Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 11


__ADS_3

"Sebenarnya, ya atau tidak. Kau sudah tahu, bahwa pekerjaanku ini membutuhkan uang atau modal. Tak mungkin dengan modal dengkul. Bila uangku macet karena belum dibayar oleh pengembang, padahal aku membutuhkan untuk membebaskan lahan, maka terpaksa aku meminjam dulu. Kalau lahan itu tidak dibebaskan maka proyek akan macet. Jadi aku bisa terjebak di tengah-tengah. Bila pengembang belum membayarkan padahal aku sudah tak punya uang, bagaimana mungkin aku bisa membayar utangku? Aku pun terus menagih tak henti-hentinya, sama saja seperti orang itu. Pakai ancaman segala. Jadi kau tidak perlu takut, Lis. Dalam usaha, memang hak seperti itu bisa terjadi. Utang piutang, pinjam meminjam, adalah hal biasa. Ancaman pun biasa"


"Jadi ancamanya itu main-main?" tanya Lilis heran. Ia teringat bagaimana orang itu membentaknya. Kedengarannya tidak main-main.


"Ah, bukan masalah main-main atau bukan. Ia tentu serius, tapi ia cuma gertakan. Tujuannya supaya kita ketakutan lalu membayarnya."


"Apakah kau akan membayarnya?" tanya Lilis penuh harap.


"Tentu saja aku akan membayarnya bila tagihanku kepada pengembang juga dibayar. Tapi kau jangan cemas, Lis. Meskipun aku rugi besar karena ada yang menipuku, aku masih punya relasi lain yang bisa dipercaya. Tunggu sebentar," Bram pergi mengambil koran. Ia membalik halamannya lalu menunjukkan sebuah berita kepada Lilis. "Nih, bacalah Lis. Disitu diberitakan perihal seorang pengembang yang membawa lari uang muka para konsumen perumahan padahal rumahnya belum berdiri dan tanahnya pun belum jelas statusnya. Dia bukan cuma membawa lari uang konsumen tapi juga uang ku."


"Aduh ...., kasihan sekali kau Mas."


"Tapi kau jangan cemas, ya Lis?" Bram berkata dengan nada membujuk.


"Siapa sebenarnya orang itu Mas?" Ia tidak mau menyebut nama."


"Ya, dia pasti pengecut karena tak mau menyebut namanya. Tapi sebaiknya kau tidak tahu, Lis. Lain kali bila dia nelepon lagi, katakan saja bahwa soal ini merupakan urusanku sepenuhnya dan kau tidak tahu apa-apa."


Lilis merasa terhibur oleh sikap Bram yang dianggapnya ksatria. Begitulah seharusnya seorang suami yang punya tanggung jawab, pikirnya.


"Aku menyesal karena telah menyusahkanmu, Lis," kata Bram sambil memeluk Lilis.


"Tidak apa-apa. Seorang istri sepatutnya tidak cuma mau senangnya saja, tapi juga mau ikut susah. Pendeknya di tanggung bersama," kata Lilis dengan gagah.


"Oh, Terimakasih Istriku." Bram mencium Lilis dengan sikap sayang. Tak terkira kebahagiaan dihati Lilis. Begitu saja terpikir, pernah Johan dulu memperlakukannya seperti itu?

__ADS_1


Tetapi seminggu kemudian Bram pulang ke rumah dengan wajah sembab dengan bibir pecah. Ia mencoba menutupinya dengan saputangan, tetapi Lilis sudah melihatnya. Ia terkejut. "Kau kenapa Mas?"


"Oh, ini tidak apa-apa,Lis. Cuma sakit sedikit kok. Nanti juga sembuh."


"Tapi kenapa?" desak Lilis. Pikirannya menduga sesuatu.


Didalam, Dinda mendengar pekikan ibunya lalu berlari keluar. Ia pun terkejut melihat wajah Bram. Pasti kena hajar seseorang, pikirnya.


"Aku jatuh barusan, terpeleset dan mukaku terkena benda keras." Bram menghindar dari tatapan Dinda.


"Kalau terpeleset, pasti jatuh duduk atau terlentang, Om!" celetuk Dinda penasaran.


Lilis membelalak kepada Dinda. Cepat-cepat Dinda berlalu. Ia tersenyum dibelakang kedua orang itu. Rasakan, pikirnya.


"Kau tidak mengatakan yang sebenarnya, Mas? Aku tak percaya kalau kau jatuh."


"Tadi ada Dinda," bisik Bram. Ia menuding kearah pintu, sebagai isyarat kalau-kalau Dinda menguping disana.


"Ah, masa dia nguping," bantah Lilis tak per. Tapi ia toh berbisik juga. Lalu dengan pelan-pelan ia berjalan ke pintu, kemudian dengan sentakan tiba-tiba ia membukanya. Tak ada siapa-siapa didepan kamarnya. Pintu kamar Dinda tertutup rapat. Sedang Dinda tak kelihatan. Lilis menutup pintu kembali lalu berkata dengan wajah lega, "Benarkan? Dia tak ada dikamar."


"Syukurlah. Aku tak mau ambil resiko. Alangkah malunya aku di depan Dinda bila dia sampai tahu. Sudah tak suka nanti malah jadi tambah benci."


Lilis menatap dengan iba. Kembali muncul rasa jengkel kepada Dinda. Anak itu memang bandel sekali. Tapi jelas sangat sulit memaksa Dinda menyukai Bram. Yang pasti masalah itu harus disisihkan dulu sekarang. Ada yang lebih penting. "Katakan. Apakah kau dianiaya orang, Mas? Orang yang menagih itu?"


"Ya," sahut Bram lirih.

__ADS_1


Lilis merinding. Tatapan matanya mengandung horor. Untung Bram cuma kena tempeleng. Bagaimana kalau ditusuk? Jangankan untuk uang lima puluh juta, untuk beberapa ratus rupiah pun nyawa bisa melayang. "Jahat sekali orang itu," ia mendesis gemas tapi juga takut.


"Jangan cemas, Lis. Aku akan terus berupaya menagih pada developer. Kalau terdesak biar kembali modal saja, tam perlu mengambil keuntungan. Yang penting cepat dibayar. Dan kalau sangat gawat, merugi pun tak apa. Habis bagaimana lagi? Sudah lama kutawarkan mobilku padanya, tapi ia tak mau."


"Bagaimana kalau developer itu ingkar, Mas? Atau mengulur-ulur?"


"Aku yakin ia tidak akan ingkar. Kami sudah cukup lama bekerja sama. Mungkin pada saat ini ia belum mampu membayar. Tapi kau tidak perlu ikut cemas, Lis. Ini urusanku dan tanggung jawab ku. Aku akan mencari upaya lain. Barangkali mencari pinjaman lain. Sudahlah. Tak perlu dipikirkan lagi ya?" Bram mencoba tersenyum tapi jadinya meringis.


Lilis termenung. Ia punya ide untuk menolong Bram, tapi masih ragu-ragu. Apakah Bram mau menerima uluran tangannya dan tidak tersinggung karenanya? Ia menilai orang seperti Bram punya harga diri yang tinggi. Nyatanya sampai babak belur pun ia tidak mau minta bantuan. Padahal Bram tentu tahu, bahwa ia punya kemampuan untuk membantu. Ia akan memikirkan dulu baru mengemukakan maksudnya.


Bram memperhatikannya sejenak. "Sudahlah. Kau jangan risau. Uang sejumlah itu tidak terlalu banyak, Lis. Belum sampai satu milyar, bukan?"


"Ya. Kau benar. Kita tidak perlu putus asa, Mas."


Selanjutnya mereka tidak lagi membicarakan hal itu. Tetapi esok harinya penelepon gelap itu kembali mengusik ketenangan Lilis. "Jadi ibu sudah melihat wajah suami ibu kemarin? Itu belum seberapa, Bu. Baru secuil dari tindakan yang bisa saya lakukan terhadapnya bila tagihan itu tidak kunjung dibayar."


"Cuma secuil?" tanya Lilis gemetar. "Itu kan kriminal Pak."


"Kalau memang kriminal, Ibu mau apa? Mau lapor? Silahkan!"


"Tidak, tidak. Saya tidak bermaksud melapor. Saya cuma ingin bilang. Bapak tidak usah berbuat kasar. Biarpun suami saya mungkin belum mampu membayar pada saat ini, tapi saya bisa membantunya."


"Oh ya? Wah, bilang dong dari kemarin-kemarin! Coba kalau ibu bilang saat itu, tentu suami ibu tidak perlu babak belur. Baik. Saya akan menelepon lagi untuk menanyakan kabarnya. Sementara menunggu saya tidak akan mengganggu pak Bram."


****____****

__ADS_1


__ADS_2