
"Lantas bagaimana dia akan menjemputmu kalau dia tidak tahu dimana kau tinggal?"
Frida tertawa. "Kau benar-benar mengira aku bodoh ya? Dalam hal itu aku punya taktik sendiri. Tak perlulah ku rinci. Percaya saja." Ia tak mau menceritakan secara detail.
Bram merasa tak puas, tapi ia tak mendesak lagi. "Baiklah. Aku percaya padamu. Kau sudah jauh lebih pintar sekarang. Tapi kau main api, Frid. Itu berbahaya. Sebaiknya kau membatalkan janji kencan mu itu."
"Tidak, mas. Kau masih tidak percaya padaku bukan? Aku bukan perempuan yang gampang saja dirayu lelaki. Kalau aku membatalkan, kan lucu jadinya. Sepertinya aku takut atau punya salah. Dia malah akan semakin mencurigai, lalu terus mengejar ku. Jadi sebaiknya aku tahu juga, apa sebenarnya maksudnya."
Bram menatap wajah Frida sambil menimbang-nimbang. Ia sadar tak bisa mencegah atau melarang. "Yah, kelihatannya aku memang harus mempercayaimu. Lantas bagaimana dengan perkataan mu tempo hari, bahwa kau berniat memutuskan hubungan denganku?"
Frida menoleh dan bertatapan dengan Bram. Ia melihat mata Bram berkilat-kilat dibawah sinar lampu. Sulit juga untuk menilai maknanya. Apakah itu berarti Bram masih ingin mencari mangsa dan membutuhkan bantuannya? Sesaat terpikir, betapa rakusnya lelaki ini. Kemana saja hasil perolehannya yang begitu banyak? Ia berkata ragu-ragu, "Sebenarnya..." ia berhenti sejenak, lalu meneruskan, "Aku berkenalan dengan seseorang yang kelihatannya cocok sekali. Tapi..."
"Tapi apa?"
Sekarang Frida mengenali sesuatu Dimata Bram. Nafsu dari seseorang yang mencium adanya mangsa. Tiba-tiba saja Frida merinding. Ia menjadi takut sendiri dengan permainannya. "Entahlah. Aku takut dia mati lagi."
Bram nampak gusar. "Memangnya aku malaikat maut?"
"Bukankah katamu dulu, orang-orang yang menikah denganmu selalu bernasib sial?"
"Itu cuma gurauan. Soalnya kau menyangka jelek. Kau tak percaya bahwa mereka mengalami kecelakaan. Pada saat Indira dan Lilis mengalami kecelakaan aku tidak berada ditempat. Aku punya alibi yang kuat."
"Lilis jatuh dari tangga. Dan Indira?" Frida teringat, bahwa dalam kasus Indira ia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya. Ia tidak ingin tahu karena benar-benar percaya bahwa kasusnya memang kecelakaan.
"Indira tersengat arus listrik. Sudah lupakah kau?"
Frida sadar, bahwa sebenarnya yang lupa adalah Bram. Bram tidak ingat bahwa ia sungguh-sungguh tidak tahu karena memang tidak pernah bertanya. "Oh ya. Aku memang lupa," katanya, tak ingin memperpanjang masalahnya. Ia sekedar ingin tahu.
"Ayolah Frid. Kita kerja sama lagi? Kalau aku bersikap kasar, maafkan aku. Jangan terlalu dipikirkan ucapanku tempo hari itu."
"Kau bilang aku terlibat. Aku sungguh tak ingin terlibat dalam kasus kematian seseorang. Mengerikan sekali." Frida sengaja berkata begitu untuk memberikan kesan betapa berat baginya untuk memutuskan.
__ADS_1
"Aku menyesal bilang begitu. Soalnya aku takut kau buka mulut kepada Johan. Itu juga sebabnya kenapa aku minta kau tidak berkencan dengannya."
"Aku juga."
"Jadi jangan dipikirkan ucapanku itu. Apa yang terjadi atas diri mereka sepenuhnya tanggung jawab ku."
Frida tersenyum. Dalam hati ia berkata, tentu saja Bram bicara manis karena sedang membujuknya. Tunggulah sampai aku menyatakan kehendakku. "Entahlah. Aku perlu mikir-mikir dulu," katanya dengan sikap elegan.
"Aduh, mikir-mikir apa lagi sih? Putuskanlah sekarang."
"Bolehkah aku berterus terang, mas?"
"Tentu saja boleh. Sebaiknya memang begitu. Katakan saja."
"Aku pikir selama ini kerja sama kita berat sebelah. Kau tidak adil kepadaku."
Wajah Bram mulai merengut. Tatapannya kembali tajam. "Apa maksudmu?"
"Bila yang kau maksud uang, sayang sekali aku tidak bawa uang sekarang."
"Sengaja mengosongkan dompet mu sebelum kesini, bukan?" Frida merasa panas oleh kesinisan Bram.
Bram mengabarkan dirinya. Ia toh belum tahu maksud Frida. "Sudahlah. Kita jangan bertengkar lagi. Ayolah, katakan. Aku berjanji tidak akan marah."
"Baiklah. Kita sudah terlalu lama ribut. Aku barusan menghitung-hitung. Selama ini aku cuma mendapat tiga juta dari mu. Ya, plus sedikit dengan tambahan-tambahan kecil. Tapi dibanding perolehan mu jelas tak adil."
Bram harus berusaha keras menekan amarahnya. "Kau cuma memperkenalkan. Tapi selanjutnya adalah jerih payahku sendiri."
"Aku tidak sembarang memperkenalkan, bukan? Aku perlu waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyelidiki perempuan-perempuan itu. Nyatanya cocok dan tepat."
"Jadi apa maumu sekarang?"
__ADS_1
"Apa yang ku minta sama sekali tidak banyak. Sebelum melanjutkan kerja sama kita, kau harus memenuhi dulu permintaanku. Kalah tidak, ya sudah, kita tidak perlu berhubungan lagi. Aku toh cuma meminta bagian ku yang adil."
"Apa yang kau minta?"
"Sebuah mobil kijang yang baru."
Bram tertegun. Tapi ketika Frida menatapnya, tak ada yang terbaca di wajahnya. Bahkan kegusaran pun tidak nampak. "Memangnya kau bisa nyetir?" tanyanya pelan.
"Bisa. Surat ijin mengemudi pun aku sudah punya. Cuma mobilnya saja tak ada. Tidak berlebihan kan? Aku tidak minta sedan, apalagi yang mewah."
"Baiklah, akan ku usahakan. Kau mau beli sendiri atau aku yang belikan?"
Frida terkejut oleh jawaban Bram. Rupanya tidak sulit bagi Bram untuk mengiyakan permintaannya. Itu diluar prasangka nya. Semula dikiranya Bram akan marah-marah atau mengajukan alasan berbelit-belit. Padahal ketika diminta uang yang jumlahnya sedikit saja ia sudah marah-marah. Rasanya agak mengherankan, tapi Frida sudah terlanjur kegirangan. "Begini saja. Kita pergi membelinya bersama-sama," katanya penuh semangat.
"Oke, kapan?"
Frida berpikir sebentar. Hari Jumat yang merupakan hari perjanjiannya dengan Johan itu masih dua hari lagi. Berati lusa. Ia menginginkan kedua-duanya, baik mobil maupun Johan. Bila mobil sudah diperolehnya, ia akan mengakhiri hubungan dengan Bram. Ada banyak alasan yang tersedia, misalnya calon korban tak pernah muncul lagi atau sudah kabur kawin dengan orang lain. Ia pun tidak takut kepada Bram karena ia bisa meminta berlindungan kepada Johan. Bram tak akan berani mengapa-apakannya bila ia sudah akrab dengan Johan.
Besok siang. Jam istirahat."
Bram melotot. "Cepat amat."
"Ya. Aku takut kau berubah pikiran bila berlama-lama."
"Memangnya beli mobil seperti beli kue?" Bram menggerutu.
Frida tersipu menyadari bahwa nafsu memilikinya terlalu kentara. "Oh, jadi tak gampang ya?"
"Tentu saja tidak. Pertama-tama aku harus mengecek saldo ku dulu di bank. Eh, bukannya tak punya uang lho. Tapi uangku kan dijadikan modal. Tidak disimpan begitu saja. Sepertinya kau mau beli tunai. Begitu beli, langsung dibawa pulang."
"Iya dong." Frida tersenyum. Alasan yang dikemukakan Bram itu kedengaran logis tapi juga serius. Jadi Bram memang tidak keberatan. Ah, senang sekali. Ia sudah membayangkan dirinya duduk dibelakang kemudi.
__ADS_1
****____****