
Berbekal pengalaman dari masa lalu yang membuat semakin matang saja menghadapi wanita, Bram berhasil menjalin keakraban dengan Maya dan Bagas. Cara yang dipilihnya tepat sekali. Bila ia berhasil akrab dengan salah satu dari keduanya, maka yang satu lagi pun dengan mudah didekati. Dalam waktu yang singkat itu ia merasa sudah tahu banyak mengenai mereka.
Dirumahnya yang indah, Maya tinggal berdua dengan Bagas beserta dua orang pembantu. Maka Bram bertanya apakah Maya tidak akan merasa kehilangan bila Bagas tinggal terpisah.
"Oh, tentu saja pak. Saya sudah begitu terbiasa ditemani olehnya. Tapi saya memikirkan kepentingannya. Kasihan kalau dia harus berjuang mengatasi kemacetan lalu lintas setiap hari. Perginya pagi-pagi dan pulang menjelang malam, bahkan pada saat saya sudah mengantuk. Boleh dikata sepertinya dia tak ada sepanjang hari. Jadi apa bedanya dengan tinggal terpisah selama lima tahun dalam seminggu? Saya kan tidak boleh tergantung terus. Demikian pula dia. Bayangkan kalau dia punya pacar. Bisa-bisa pacarnya mencemburui saya lho."
"Anda memang bijaksana Bu." Bram memuji dengan penuh kekaguman.
Maya tertawa. Ia kelihatan senang dipuji dengan cara seperti itu, pikir Bram. Bagi seorang wanita yang sudah merasa yakin akan keindahan fisiknya, maka pujian bersifat fisik tidak lagi terasa menyentuh. Dengan pemahaman seperti itu Bram sudah tahu kapan saatnya yang tepat untuk melontarkan pujian.
Setiap hari mereka berhubungan, kalau tidak mengobrol lewat telepon tentu bertemu lewat makan bersama. Pada awalnya Bram mengajak Bagas ikut untuk makan malam bersama, tapi pemuda itu tertawa dan berkata, "Ah, saya nggak mau jadi orang ketiga, Om!" Tentu saja Bram tidak memaksa. Maya pun tersenyum saja. Bram benar-benar merasa seolah berada di awang-awang. Dia sangat optimis dengan angan-angannya. Ia pun semakin yakin dan percaya diri akan kemampuannya memikat kaum perempuan. Jadi, kenapa ia harus mengandalkan bantuan orang lain seperti yang dilakukan Frida?
Dengan bertambahnya keakraban mereka, maka lenyap juga sikap formil satu terhadap yang lain. Tak ada lagi sebutan "Bapak" dan "Ibu" melainkan cukup nama masing-masing. Kemajuan seperti itu merupakan sesuatu yang luar biasa bagi Bram, lebih dari pada nilai sebuah rumah. Karena itu dia tidak mengejar-ngejar Maya dengan pertanyaan, apakah Maya jadi membeli atau tidak. Maya minta waktu mempertimbangkan dan merundingkannya bersama Bagas, mana yang lebih efisien dan bermanfaat bagi mereka, membeli rumah atau apartemen. Yang penting bagi Bram adalah tidak kehilangan hubungan baik yang sudah dibinanya itu. Orang seperti Maya pasti takkan ditemuinya lagi.
Keadaan yang seperti itu membuat Bram sangat sabar dalam penantian. Belum pernah ia sesabar itu menunggu keputusan calon konsumen.
__ADS_1
Akhirnya Maya membicarakan hal itu. "Sebenarnya saya merasa kurang enak, Bram. Saya tak ingin mengecewakan mu. Tapi begini..."
"Apa pun yang kau putuskan, saya tidak akan kecewa, May. Percayalah. Jadi jangan ragu mengatakan. Itu hak mu menentukan. Jadi atau tak jadi membeli adalah hak mu sepenuhnya."
"Memang benar. Tapi saya jadi merasa bersalah. Soalnya selama ini kau bersikap sangat baik kepada kami. Saya tak ingin kehilangan seorang teman." Maya menunduk, takut melihat ekspresi Bram.
Bram mengulurkan tangan dan mengangkat wajah Maya dengan jari telunjuk di dagunya. "Saya tahu maksudmu May. Pandanglah saya. Apakah nampak ketidaktulusan diwajah saya? Lihat baik-baik. Persahabatan yang kita jalin selama ini bukanlah bagian dari jual beli, hingga bisa dibubarkan begitu saja bila jual beli batal. Bagi saya, justru hubungan ini jauh lebih berharga daripada uang. Sesungguh May. Percayakah kau padaku?"
Mereka berpandangan. Bram menatap sepasang mata yang berkilau indah. Perasaannya bergetar. Maya mengangguk. "Tentu saya percaya padamu. Tapi sebelumnya saya khawatir kalau-kalau kau akan pergi dengan jengkel bila kami tak jadi membeli rumah. Maaf ya. Saya sudah terlanjur melihat posisimu sebagai seorang penjual. Dan sebagai penjual yang baik kau tentunya akan melakukan segala upaya supaya berhasil menjual."
Bram geleng-geleng kepala. Tapi ia tersenyum. "Seorang penjual memang perlu diprasangkai apakah sikap manisnya bukan bagian dari taktik menjual. Ya, itu sudah nasibnya. Tapi saya ingin berterus terang padamu, Mau. Sejak awal melihatmu, saya sudah tertarik ingin berkenala. Kebetulan sekali kau melangkah ke stanku. Apa kau serius atau tidak dengan rumah yang ditawarkan tak lagi jadi persoalan."
Perasaan Bram berbunga-bunga. "Betul kau senang? Saya pun tak kepalang senang. Kekhawatiran mu itu jadi petunjuk bahwa kau sungguh menyukaiku," katanya tanpa malu-malu.
Maya tersipu. "Jadi begini Bram. Akhirnya Bagas memutuskan, tidak jadi membeli keduanya. Baik rumah maupun apartemen. Sebelumnya kami memang sudah membuat perjanjian, bahwa saya yang akan membelikan dan selanjutnya menjadi miliknya, tetapi biaya pemeliharaan dan biaya ini itunya menjadi tanggung jawabnya. Rupanya sesudah dia hitung-hitung, mungkin keberatan juga. Maka dia memutuskan untuk indekost aja."
__ADS_1
"Ah, bukankah dia melepaskan kesempatan punya rumah sendiri? Ia menyia-nyiakan ukuran tangan yang begitu bernilai darimu," Bram tak tahan mengutarakan pendapatnya. Semula ia menganggap Bagas seorang yang cerdas dan tentunya tak akan melewatkan kesempatan sebaik itu.
Maya tertawa. "Pertanyaan mu itu masuk akal. Ia memang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saya memberikan kepadanya uang senilai rumah itu. Terserah mau diapakan, asal jangan dihabiskan untuk foya-foya."
"Aduh, dia sungguh seorang keponakan yang beruntung." Bram merasa takjub untuk kebaikan Maya.
"Sebenarnya tidak juga. Dia tidak punya orang tua. Ibunya meninggal dan ayaknya pun meninggalkan dia karena istri barunya tak menghendaki punya anak tiri. Saya dan ibunya memiliki hubungan yang akrab. Sebelum meninggal ibunya sempat menitipkannya kepada ku. Jadi dia merupakan tanggung jawab saya."
"Dia sudah dewasa sekarang. Umurnya 24, bukan? Sarjana akuntansi dan sudah pula bekerja. Jadi sudah mandiri. Kau tidak perlu membuatnya tergantung kepadamu terus-terusan."
"Tentu tidak. Tapi jangan lupa Bram. Orang yang sudah mandiri masih tetap memerlukan kasih sayang dan kedekatan dengan orang lain. Dan dia cuma punya saya."
"Tidakkah dia tertarik kepada gadis-gadis? Pemuda seganteng Bagas pastilah gampang mendapatkan pacar."
Maya tertawa. "Tentu saja. Bagas itu lelaki normal kok. Kalau dia tidak merasa tertarik kepada gadis-gadi, maka saya akan was-was. Tapi dia belum menemu jodohnya. Sabar sajalah. Tak usah buru-buru."
__ADS_1
Tetapi dalam hati Bram menganggap masalah itu bisa menjadi batu sandungan baginya di kemudian hari. Bila Bagas terlalu dekat dengan Maya, bukankah bisa menyulitkan dirinya? Maka ia pun menjaga baik-baik hubungannya dengan Bagas sambil berusaha menyelami dan mempelajari pemuda itu. Nampaknya ia tidak menghalangi hubungannya dengan Maya atau memperlihatkan rasa kurang senang. Bahkan dalam beberapa kesempatan bila ia berkunjung ke rumah Maya dan Bagas sedang dirumah, maka pemuda itu mencari alasan untuk menghindar, entah naik ke loteng dimana kamarnya berada atau pergi dengan mobilnya. Menurut Maya, Bagas sangat betah didepan komputernya. Itulah kegiatannya bila sedang didalam kamar.
****____****