
Reserse Arman datang bersama tim forensik. Sementara Arman meminta keterangan ada Maya, timnya segera bekerja memeriksa jenazah dan mengumpulkan barang bukti. Bustaman menyertai mereka untuk memberikan keterangan pendapat sebagai seorang dokter.
Meskipun masih nampak pucat dan bermata merah. Maya sudah lebih tenang dan terkendali. Ia menceritakan semua pengalamannya sejak bangun pagi.
"Jadi sudah menjadi kebiasaan anda untuk menukar-nukar makanan dan minuman milik anda dan suami anda?" tanya Arman.
"Ya, pak. Tapi hanya bila ada kesempatan dan saya mencurigai."
"Sejak kapan itu anda lakukan?"
"Sejak berkenalan dengan Dinda dan mendengar ceritanya tentang ibunya."
"Apakah sebelumnya anda memang sudah mengenal Dinda dan ibunya?" tanya Arman sambil memandang Johan dan Dinda bergantian.
"Biarkan saya saja yang bercerita, Pak." Johan menawarkan. Ia menceritakan kisah perkenalkannya dengan Bagas dan kemudian dengan Maya. Bagas membenarkan semuanya.
"Kenapa anda menyelidiki pak Bram? Apakah disuruh Bu Maya?" tanya Arman kepada Bagas.
"Saya memang disuruh mengecek apakah pengakuan Om Bram mengenai masa lalunya itu benar. Tante tidak mau dibohongi. Ia sudah sering didekati lelaki yang ternyata cuma pintar ngomong. Ternyata kisah yang diberikan om Bram ada benarnya. Ia memang duda dua kali dan kedua mantan istrinya meninggal. Maka Tante menganggap dia lelaki yang jujur karena tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Sayangnya setelah mereka menikah saya baru mendengar cerita Dinda yang mengejutkan. Sudah terlambat. Maka satu-satunya jalan cuma meminta Tante untuk berhati-hati."
"Kalau begitu anda percaya da teori Dinda mengenai pak Bram."
"Ya. Saya percaya."
"Bagaimana mungkin anda bisa segera mempercayai cerita dari seseorang yang baru Anda kenal?"
"Saya bukan cuma mendengar dari Dinda tapi juga dari pak Johan. Kisah Dinda mungkin emosional, tapi saya melihat kebenaran dari seorang anak yang begitu mencintai dan ingin membela ibunya. Sudah jelas dia lebih peka dan lebih mendalami masalahnya dibanding orang luar yang cuma meributkan bukti konkret. Saya berpegang pada hal itu pak. Saya juga mencintai Tante yang tak ubahnya seorang ibu bagi saya. Saya tak ingin kehilangan seperti halnya Dinda yang kehilangan. Alangkah bodohnya kalau saya tak mengambil manfaat dari pelajaran itu." Bagas menjelaskan dengan sikap sentimetil. Matanya merah dan berair.
Arman merenung sejenak. Lalu dia mengangguk. "Ya. Dramatis sekali, bukan? Jadi kalau bukan pak Bram yang menjadi korban, pastilah bu Maya."
"Tentu," kata beberapa suara sekaligus. Tetapi Maya diam saja. Pikirannya seperti tidak berada ditempat.
"Apakah Bu Maya terdorong oleh insting atau sekedar mengikuti kebiasaan waktu menukar kedua cangkir tadi?" tanya Arman.
__ADS_1
Maya sedikit terkejut oleh pertanyaan itu. Tepukan Dinda ada pundaknya mengembalikannya pada kenyataan. Arman harus mengulangi pertanyaannya. "Entahlah, apakah itu pantas disebut insting atau bukan. Minuman yang dibuat Bram itu persis dengan minuman yang diminum ibu Dinda sebelum meninggal. Begitu saja saya menjadi takut. Bukankah saya tidak melihat proses pembuatannya?"
"Apakah anda memperhatikan reaksinya waktu minum?"
"Ya. Tapi tegukan pertama tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, hingga saya tak lagi memperhatikan."
"Anda juga minum?"
"Ya. Sedikit-sedikit seperti kebiasaan saya. Kalau Bram makannya cepat. Minum nya juga begitu. Makanya dia menghabiskan minumannya. Mungkin tidak merasa ada kelainan."
"Dia tidak kelihatan curiga?"
"Kelihatannya tidak."
"Mengingat cangkir itu seharusnya untuk anda, berati dialah yang punya niat meracuni, maka bagaimana sikapnya waktu itu? Apakah dia memaksa atau membujuk anda agar cepat-cepat minum?"
"Memaksa sih tidak. Biasa-biasa saja. Mungkin juga dia cepat-cepat menghabiskan minumannya supaya saya mengikuti jejak nya."
"Sayangnya anda cuma berdua saja. Tak ada orang lain yang bisa memperkuat keterangan anda."
"Menjamin dengan apa?" tanya Arman sedikit sinis.
"Kepercayaan Pak."
"Tapi yang seperti itu tidak ada dalam peraturan kami Dinda. Bagi kami yang diperlukan adalah saksi dan bukti nyata."
"Kalau Tante Maya tidak melakukan hal itu maka yang sekarang menjadi mayat adalah dia. Bukan om Bram." kaya Dinda emosional.
"Ssssstt... Dinda. Jangan begitu," bisik Johan.
Della pun menenangkan Dinda dengan menepuk-nepuk pahanya.
'Saya bersedia ditangkap Pak. Memang sayalah penyebab kematiannya," kata Maya pelan.
__ADS_1
Arman tertegun. Ia menilai ucapan Maya itu sebagai sikap yang berani. Ia bersimpati. Tapi bagi petugas, simpati hanya boleh disimpan didalam hati.
"Seandainya Bu Maya mau dijadikan tersangka, kami bersedia menjaminnya, Pak, agar dia ditahan diluar saja," kata Johan.
"Lho, yang mestinya dijadikan tersangka kan om Bram. Masa Tante Maya?" Dinda membantah.
"Kenapa begitu?" tanya Arman.
"Yang memasukkan racun itu om Bram. Tante Maya cuma menukar cangkir. Tante kan tidak tahu apa isinya. Masa dia mesti terang-terangan bertanya kepada om Bram "Hei, ada racunnya nggak?" Itu kan nggak mungkin, Pak."
"Orang mati tak bisa dijadikan tersangka, Dinda."
"Tapi juga tak boleh sembarangan menunjuk orang hidup, pak," kata Dinda dengan berani.
Arman geleng-geleng kepala. "Sabarlah Dinda. Pemeriksaan masih dalam proses."
Seorang petugas forensik mendekat. "Lapor, Pak. Kami menemukan ini dalam saku celananya." Ia menunjukkan sebuah kantung plastik kecil berisi bubuk putih. "Kami belum tahu apa isinya. Masih harus diteliti di lab, Pak."
"Simpanlah. Nanti dibawa sekalian."
Setelah si petugas forensik pergi menjauh, Dinda tiba-tiba berkata. "Kenapa tidak sekalian diperiksa saja rumah ini, Pak? Siapa tahu mayat Frida disimpan disini."
Arman tertegun. Cepat-cepat Johan mengingatkan kasus hilangnya Frida berikut teori dan dugaannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Arman cepat melangkah menuju halaman belakang. Johan mengikuti di belakangnya. Juga Bagas dan Dinda.
Dihalaman belakang Arman memandang berkeliling. Dahinya berkerut. Kemudian tatapannya beralih kepada Dinda. Pandang mereka beradu. Arman melihat tatapan yang mengandung desakan tapi juga permohonan. Sesaat ia diliputi keheranan. Anak ini kelihatannya begitu yakin. Tiba-tiba ia menyadari bahwa sesungguhnya tak ada resiko yang perlu ditanggung seandainya penggalian tak menghasilkan apa-apa. Pemilik rumah sudah meninggal. Tentu ada Maya sebagai ahli waris. Tapi Maya bisa dipastikan tidak akan keberatan. Bila penggalian berhasil maka bisa meringankan kasus Maya yang sekarang ini.
"Baiklah. Saya akan usahakan surat perintahnya "
Dinda tertawa senang. Demikian pula Johan berseri-seri. "Mudah-mudahan ada titik terang dari Frida. Sudah terlalu lama."
"Tolong bapak jangan beritahu Tante sekarang," Bagas meminta. "Kasihan belum hilang syok nya."
Arman memberi jaminannya.
__ADS_1
****____****
yuk yuk like komen vote n tonton iklan nya. makasih.