Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 19


__ADS_3

Dinda menunggu dulu sampai ibunya dan Bram selesai makan dan beranjak dari ruang makan, barulah ia makan sendirian. Alasannya, ia tak mau mengganggu pengantin baru. Sungguh sinis. Sampai kapan sebutan pengantin baru melekat pada mereka berdua? Tentunya itu cuma alasan Dinda saja untuk menghindar.


Dan sekarang, pada setiap hari libur dan hari Minggu Dinda pergi kerumah Johan dan berada disana hampir seharian. Pada mulanya ia masih bisa mentolerir, tapi lama kelamaan kekesalannya menumpuk. Tetapi ia tidak berani melarang. Ia tetap memiliki kekhawatiran kalau-kalau larangan itu malah membuat Dinda pindah dari rumahnya ke rumah Johan. Ia merindukan keakrabannya kembali dengan anak itu, seperti dulu pada saat Johan masih menjadi suaminya dan juga saat-saat


ketika berpisah dari Johan hingga teman satu-satunya hanyalah Dinda.


Dulu mereka bisa mengobrol asyik dan bercanda penuh tawa. Sekarang tidak lagi. Padahal ada saat-saat itu mereka bisa tetap mengobrol dan bercanda seperti dulu, jadi tidak harus menyertakan Bram? Tetapi pada saat itu Dinda lebih suka menyendiri dengan tugas-tugasnya. Entah belajar, membuat PR, atau apa saja yang lain. Dan kalau bicara dengannya hanya yang perlu-perlu saja. Dinda seolah menunjukkan kemarahannya karena ia menikahi Bram.


Lilis merasa sedih tapi juga marah. Dinda tidak berhak mengatur kehidupannya seperti ia sendiri tidak berhak mengatur kehidupan Dinda. Ia pernah mengatakan hal itu kepada Dinda tapi anak itu berkata, "Bukan soal itu, Bu. Dimata ku, dia bukan lelaki yang baik!" Aduh, beraninya anak itu bicara demikian kepadanya, seolah dia lebih pintar dan bijaksana.


"Memangnya kau punya pemahaman apa tentang lelaki?" tanyaku waktu itu.


"Insting, Bu. Bukan pemahaman," sahut Dinda tenang.


"Aduh, insting? Apa itu insting?"


"Firasat."


"Kau menakut-nakuti ku. Kau cuma ingin agar aku tetap menjanda selama sisa hidupku. Padahal ayahmu hidup bersama dengan perempuan yang bukan istrinya."


"Jangan salah paham, Bu. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan ayah."


Dinda sangat kukuh dan keras. Dia seperti batu karang dengan pendapatnya sendiri. Aneh rasanya. Tapi Lilis yakin, apa yang disebut insting oleh Dinda itu hanyalah rasa benci dan iri semata. Dinda menganggap Bram telah merebutnya, padahal anggapan seperti itu tentu saja salah. Ia sudah kehabisan daya dan akal untuk membujuk Dinda. Lalu muncul ide untuk menghubungi Johan dan meminta bantuannya membujuk Dinda. Barangkali Johan punya wibawa lebih besar terhadap Dinda hingga dapat mempengaruhi anak itu. Tetapi rasa harga diri menghalangi niat itu. Bagaimana kalau Johan menghinanya sebagai pembalasan atas penghinaannya yang dulu pernah diterimanya? Ah tidak. Justru pada saat ini ia tidak ingin membiarkan dirinya dihina oleh siapapun.


Tetapi ia masih ingin mencoba mendekati Dinda. Bagaimana pun, Dinda adalah darah dagingnya. "Rasanya sudah lama sekali Ibu tidak membelikan baju untukmu, Din. Kapan mau jalan-jalan dengan ibu?" tanya nya manis.


Dinda memandang ibunya dengan heran. Tatapan heran yang menjengkelkan perasaan Lilis. Patutkah ajakannya itu ditanggapi dengan kecurigaan juga? "Kok tumben, Bu," sahut Dinda, tanpa semangat.


"Ya. Memang sudah lama. Karena itu ibu mengajakmu. Kau sudah tambah dewasa, lho. Masa dandanan mu kaya anak lelaki terus. Berapa banyak gaunku? Jangan-jangan nggak ada ya?"

__ADS_1


"Aku tidak mau pakai gaun, Bu. Jangan ngatur ah."


Sahutan yang judes itu membuat Lilis cemberut. Tapi ia menahan diri. "Ya, sudah. Kalau tak mau pakai gaun, ya nggak apa-apa. Ibu takkan memaksa. Kau bukan anak kecil lagi. Percuma dibelikan bila tidak dipakai. Bagaimana kalau blus-blus yang bagus? Blus rajut? Katun? Sutra? jangan kaos melulu. Dan untuk bawahan nya kau bisa tetap pakai celana jins atau celana pendek. Kau jadi tetap kelihatan feminim."


"Aku tidak membutuhkan baju baru, Bu. Nanti saja lah kalau kepingin."


"Jalan-jalan saja pun tak mau?"


"Apakah sekarang Om Bram sudah tak mau diajak jalan-jalan, Bu?" Dinda balas bertanya.


Lilis tak bisa lagi menekan kejengkelannya. "Ini tak ada hubungannya dengan Om Bram!" bentaknya.


Dinda terkejut. "Oh ya? Sori, Bu."


"Kau masih saja sentimen sama dia, Din. Kenapa sih?"


Dinda menutup mulutnya rapat-rapat lalu memalingkan muka.


Dinda menatap ibunya. Tatapannya menjadi lembut, begitu pula dengan suaranya ketika ia berkata. "Kita kan sudah dekat Bu. Mau didekatkan bagaimana lagi?"


"Ibu sudah punya Om Bram. Nanti kalau ibu lebih dekat denganku, dia bisa iri lho. Lagipula sekarang ini aku memang lagi sibuk Bu. Tak banyak waktu untuk jalan-jalan."


"Tapi kau tetap punya waktu untuk pergi ke rumah ayahmu."


"Disana aku belajar juga Bu. Bukan main-main."


"Kalau begitu, kita mengobrol saja. Berceritalah tentang mereka."


"Cerita apa Bu? Mereka biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa." Dinda menampakkan rasa segannya.

__ADS_1


"Masa kau tak punya kesan apa-apa tentang... tentang perempuan itu."


"Perempuan yang mana Bu?"


"Teman kumpul kebo ayahmu."


"Ah, Ibu suka sinis. Tapi ibu justru mengatai aku yang sinis. Perempuan itu kan punya nama. Masa ibu tidak tahu namanya."


Lilis terdiam. Ia tak suka menyebut nama Irene.


"Namanya Irene Bu."


"Ya. Aku tahu tapi aku tak ingin menyebut nama itu. Perempuan itulah yang merebut ayahmu. Pengganggu dan perusak rumah tangga orang!" seru Lilis dengan dendam dalam suaranya.


Dinda mengamati wajah ibunya yang memerah. Ngeri juga perasaannya melihat dendam di wajah itu. Terbayang lagi ketika ayahnya diusir dari rumah waktu itu. Ia merasa kasihan kepada ayahnya tapi tak juga bisa menyalahkan ibunya.


"Sekarang perempuan itu mau mempengaruhimu," Lilis menyambung dengan sedih. "Sudah merebut ayahnya, masih pula mau merebut anaknya."


Dinda terkejut. "Ah, kenapa ibu berpikir seperti itu? Aku kesana semana-mata U belajar. Tak ada alasan lain. Ia tidak pernah membujukku Bu. Justru aku yang merepotkannya. Percayalah Bu. Aku tidak melihat siapa-siapa. Disana ayahku, disini ibuku. Kalian tetap orangtuaku, walaupun terpisah. Tapi Tante Irene bukan ibuku dan Om Bram bukan ayahku."


"Tentu saja bukan. Tapi setidaknya kau bisa menerimanya sebagai suamiku, sama seperti kau menerima perempuan itu sebagai teman ayahmu. Apakah begitu susah?"


"Itu tidak sama Bu. Tante Irene itu perempuan, sedang Om Bram itu lelaki."


"Lantas kenapa? Apa kau pikir...?" Lilis mengerutkan keningnya. Matanya menatap selidik, "Aha, kau berpikir jelek ya? Dari mana kau punya pikiran seperti itu?"


"Berpikir apa, Bu?" tantang Dinda.


"Bahwa Om Bram...," Lilis tak melanjutkan ucapannya Tiba-tiba ia merasa tidak enak sendiri untuk mengatakan apa yang terpikir.

__ADS_1


****____****


to be continued 😂


__ADS_2