Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 50


__ADS_3

"Apakah bapak tahu dimana tinggalnya? Barangkali dia sakit, jadi saya bisa menengoknya."


"Setahu saya dia tinggal di rumah susun Tanah Abang, tapi flat nomor berapa persisnya saya tidak tahu."


"Terimakasih pak." Bagi Johan informasi itu sudah cukup. Biarpun rumah susun itu memiliki banyak blok, ia akan berusaha mencarinya. Tentunya kompleks itu memiliki pengelola yang busa ditanyai.


Johan segera menuju Tanah Abang. Ia bertekad untuk menemukan apa yang dicarinya secepat mungkin. Tapi ia pun dihinggapi perasaan tidak enak. Dengan tidak masuk kerjanya Frida hari itu, maka berarti Frida tidak membohonginya kemarin. Jangankan untuk berkencan, untuk bekerja pun ia tidak melakukannya. Apakah Frida sakit atau...?


Setelah memarkir mobilnya dihalaman rumah susun, ia mencari kantor pengelola. Seorang lelaki setengah tua menyambut dengan sapaannya lalu menyilahkannya duduk setelah ia mengutarakan maksudnya. "Saya mencari flat dari mbak Frida yang bekerja di Bank, tapi tidak tahu di blok mana dan flat nomor berapa."


"Wah, kebetulan sekali Pak. Bapak ini siapa ya? Apakah keluarga nya?"


"Bukan. Saya temannya pak. Kemarin saya punya janji dengannya, tapi dia tidak muncul. Tadi saya datang ke kantornya, ternyata dia tidak masuk kerja. Saya khawatir kalau dia sakit, maka saya bermaksud menjenguknya."


Lelaki setengah tua yang menyebut namanya dengan pak Amin memperhatikan wajah Johan sebentar. "Rasanya saya belum pernah melihat bapak."


Johan tersenyum. "Tentu saja pak. Saya juga belum pernah melihat bapak. Tapi saya memang baru sekarang menginjak tempat ini."


"Maaf pak. Bukan maksud apa-apa lho. Tadi saya bilang kebetulan, karena mbak Frida memang lagi diributkan oleh dua teman seflatnya. Mereka melapor karena Frida tidak pulang sejak hari Jumat. Kedua temannya itu kerja malam. Sedang Frida kerja siang. Biasanya kalau Frida pulang yang lain sudah berangkat. Tapi mereka berdua pulang dini hari ternyata Frida tidak ada. Semula mereka pikir Frida menginap ditempat lain, tapi kalau dia pergi biasanya dia menulis surat yang diletakkan diatas meja. Kali itu tidak ada surat pemberitahuan apa-apa. Jadi, sudah berapa hari tuh sampai sekarang? Tiga hari ya? Bolos kerja lagi." Pak Amin nyerocos.


Johan berpikir sejenak. "Pada hari Jumat itu, apakah dia sempat pulang dari kantornya, pak?"


"Ya. Saya tahu pasti sebab saya melihatnya masih memaka8 seragam sore itu. Jalannya cepat. Dia tidak melihat saya."


"Kalau begitu dia pergi lagi sesudahnya?"


"Itu pasti."


"Ada yang melihatnya, pak?"


"Ya, ada."


"Sama siapa dia pergi?"

__ADS_1


"Katanya sih sendirian, Dia baik bajaj."


"Naik bajaj?" Johan keheranan sejenak.


"Oh ya, ada yang bilang dia nelepon sebelumnya. Biasanya dia nelepon disana pak. Tuh telepon umum. Di flatnya tak ada telepon."


"Kalau begitu, dia janji lewat telepon." Johan menyimpulkan.


"Kelihatannya begitu. Kalau bapak tahu alamat keluarganya, tolong dicari kesana saja. Nggak enak juga rasanya kalau kehilangan warga."


"Sayangnya saya tidak tahu pak. Barangkali kedua temannya tahu?"


Pak Amin menggeleng.


"Apa kedua temannya sekarang ada, atau sudah berangkat kerja? Saya ingin menanyai mereka."


"Wah, mereka sudah pergi kalau sudah sore begini pak. Datang saja besok siang."


"Flatnya dimana pak? Nanti saya bisa langsung kesana."


***


Esok siangnya, hari Selasa Johan mengecek dulu ke bank. Frida belum masuk kerja. Baru sesudah itu ia bergegas ke Tanah Abang. Kedua teman Frida, yang mengenalkan nama mereka sebagai Erni dan Desi merasa senang dan lega karen ada seseorang yang menanyakan Frida. "Barangkali Mas bisa menolong mencari. Kasian kalau dia hilang."


Johan menatap kedua gadis yang penampilannya cukup menarik itu secara bergantian. "Justru saya berharap bisa mendapatkan keterangan tentang Frida. Terus terang saya baru mengenalnya beberapa hari. Jadi saya tidak tahu banyak tentang dirinya."


Desi dan Erni saling berpandangan. "Wah, Frida beruntung sekali mendapat perhatian


orang seperti anda. Dimana sih kenalnya? Paling-paling di bank ya?"


"Betul sekali," sahut Johan. "Saya membuat janji dengannya tapi ia tidak muncul. Karena itu saya mencari nya kalau-kalau dia sakit. Ternyata dia tidak pulang sejak hari Jumat. Begitu kata pak Amin."


Desi membenarkan. Ia mengulang cerita yang sudah disampaikan pak Amin.

__ADS_1


"Apakah anda berdua tidak tahu dimana alamat orang tuanya atau keluarga nya? Tolonglah dicek kesana. Kirimi surat atau telepon. Siapa tahu dia ada disana."


Erni menggeleng. "Saya yakin, Frida tidak mungkin pergi begitu saja tanpa membawa pakaiannya. Kopernya pun masih ada."


"Surat-suratnya?"


"Wah mana berani. Laci dan lemarinya dikunci. Dan kuncinya selalu ada di tas nya. Kalau kami bongkar dan kemudian orangnya pulang , wah dia bisa ngamuk."


"Apakah Frida punya pacar dan sering pergi dengannya atau dia sering berkunjung kesini? Mungkin anda berdua mengenalnya juga."


Desi dan Erni kembali berpandangan. Apakah pertanyaan itu disuarakan seseorang yang merasa cemburu?


"Jangan salah paham mbak," Johan cepat-cepat menjelaskan. "Kalau anda mengenal orang itu, tentunya dia bisa ditanyai."


Desi dan Erni sama-sama menggeleng. "Mas tentu mengira, karena kami satu rumah maka kami tahu banyak tentang Frida. Itu salah. Kami jarang berkumpul. Satu pergi, yang lain datang. Satu tidur yang lain terjaga. Itulah hari-hari kami. Dan kalau libur kami lebih suka keluar. Sumpek rasanya disini terus."


"Tapi mesti ada saat kalian bertemu, kan?"


"Ya. Ada sih. Tapi cuma sebentar. Paling-paling berbincang singkat. Tak pernah soal pribadi yang dibicarakan. Dan siapa teman dekat Frida? Kami tidak tahu dan tidak pernah melihat. Aneh, tapi nyata."


"Bila sampai satu dua hari ini Frida belum juga pulang, saya sarankan anda melapor ke polisi."


Desi dan Erni terkejut. "Ha? Polisi? Perlukah itu?"


"Tentu saja perlu. Kalian sendiri merasa aneh dan tidak wajar. Jadi itu bisa jadi alasan untuk melapor. Bukankah dengan teman serumah harus ada solidaritas?"


Kedua gadis termangu. Lalu mereka berbisik-bisik dengan sesamanya.


"Mas Johan," kata Erni. "Kami takut sama polisi. Tapi seandainya kami memang harus melaporkan maukah Mas menemani? Bukan apa-apa, mas. Kami takut dilecehkan. Kadang-kadang perempuan suka sial dalam hal yang satu itu."


Sekarang giliran Johan yang termangu. Sebenarnya ia tidak ingin terlibat. Bagaimana kalau dirinya yang di curigai? Tetapi ia memang sudah terlibat. "Baiklah. Ini nomor telepon saya. Kita tunggu dulu sampai besok. Tak baik menunggu lama-lama. Kalau dia belum pulang juga, hubungi saya."


Kabar yang dibawa pulang Johan itu mengejutkan Irene, tapi tidak sementara halnya dengan Dinda. "Frida pasti sudah meninggal," katanya dengan sedih. "Tambah lagi seorang korban Bram."

__ADS_1


****___****


__ADS_2