pada jam yang sudah ditentukan itu Johan bersama Linda berkunjung ke rumah paman Frida yang mengenalkan diri sebagai pak Emil. Disana Johan mengulang ceritanya perihal Frida, seperti yang sudah diceritakannya kepada Saraswati dan kedua teman flat Frida. Paman dan bibi Frida nampak terkejut dan khawatir. Tapi Johan berusaha menenangkan, "Jangan berpikir yang bukan-bukan dulu, bapak dan ibu. Kita berharap yang baik saja."


Pak Emil berjanji untuk mengurus kasus itu untuk selanjutnya. Secepatnya dia akan pergi ke polisi untuk menguatkan laporan yang telah dibuat Johan bersama kedua teman satu flat Frida. Setelah mencapai kesepakatan itu Johan memberikan kartu namanya. "Harap hubungi saya bila ada perkembangan baru pak. Saya selalu bersedia membantu sebisa saya."

__ADS_1


Selesai dengan urusan itu Johan merasa sebagian beban yang menindih batinnya sudah terangkat. Bagaimana pun kelegaan yang telah diberikan Irene sebelumnya, bahwa tidak selayaknya dia merasa bersalah toh beban itu masih saja ada. Ia memang sedang mencari kebenaran, tapi kemungkinan membawa akibat mengerikan. Masih ada harapan tipis, bahwa Frida sebenarnya masih hidup dan sehat walafat walaupun tak jelas keberadaannya. Tapi, betapa tipisnya harapan itu!


****___****


__ADS_2