
Dinda memang merasa nyaman sekarang. Ia tidak perlu repot lagi setiap kali mau tidur. Perasaan itu sangat menyenangkan. Ia mendengar suara canda ibunya dengan Bram tanpa emosi lagi. Bahkan dia bisa tak peduli, hingga lama-kelamaan suara-suara itu tak jelas lagi makanya hingga tak lagi mengganggunya. Pikirannya bisa dilayangkan kepada hal-hal lain. Ia membayangkan kebersamaannya dengan ayahnya dan Irene.
Porsi latihannya yang rutin adalah Sabtu dan Minggu. Tapi bila ia tak ada ulangan dan tak banyak PR, maka ia bisa menambah dengan hari lain yang senggang. Ayahnya tak keberatan bahkan menyambut dengan senang. Demikian pula Irene. Mereka sama sekali tidak kelihatan merasa terganggu oleh kehadirannya, hingga ia tidak merasa menjadi orang ketiga disitu.
"Masa bulan madu sudah lewat, Din. Terus menerus berdua juga membosankan, dong. Perlu ada variasi." Irene mengakui.
Pengakuan itu mengherankannya. Sudah diujung lidah pertanyaan, mengapa dia orang itu tidak menikah secara resmi saja dan kemudian punya anak. Tetapi ia takut pertanyaan seperti itu bisa menyinggung perasaan. Maka dia mengalihkan pertanyaannya kepada hal-hal seputar pekerjaan Irene. Mereka berdua bisa bergaul dengan baik. Di mata Dinda, Irene adalah wanita mandiri yang tak suka menuntut. Ia ingin bebas dan karenanya ia pun memberi ayahnya kebebasan. Tetapi hal itu tidak lantas membuatnya bebas berhubungan dengan Johan sudah berakhir, jadi tak ada penyelewengan atau perselingkuhan. Maka kesimpulan Dinda, orang-orang memilih kumpul kebo sebenarnya tidak yakin dengan cintanya kepada pasangannya. Jadi mereka memilih hubungan yang sifatnya sementara. Bisa bubar besok lusa. Tapi bisakah itu terlaksana tanpa sakit hati bagi setidaknya salah satu? Bila demikian, lantas apa bedanya dengan perkawinan? Ia membanding dengan perpisahan kedua orang tuanya.
Sebenarnya memang banyak bedanya. Karena perkawinan dilaksanakan lewat berbagai prosedur yang sama sulitnya. Sakit hatinya sama, tapi prosedurnya berbeda. Dan masih ada lagi anak-anak yang harus ikut menanggung sakitnya. Dia sendirilah contohnya.
__ADS_1
Pengamatannya memang menghasilkan tambahan renungan dan wawasan. Ia tidak akan begitu saja mencontoh kedua orang itu seperti yang selama ini dikhawatirkan ibunya. Tetapi ia bertekad, pada suatu saat yang tepat ia akan menanyakan kepada ayahnya.
Sekarang, ia punya motivasi tertentu dan karena nya tak ingin gagal sebelum tercapai. Bila ayahnya sampai tersinggung lalu tak mau melatihnya lagi, maka ia akan rugi. Sampai saat ini ia sangat menyenangi latihan-latihannya, meskipun ia harus jatuh bangun dan lecet sana sini. Menurut ayahnya, itu wajar saja. Dan seharusnya memang begitu. Orang harus bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.
Latihan pernapasan yang dilakukannya dengan rajin ternyata memang terasa hasilnya. "Ternyata tak sulit, bukan?" kata ayahnya. "Yang sulit memang bukan praktek nya melainkan disiplinnya."
Dinda mengakui kebenaran kata-kata itu dan menghargai nya juga. Tanpa merasakannya sendiri mungkin sulit baginya untuk mengakui. Sekarang ia merasa dirinya lebih segar dan bugar, lincah dan enerjik. Dibantu oleh latihan kungfu, sepasang kakinya terasa ringan dan lancar bila dibawa berjalan. Tak ada yang disebut salah melangkah, terpeleset, atau tersandung seperti yang sering dialaminya. Bila toh kebetulan jalan licin atau berlubang yang membuatnya kehilangan keseimbangan, tapi itu cuma sesaat saja. Dengan cepat ia berhasil mengatasi hingga tak sampai terjatuh. Bukan cuma sepasang kakinya yang ringan, tubuhnya pun demikian, dan gerak refleks nya pun tajam. Ketika ia menceritakan pengalamannya itu kepada ayahnya dengan perasaan takjub, ayahnya tertawa senang.
"Oh, tentu saja tidak, Yah. Kalau bisa, aku ingin mewarisi semua ilmu ayah. Boleh kan?"
__ADS_1
Johan tertawa keras. Kentara ia senang sekali. "Tentu boleh. Tentu. Tapi ingat, motivasi itu harus kau pertahankan."
Sekarang, Dinda merenungkan semua itu dengan tersenyum. Sesekali melintas lewat telinganya suara tawa ibunya dan Bram. Rupanya kedua orang itu sedang bergembira. Tetapi suara-suara mereka cuma melintas tanpa kejelasan. Untungnya tak mengganggu. Ia lebih menikmati renungan ya. Ia jadi menyadari juga, bahwa hasil latihannya selama ini bukan cuma bermanfaat secara fisik, tapi juga disegi psikis dan mental. Mungkin belum terlalu matang, tapi ia pun lebih mampu menyimpan kekesalan tanpa merasa tersiksa. Jadi ibunya dan Bram boleh bermesraan didepan matanya tanpa membuatnya emosi. Perasaan sebal masih ada tapi bisa diatasi.
Ia tersenyum merenungkan kata motivasi yang diucapkan ayahnya itu. Tentu ayahnya tidak tahu apa motivasinya yang sesungguhnya. Yang pasti bukan karena ia ingin menguras ilmu yang dimiliki ayahnya. Pada awalnya, motivasi yang jadi pendorong justru adalah e'mosi kebenciannya terhadap Bram. Ia selalu membayangkan dirinya akan mampu melawan lelaki itu bila suatu waktu diserang lalu berbalik menghajarnya sampai babak belur. Dengan demikian Bram akan terkejut bahwa anak perempuan yang semula diremehkannya itu ternyata punya kemampuan tersembunyi. Ia benci sekali mengenang tatapan Bram yang diyakininya mengandung cemooh dan melecehkan itu. Terasa dirinya bagaikan makanan lezat yang membangkitkan air liur. Bayangkan bila ayahnya tahu, apa motivasi sebenarnya itu.
Dinda tertidur ditengah renungannya. Tapi kemudian ia terbangun ketika telinga yang menjadi peka menangkap bunyi-bunyi pelan. Ia membuka mata dan beberapa saat lamanya harus membiasakan diri dulu dengan kegelapan dikamarnya. Sebenarnya tak gelap pekat karena masih ada cahaya lampu dari lorong di depan kamarnya yang masuk lewat sekat-sekat lubang angin. Setelah beberapa saat matanya bisa melihat jelas obyek-obyek didepannya. Ia mengarahkan pandangannya ke pintu. Karena jarak cukup jauh ia bangun lalu mendekat dan berhenti pada jarak sekitar satu meter dari pintu. Handel pintu bergerak-gerak! Jelas ada orang yang bermaksud membuka dan mendorong pintu. Tapi tentu saja tak berhasil. Lain halnya bila cuma diganjal meja dan kursi. Dalam hal itu pintu masih bisa terbuka, cuma sulit didorong. Toh bila tenaga pendorongnya kuat maka pintu bisa juga bergerak. Itu sudah terbukti beberapa kali karena posisi meja kursi bergeser dari tempat semula.
Dinda berpikir keras. Apakah sebaiknya ia membuka selot pelan-pelan lalu membuka pintu dengan tiba-tiba? Pastilah orang diluar tak keburu lari. Ia bisa menangkap basah. Tapi kemudian muncul rasa takutnya. Apa yang mau dilakukannya bila kemudian berhadapan? Tiba-tiba saja terpikir akan kemungkinan lagi. Bagaimana kalau orang disana itu bukan Bram? Ia pun tak yakin akan kemampuannya sendiri menghadapi orang itu.
__ADS_1
****____****
to be continued 😂