Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 4


__ADS_3

Sesudah Perkawinan, Bram Prayoga memasuki rumah Lilis bukan cuma dalam pengertian harifah melainkan juga dalam pemahaman yang lain. Sekarang ia ikut menempati rumah Lilis sebagai suami dan ayah tiri Dinda. Rumah itu memang milik Lilis, yang merupakan bagian warisan yang ditinggalkan orangtuanya, Dia dengan Della, dua bersaudara, sama-sama mendapatkan sebuah rumah dan sejumlah deposito yang nilainya sama.


Bram lelaki kedua yang memasuki rumah Lilis. Yang pertama Johan, suami pertama dan ayah kandung Dinda. Tetapi Johan harus meninggalkan rumah itu setelah bercerai. Ia diusir, dilempar keluar dengan cercaan dan hardikan. Di mata Dinda, itu merupakan suatu penghinaan yang merendahkan martabat. Tapi bagi ibunya, perlakuan itu sudah sepantasnya sebagai balasan atas perbuatan hina yang telah dilakukan Johan. Apa salahnya membalas dendam? Patutkah seorang suami berselingkuh diperlakukan sebagai raja?


Dinda masih mengingat dengan jelas karena peristiwanya baru tiga tahun yang lalu. Ayahnya mencium pipinya dengan berlinang air mata lalu pergi dengan menjingjing sebuah koper besar dibawah hujan cercaan ibunya. Dinda mengantarkan kepergian ayahnya sampai memasuki taksi lalu melambaikan tangannya meskipun ibunya memanggilnya masuk. Ia cukup lama termangu di luar rumah, menyadari kenyataan bahwa mulai saat itu tak akan ada lagi orang di rumah yang dipanggilnya "Ayah". Tak akan ada lagi seorang teman yang lain dirumah itu di samping ibu dan pembantu. Ada rasa kehilangan yang menyergapnya. Ketika ia kembali masuk rumah ibunya menghardiknya, melanjutkan kemarahannya yang belum terpuaskan.


Sekarang, ada lelaki kedua memasuki rumahnya. Apakah kelas ia pun akan terlempar ke luar? Oh, betapa inginnya Dinda bahwa hal itu bisa terjadi. Ia berharap Bram akan cepat-cepat terlempar keluar. Dalam lamunannya ia membayangkan hal tersebut. Tetapi kemudian ia menyadari dengan perasaan pesimis, bahwa Bram tidak sama dengan ayah kandungnya. Mereka memang sama-sama lelaki, tapi jelas berbeda. Maukah Bram pergi dengan kepala tertunduk kalau diusir seperti ayahnya dulu? Jangan-jangan malah ibunya yang terusir! Ia merasa ngeri akan kemungkinan itu. Yang demikian tidak boleh terjadi. Ia akan membela ibunya. Kalau perlu dengan mati-matian. Tapi ketika terpikir bahwa orang yang mau dibela tidak akan mempercayainya ia menjadi lunglai. Mana mungkin ibunya mau mempercayai pikiran-pikiran dan perkiraannya? Pasti ibunya akan berbalik menuduhnya telah berprasangka buruk karena iri hati semata. Ah ya, sesungguhnya ia memang iri hati bahwa ibunya mencintai lelaki itu begitu rupa, sehingga ia merasa tidak kebagian tempat di hati ibunya. Bahkan untuk sekedar memberi perhatian pada perasaan dan pikirannya pun ibunya tak mau. Padahal sungguh mati, pikiran dan perkiraannya mengenai lelaki itu tidaklah dilandasi oleh iri hati. Kedua faktor itu tidak punya hubungan. Lantas, apa yang bisa dilakukannya sekarang? Tak ada! Itu sesuai dengan nasihat yang diberikan Della kepadanya. Ia memang tak bisa berbuat apa-apa karena tak ada bukti bahwa lelaki itu tidak baik. Perkiraannya semata-mata karena insting belaka. Sedang orang cuma mempercayai bukti, yang konkret dan bisa dipegang. Hal seperti itu tentu saja tidak dimilikinya. Man mungkin? Insting adalah suatu prakiraan, yaitu mengenai sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Jadi mana ada bukti konkretnya di masa sekarang.


Hanya ada satu yang bisa dilakukannya, yaitu waspada! Itu pun sesuai dengan nasehat Della. Tapi ia sadar sepenuhnya bahwa ia cuma bisa mewaspadai ancaman terhadap dirinya, sedang mengenai ibunya sama sekali tidak mungkin. Apalagi sekarang ini ibunya sedang dibutakan oleh cinta. Huh, cinta! Apakah usia bukan lagi faktor penentu kedewasaan orang dalam menilai cinta? Muda dan tua sama saja bodohnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Dinda merinding dalam kesendirian di kamarnya. ia mendengar sepasang pengantin baru itu tertawa dalam canda ria yang genit dan manja. Ha ha ha dan hi hi hi, bagaikan diet suara rendah dan tinggi. Ia merasa enek. Benci. Sebal. Ia mencoba menutup kupingnya tapi suara-suara itu tetap saja terdengar. Ia benar-benar harus berjuang mengatasi emosinya. Dengan berdiam dikamar ia memang tak perlu melihat, tapi ternyata ia masih bisa mendengar. Kenapa kedua orang itu tidak merendahkan suara mereka? Orang toh bisa tertawa pelan-pelan dan tak perlu mengeluarkan bunyi-bunyian bila sedang bermesraan. Ataukah ada kesengajaan?


Pelan-pelan Dinda keluar dari kamarnya dan menutup pintunya pelan-pelan juga. Jangan sampai terdengar oleh kedua orang yang berada dikamar seberangnya bahwa ia tak lagi berada di kamarnya. Ia pergi ke dapur, bagian rumah yang paling belakang. Disana ia tak mendengar suara-suara itu. Ia duduk didekat meja makan dan membaca novelnya. Di tempat itu satu-satunya suara yang bisa terdengar hanyalah dengkur pelan bi Imah yang kamarnya terletak di samping dapur. Pada saat seperti itu dengkur bi Imah kedengaran jauh lebih merdu dibanding suara-suara yang menyebalkan tadi.


Setelah beberapa saat menekuni bukunya ia bisa melupakan kejengkelan barusan dan mampu berkonsentrasi pada bacaannya. Kemudian ia merasa lapar lalu membuka lemari es dan menemukan makanan atau tepat nya minuman, yang paling gampang dicerna, yaitu sekotak susu murni. Ia melanjutkan membaca sambil sebentar-sebentar menghirup susu. Di sela membaca ia masih sempat bersyukur kepada para pengarang yang telah menghasilkan karya yang dapat mengalihkan stres nya. Bayangkan bila ia tak dapat menemukan sesuatu kegiatan yang bukan saja menghibur tapi juga meredakan ketegangan. Bukankah ketegangan yang terus-menerus tanpa penyaluran bisa membuat orang sakit mental?


Tetapi bukan cuma Dinda yang terkejut. Lilis dan Bram pun demikian.


"Lho, lagi ngapain, Din?" tanya Lilis.

__ADS_1


Dinda tak menjawab. Ia cuma menunjuk bukunya.


Bram menggamit Lilis. "Pasti Dinda tak bisa tidur, atau lapar. Sama seperti kita, Lis!" katanya sambil tertawa. Lalu ia mendekati Dinda. "Baca buku apa sih, Din? Kelihatannya seru betul!."


Dinda melirik dan melihat perut buncit Bram. Ia cepat-cepat berpaling. Rasa eneknya muncul kembali.


"Apa kau tak bisa menjawab, Din?" tanya Lilis jengkel.


****____****

__ADS_1


__ADS_2