
Happy Reading
****____****
Meskipun tidak terlalu puas dengan hasil yang diperoleh, toh Dinda dan kerabatnya tidak pula kecewa. Bram sudah mendapatkan balasannya. Ada terlalu banyak hal di dunia ini yang tak bisa dipastikan, baik dengan saksi, bukti konkret, maupun pengakuan. Yang tertinggal tetap saja kesimpulan dan teori. Tetapi mereka tetap teguh berpegang pada kesimpulan itu. Mereka perlu menggali kubur Lilis untuk mencari bukti. "Ibu tidak boleh diusik!" kata Dinda dengan tegas.
Bahkan keinginan dan pendirian Dinda itu dihargai semua orang , termasuk petugas. Pada suatu ketika, dengan caranya sendiri, ia berhasil menyelamatkan jasad ibunya dari kremasi. Ia teguh dengan keyakinan bahwa ibunya tidak pernah punya keinginan untuk dikremasi bila meninggal. Tapi sebenarnya bukan cuma keyakinan itu yang jadi pegangannya. Saat itu ia masih menyimpan harapan bahwa jenazah ibunya kelak bisa di autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya. Tapi justru sekarang ketika kemungkinan itu sudah tidak perlu lagi. "Aku sudah tahu bahwa kesimpulan ku dulu benar semata. Bram pembunuh. Dia pun sudah mati dengan racunnya sendiri. Jadi buat apa mencari bukti konkret bila itu cuma menyiksa dan menggangu ibu?"
Sementara itu hubungan Dinda dengan Bagas kian akrab. Keduanya masih melanjutkan pertemuan setiap Minggu pagi didepan komputer. Setiap kali datang selalu ada yang dibawa Bagas, disket dan buku. Dinda sangat senang, baik dengan Bagas maupun dengan kegiatan barunya. Hal itu membuat ia lebih mudah memahami apa yang diajarkan Bagas. Ia sudah pintar membuat program dengan berbagai bahasa pemrograman. Bagas memuji nya berulang kali hingga ia merasa bangga.
"Aku sudah tahu apa cita-cita ku nanti Yah!" Dinda berseru dengan antusias.
"Oh ya? Apa itu, Dinda?" tanya Johan tersenyum senang. Kira-kira ia bisa menebak apa jawaban Dinda.
"Jadi programmer, Yah!"
"Wah, bagus itu Dinda! Bagus sekali!" seru Johan girang. "Apakah Bagas yang mengarahkan mu?"
"Sama sekali tidak, Yah! Dia cuma membuka jalan dan aku menemukan arahku!"
"Dia sudah tahu?"
"Sudah, Yah. Dia juga girang sekali. Katanya profesi itu cerah sekali dimasa mendatang. Aku tidak perlu takut tak kebagian pekerjaan."
__ADS_1
"Dia benar."
Didepan Johan, Bagas memuji Dinda. "Dia anak yang luar biasa, Om. Saya senang sekali punya adik seperti Dinda."
Johan mengangguk tapi dalam hati dia terkejut. "Dia menganggap Dinda sebagai adik," Johan melapor kepada Irene.
Irene pun terkejut. Ia merasa prihatin untuk Dinda. "Wah, Dinda pasti akan kecewa. Kasihan."
"Apa kau yakin Dinda menaruh hati ada Bagas?"
"Ya. Aku yakin."
"Barangkali Dinda pun menganggap Bagas sebagai kakak. Ah, sayang. Sebenarnya mereka cocok sebagai kakak adik."
"Ku harap dugaan mu keliru."
"Tidak mungkin."
"Ya, kelihatannya kau lebih tahu. Tapi terus terang, aku memang lebih suka Bagas sebagai kakak Dinda saja."
"Kenapa? Dia pemuda yang baik."
"Entahlah."
__ADS_1
"Apa karena dia terlalu ganteng seperti katamu dulu?"
Johan tertawa. "Sebenarnya bukan begitu, Ren. Aku tidak tahu pastinya. Pada perasaanku mereka tidak cocok."
"Jangan-jangan kau iri."
"Hus, jangan menuduh sembarangan. Aku seorang ayah yang normal."
"Mungkinkah Bagas menganggap Dinda kurang wajar karena kepekaannya?" Irene melintas dugaannya.
"Maksudmu, Bagas takut pada Dinda?" Johan tertawa. Ia menganggap pemikiran Irene itu tidak masuk akal. "Dinda itu makhluk yang paling manis didunia. Dan juga gagah. Banyak cowok naksir padanya."
"Tentu saja. Tapi kebanyakan lelaki lebih menyukai perempuan yang lemah dan tidak mendiri supaya bisa bergantung kepada mereka. Sedang Dinda sangat mandiri dan jelas tidak lemah. Bagas tahu betul akan hal itu. Sedang cowok lain belum tahu."
"Biar sajalah. Aku yakin Dinda bisa mengatasi kekecewaannya. Dia sudah cukup sering mengalami cobaan. Lagi pula, dunia bukan sedaun kelor."
Mereka saling menentramkan. Situasi sekarang memang sudah tentram, maka tak ada alasan untuk menimbulkan masalah baru.
Sementara kehidupan berjalan seperti biasa, satu misteri lagi berhasil terungkap. Penjahat yang membongkar rumah Dinda berhasil ditemukan secara kebetulan karena ia tersangkut kasus perampokan lain dimana ia berhasil ditangkap basah. Dalam pengakuannya ia mengatakan terus terang bahwa kejahatan yang dilakukannya dirumah Dinda bersama seorang temannya itu atas suruhan Bram. Ternyata ia bukan cuma disuruh merampok tapi juga membunuh Dinda dan Bi Imah. Pendeknya, seisi rumah itu harus 'dihabisi'. Sayangnya, pengakuan itu cuma sepihak karena tak bisa dikonfirmasi dengan keterangan Bram. Benarkah pengakuan itu? Apakah karena Bram sudah meninggal maka penjahat itu berani bicara seenaknya? Ia tak bisa memberikan sesuatu bukti bahwa keterangannya adalah benar. Bahkan ketika ditanyakan kepadanya, apakah ia tahu alasan Bram menyuruh seperti itu, ia mengatakan tidak perlu alasan dan tidak perlu tahu. Seorang pembunuh bayaran memang tidak memerlukan alasan.
Bagi Dinda dan kerabatnya, pengakuan penjahat itu cuma membuktikan kebenaran dugaan mereka sebelumnya. Tidak ada lagi suprise. Toh meninggalnya Bram telah memberikan rasa aman kepada mereka, khususnya Dinda. Seandainya Bram masih hidup, bukan tidak mungkin ia akan mengulangi hal yang sama. Tak mungkin ada tempat yang benar-benar aman bagi Dinda untuk bersembunyi.
****____****
__ADS_1