Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 41


__ADS_3

Pada saat masih di seberang jalan, siap untuk menyeberangi zebra cross, matanya sudah sibuk mengamati suasana di halte. Beberapa orang ada disana. Tak begitu banyak hingga lebih gampang diamati satu persatu. Ada lelaki, perempuan, tua dan muda. Lalu matanya tertuju pada sebuah sosok gagah yang ciri-cirinya seperti disebutkan lewat telepon tadi. Lelaki itu pun mengamatinya sesaat kemudian tatapannya tertuju ke tasnya. Maka yakinlah Frida. Ia merasa puas untuk kebenaran kesimpulannya dan senang sekali karenanya. Dari tengah jalan ia sudah melempar senyum.


Johan menyalami Frida. Mereka saling menyebut nama. Johan mempersilahkan Frida duduk di bangku yang masih kosong. Hanya ada seorang gadis remaja, Dinda yang sedang duduk disitu sambil membaca majalah. Sesuai perjanjian sebelumnya, Johan mengatur posisi duduk mereka sehingga Frida berada disebelah Dinda walaupun tak terlalu dekat. Dengan posisi demikian lebih mudah bagi Dinda mengamati Frida tanpa terasa secara mencolok. Hanya saja Dinda tak bisa memperhatikan Frida dari arah depan.


"Jangan panggil saya ibu. Saya belum menikah. Panggil saya Frida saja. Lebih enak begitu," katanya Frida dengan gayanya yang familier.


"Baiklah Frida. Tadi saya sudah mengatakan tak perlu bertanya banyak. Yang ingin saya ketahui memang cuma satu. Setahu anda, apakah Lilis suka berjudi?"


Frida tertegun sebentar. Lalu ia menjawab tanpa keraguan. "Sebenarnya saya tidak tahu banyak tentang kegiatan Lilis. Apalagi soal judi. Tapi seingat saya, dia pernah mengajak saya main kartu ramai-ramai. Saya pikir dia mengajak main-main seperti main fourty one gitu. Tapi dia ketawa dan bilang itu sih mainan anak-anak. Yang dia maksud adalah main pakai duit!"


Tatapan Johan bukan cuma mengarah kepada Frida tapi juga kepada Dinda yang diam-diam beringsut semakin dekat. Kebetulan disebelah Dinda ada orang mau duduk juga. Jadi Johan yakin, Dinda pasti bisa mendengar juga. "Dimana tempat mainnya, Frida?" tanya Johan.


"Wah, dia tidak mengatakan Mas. Mungkin karena saya tidak mau. Saya bilang, mana mungkin orang seperti saya bisa main. Dari mana duitnya? Biarpun saya bekerja di tempat yang duitnya berkarung-karung, tapi itu bukan duit saya. Gaji saya kecil. Pergi pulang cuma bisa naik bus."


"Kau tidak menanyakan?"


"Tidak. Apa gunanya bertanya kalau tidak berniat."


"Kapan dia mengajakmu?"


"Wah, kapan ya? Nggak ingat mas."


"Kira-kira saja."


"Barangkali sebulan dua bulan yang lalu," sahut Frida ragu-ragu.


"Seringlah kau bertemu dengannya?"


"Cukup sering mas. Dia datang sebulan sekali mengambil bunga depositonya. Oh ya, saya mengenalnya karena hal itu. Deposito nya kan disimpan di bank kami."


Johan mengangguk. Dia sudah memperkirakan hal itu. Tapi belum pasti. Bisa saja Lilis berkenalan dengan Frida di tempat lain. "Kau akrab dengannya Frida?"


"Tidak juga sih. Dia orangnya baik. Saya suka dia. Sesekali dia suka mengajak saya jalan-jalan. Seperti ketika melihat pameran properti itu. Di sanalah saya memperkenalkannya dengan Bram yang jadi suaminya kemudian. Sayang sekali usia pernikahan mereka sangat pendek."

__ADS_1


Di sebelah Frida terdengar suara batuk-batuk yang cukup keras. Frida menoleh dengan perasaan terganggu. Dinda memalingkan muka dan menutup mulutnya dengan tangan. Johan tersenyum diam-diam. "Ya, sayang sekali," kata Johan.


"Aduh sori Mas. Saya lupa bahwa kau mantan suami Lilis."


"Tidak apa-apa."


"Lantas buat apa kau menanyakan masalah itu?"


"Soalnya Lilis tak punya harta apa-apa lagi untuk diwariskan kepada anaknya. Sudah terkuras semua. Katanya habis di meja judi. Makanya saya jadi penasaran, apa benar Lilis suka berjudi."


Firda termangu. Punyakah dia rasa iba? Perlukah rasa iba? "Kasihan sekali," komentarnya dengan suara pelan. "Saya juga tahu ketika dia menarik deposito nya. Tapi tentu saja dia tidak bilang untuk apa uangnya itu. Saya tidak berhak bertanya."


Johan mengangguk. "Ya itu benar. Boleh saya tanya lagi?"


"Boleh. Selama bus saya belum datang, kita masih bisa berbicara."


"Bagaimana kalau saya antar pulang? Kita bisa mengobrol sambil jalan."


"Tidak apa-apa."


Frida teringat kepada Bram. Lelaki itu pasti gusar kalau alamat rumahnya sampai ketahuan oleh Johan. Ia harus berhati-hati. Bukankah ia belum tahu apa sesungguhnya motivasi Johan menanyainya?


"Ah, tidak usah Mas."


"Apa karena ada yang akan marah?"


"Ya. Kira-kira begitu," sahut Frida dengan sebenarnya. Padahal ia tahu maksud Johan tidak sama dengan pemikirannya sendiri. Sesungguhnya ia tidak punya pacar atau tunangan.


Tapi jawabannya itu membuat Johan tidak mendesak lagi. Ia tidak merasa perlu mengetahui alamat rumah Frida karena sudah cukup dengan alamat kantornya. Untuk apa bersusah payah mencari alamat rumah bila ia menemui Frida di kantornya, atau di halte ini?


"Kau sudah lama mengenal Bram?"


"Dia juga nasabah bank saya."

__ADS_1


"Boleh saya tahu dimana alamat kantor Bram? Apa nama perusahaannya?"


"Setahu saya dia pengusaha properti. Wah, nama perusahaannya saya tak ingat lagi tuh. Lho kenapa mas tidak menanyakan kepada keluarga Lilis saja?"


"Saya justru mewakili mereka mencari tahu."


Mendadak muncul rasa ingin tahu Frida yang sangat besar. "Memangnya ada apa sih mas?"


"Bagi kami Bram itu orang yang misterius. Lalu ada hal-hal yang perlu diluruskan mengenai Lilis. Katanya, Lilis suka berjudi dan menghabiskan hartanya di meja judi. Tapi setahu kami, Lilis bukan orang yang seperti itu."


"Oh, begitu. Jadi Lilis meninggal karena kecelakaan?"


"Ya, jatuh dari tangga."


"Jatuh sendiri?" tanya Frida, tapi segera setelah bertanya ia menyadari tidak sepatutnya bertanya seperti itu. Tetapi sudah terlambat untuk menarik kembali.


"Apa kau pikir ada orang yang menjatuhkan nya?"


Cepat Frida menggeleng. "Tentu saja tidak."


"Tapi mesti ada sebabnya kenapa kau bertanya seperti itu," Johan mendesak. Nalurinya menangkap bahwa pertanyaan Frida itu memiliki latar belakang.


Frida menjadi sedikit gugup. Ia memalingkan muka dari tatapan Johan tanpa menyadari bahwa dengan berbuat demikian mukanya jadi lebih jelas terlihat oleh Dinda. "Ah, tidak ada sebabnya kok. Kadang-kadang saya memang suka melemparkan pertanyaan bodoh," katanya pelan. Lalu kepalanya tegak ketika melihat bus datang mendekati halte. Wajahnya serentak menjadi cerah. "Nah, itu bus saya sudah datang!" serunya girang. Ia melompat berdiri.


Johan berdiri juga dan mengamati bus yang baru datang. Jurusan jalan Thamrin. Ia mengulurkan tangan untuk menyalami Frida. "Baiklah. Sampai disini saja, Frida. Terimakasih. Kapan-kapan saya boleh telepon lagi?"


"Boleh, boleh," sahut Frida tanpa menoleh.


Sesaat kemudian Frida sudah melompat kedalam bus, lalu lenyap dari pandangan. Johan dan Dinda memandangi sebentaralu mereka berjalan menuju tempat dimana mobil mereka diparkir.


****____****


lanjut yaaa

__ADS_1


__ADS_2