
"Bagaimana menurutmu Dind?" tanya Johan setelah mereka berada didalam mobil.
"Dia bohong Yah," kata Dinda dengan nada pasti.
"Yang bagian mana?"
"Semua percakapan nya bohong. Seandainya ibu memang suka berjudi, mustahil mengajak dia ikutan. Sama saudara sendiri tidak pernah bilang-bilang, masa mengajak orang lain yang juga dikenal Tante Della. Apalagi Frida mengakui sendiri bahwa gajinya kecil. Sebelum dia mengakui hal itu, mustahil ibu tidak tahu. Orang yang pergi pulang naik bus sudah pasti tak banyak duitnya kan? Lain halnya kalau Frida tampil hebat, pakai mobil mewah misalnya. Dan ucapanya yang paling belakang itu juga mencurigakan. Barangkali dia menyangka sesuatu yang buruk dari jatuhnya ibu."
"Ya. Kupikir juga begitu. Aku sependapat denganmu. Nyatanya dia jadi gugup ketika didesak dan betapa senangnya dia ketika busnya datang."
"Barangkali dia berkomplot dengan Om Bram, Yah. Jadi dia sudah diajari lebih dulu."
Johan terkejut oleh prasangkaan Dinda yang cukup jauh itu. "Ah, apa iya sampai ke situ, Dind?" katanya ragu-ragu. "Apa instingmu yang bilang begitu?"
Dinda tertawa. Ayahnya tidak bergurau ia merasa tergelitik. "Ih ayah lucu. Ini tak ada hubungannya dengan isnting. Aku pakai cara yang rasional saja. Insting itu bekerja lebih baik kalau kita bergaul dan mengamati lebih lama. Jadi butuh waktu, dong. Mana mungkin begitu melihat bisa terasa. Memangnya paranormal? Apalagi aku melihatnya samping terus."
Johan tertawa juga. "Kata Tante Della, instingmu tajam."
"Disamping insting, orang harus pakai nalar juga Yah. Sekarang aku sudah kapok mengandalkan insting melulu untuk bertindak. Sudah terbukti aku melakukan kesalahan waktu menghadapi Om Bram."
"Ya, sudahlah. Itu jangan disesali lagi."
"Nggak Yah. Cuma ngomong aja kok."
"Baiklah. Kita kembali lagi pada masalah tadi. Katamu, kemungkinan dia berkomplot sama Om Bram, Bagaimana itu?" Johan ingin tahu jalan pikiran Dinda.
Dinda merasa senang karena ayahnya tidak melecehkan pemikirannya. Mereka bisa berdiskusi seperti sesama orang dewasa. "Pertama, dia yang memperkenalkan ibu kepada Om Bram. Kedua, dia tahu situasi keluarga dan kondisi keuangan ibu. Bukan cuma dari saldo ibu di bank, tapi mungkin ibu sendiri yang menceritakan. Ketiga, soal judi yang tidak masuk akal itu. Masa ibu mengajak dia, kalau ibu memang suka berjudi. Jadi, kalau bukan diajari Om Bram, mana mungkin dia bilang begitu."
"Wah, itu pemikiran yang bagus.' puji Johan. "Kalau memang pemikiran itu benar, tentunya sudah dipersiapkan sebelumnya."
"Tentu saja Yah," sahut Dinda bersemangat. "Dia bisa saja menelepon Om Bram setelah berjanji sama ayah. Lalu si Bram itu menyuruhnya begini begitu. Mungkin juga si Bram sudah memperkirakan bahwa kita akan menyelidiki dirinya. Dan orang pertama yang kita tuju tentunya adalah orang yang memperkenalkan ibu kepadanya."
__ADS_1
"Ya, itu masuk akal, Din. Jadi kita harus mencurigai Frida."
"Tentu Yah."
Ketegasan Dinda itu menyentuh perasaan Johan. Bagaimana Dinda bisa begitu yakin terhadap sesuatu yang masih berupa perkiraan semata? Keyakinan seperti itu sesungguhnya
juga beresiko buruk bila ternyata tidak benar. Tetapi sampai saat itu ia masih bisa menerima pendapat Dinda, bahkan mengaguminya juga. Pendapat Dinda itu sangat rasional. Apakah itu berkat pengaruh positif buku-buku yang dibacanya? Diam-diam ia bersyukur bahwa selama masa perpisahannya dengan Dinda ia selalu memberinya uang yang khusus untuk membeli buku setiap bulan. Dinda pernah mengeluh kepadanya bahwa ibunya tak mau sering-sering membelikan buku yang disukainya dengan alasan tak berguna. Ibunya lebih suka membelikan baju daripada buku bacaan.
"Aku punya ide, Yah. Itu kalau ayah tidak keberatan."
"Oh tidak. Katakan saja."
"Kenapa ayah tidak pura-pura merayunya?"
Johan terkejut. Baginya, itu ide yang gila. Tapi ia berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaannya. "Katakan dulu, tujuannya apa?"
"Sudah jelas dong. Untuk mengorek kebenaran."
"Aku melihat tatapan matanya pada ayah. Kelihatannya dia menyukai ayah. Dan terus terang ayah ini lumayan tampan lho."
"Wah, apakah itu pujian gombal untuk mencapai tujuan ataukah pujian yang tulus?"
"Pftfptfpt ha-ha-ha ayah!' seru Dinda sambil tertawa.
Johan tertawa juga. Kemudian berkata serius, "Aku bisa di kemplang Tante, Din!"
"Tentu saja yah. Kalau kita tidak berterus terang kepadanya. Dia harus tahu juga dong. Tante Irene kan sudah tahu semua permasalahan. Sebaiknya ajak dia berdiskusi juga. Siapa tau dia punya ide cemerlang."
"Ide itu berbahaya, Dind. Bagaimana kalau ayah terjerat oleh perempuan itu?"
Dinda menatap ayahnya dengan melotot. Dia tiba-tiba teringat akan perselingkuhan yang dilakukan ayahnya semasa masih menjadi suami ibunya. Apakah semua lelaki itu tak tahan godaan?
__ADS_1
"Hei, kenapa kau pandangi aku seperti itu?" tanya Johan kaget.
"Apa maksud ayah dengan omongan tadi?"
"Oh itu. Aku cuma bercanda, kok."
"Tante Irene itu baik, Yah. Jangan khianati dia ya?"
Johan terkejut lagi. "Aduh, bicara apa sih kamu ini Din? Apakah ini instingmu?"
"Bukan Yah. Cuma permintaan," sahut Dinda serius.
"Jangan khawatir, Dinda. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Tadi aku cuma bercanda."
"Aku percaya, Yah. Biar pun belum mengenal Frida, aku yakin Tante Irene jauh lebih bermutu daripada dia. Apakah Ayah tersinggung?"
"Bukan tersinggung, tapi sedikit malu."
"Sori Yah."
Johan mengulurkan tangan yang disambut dengan genggaman erat oleh Dinda. "Mulai sekarang kita saling menceritakan masalah masing-masing. Bagaimana Dind?"
"Oke Yah. Sebagai awal keterbukaan kita, aku ingin ayah tahu bahwa aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi ayah. Siapa tahu diam-diam ayah mencemaskan hal itu. Tapi aku ingin ayah bahagia. Kalau ayah tidak bahagia maka aku bisa kehilangan ayah seperti halnya ibu. Bila orang tidak bahagia didatangi gombal, macam Bram itu, maka dia mudah diperdaya. Memang aku masih punya orang-orang yang sayang padaku, seperti Om Bus dan Tante Della, tapi mereka bukan orangtua ku."
Tiba-tiba mata Johan menjadi basah. Kalau saja tidak sedang berkendaraan pastilah ia sudah memeluk Dinda untuk menyatukan perasaan sayangnya. Ternyata anak itu toh punya sisi manusiawi juga, yaitu punya rasa takut kehilangan dan kebutuhan orang lain. Padahal mulanya Dinda membangkitkan rasa segan dan bingung karena tampil mandiri dan dewasa. Johan merasa bahagia karena dirinya dibutuhkan. Baru sekarang ia merasa bukan cuma "menemukan" Dinda tapi juga memahaminya. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi untuk sebagian besar hingga lenyapkan rasa asing.
"Terimakasih Dind. Ucapan mu itu luar biasa. Aku berjanji tidak akan mengkhianati Irene. Tapi bagaimana kalau dia yang meninggalkan aku?"
****____****
to be continued 😂
__ADS_1