Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 5


__ADS_3

Dinda mengangkat kepala dan menatap ibunya. Ia melihat butir-butir keringat di dahi dan hidung ibunya. "Ada apa sih, Bu?" ia balik bertanya.


"Lho, kamu kan ditanya Ayah, tuh."


Dinda tertegun. Ayah? Aduh, haruskah ia memanggil lelaki ini dengan sebutan itu? Tiba-tiba saja emosinya melonjak. "Tanya apa, Om?" katanya keras. Sengaja menekankan sebutan Om.


"Hei!" seru Lilis keras. Tapi pundaknya ditepuk pelan oleh Bram.


"Aku menanyakan buku apa yang kau baca, Dinda. Lupa ya?" katanya dengan nada sabar.


"Novel, Om."


"Seru?"

__ADS_1


"Ya."


Bram melirik kursi di sebelah Dinda, tapi gadis itu tidak suka melihat penampilannya. Dadanya yang berbulu itu membuatnya jijik. Apalagi sekarang dari jarak dekat. Cepat ia berdiri sambil mendorong kursinya ke belakang. 'Mau tidur ah!" katanya, lalu ia meraih buku dan kotak susunya.


"Selamat tidur, Dinda!" seru Bram dari belakangnya. Wajah Lilis cuma memandang tanpa berkata-kata. Wajahnya masih menampakkan kejengkelan. Begitu saja Lilis teringat kembali pada tentangan Dinda dan tingkah lakunya yang menolak Bram.


Tetapi seruan Bram itu tidak disahuti oleh Dinda. Ia setengah berlari menuju kamarnya. Ketika ia mencapai tangga yang menuju loteng tempat kamarnya berada, barulah ia melambatkan langkahnya. Pada saat itu ia sempat mendengar suara Bram, "Dia membutuhkan waktu, Lis. Sabarlah. Jangan memaksanya."


"Kalau dibiarkan dia akan kurang ajar, sayang."


Dinda mempercepat langkahnya menaiki tangga. Matanya menjadi basah. Ia berharap kedua orang itu akan berlama-lama di dapur dan baru kembali ke kamar mereka bila ia sudah tidur. Dengan demikian ia tidak perlu mendengar suara-suara itu lagi. Ya, mudah-mudahan mereka makan banyak, karena barusan ia melihat sendiri bahwa kulkas penuh dengan makanan sisa pesta. Biarlah orang-orang yang sudah berbakat gemuk itu menjadi semakin gemuk hingga cepat pula menjadi bola-bola.


Malam memang sudah larut. Betapa pun gundah perasaannya, kantuk tetap datang, untuk membawanya ke alam mimpi. Pas sebelum melangkah ke alam mimpi ia teringat kepada Johan, ayah kandungnya, satu-satunya orang yang dipanggilnya "Ayah" dan takkan ada orang lain.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Dinda merasa rindu kepada ayahnya. Dan kerinduan itu dibawanya ke alam mimpi. Ia bermimpi tentang masa lalu. Mimpi itu pintar memilah-milah. Yang disajikan untuk dinikmatin hanyalah pengalaman-pengalaman membahagiakan. Rasanya menyenangkan, bagaikan pengobat kesedihan.


***


Johan memarkir mobil tuanya di tepi jalan depan sebuah sekolah swasta terkenal di ibukota. Di sebelahnya rapat berjejer mobil-mobil yang kebanyakan bermerk mahal. Putrinya, Dinda, bersekolah disitu. Sejak tahun kanak-kanak sampai sekarang kelas tiga SMP, Dinda tak pernah pindah sekolah. Kemungkinan SMA nya pun disitu.


Johan tak segera keluar dari mobilnya. Sekolah belum bubar. Ia belum melihat rombongan anak-anak berseragam putih-biru, seragam SMP yang keluar dari pintu gerbang. Ia memanfaatkan waktu beberapa menit itu untuk merenungkan perbuatan spontannya, yaitu mendadak saja ingin menjemput Dinda dari sekolah sekalian bertemu dengannya. Sudah bertahun-tahun ia tak pernah melakukan hal itu. Terakhir ia mengantar-jemput Dinda ketika anak itu masih kelas enam. Setelah putus hubungan, Lilis melarangnya menjemput Dinda, karena ia bisa melakukannya dengan diam-diam tanpa diketahui Lilis. Ia tak mau melakukannya karena merasa malu kepada Dinda. Anak itu tahu dan melihat bagaimana ia terusir dari rumah. Ia merasa tak punya harga diri dan wibawa lagi sebagai ayah. Ia pun tak mampu membela diri ketika di cerca habis-habisan oleh Lilis karena sadar bahwa dirinya memang bersalah.


Sekarang dengan tiba-tiba ia kangen kepada Dinda. Terakhir ia bertemu ketika Natal dan Tahun Baru sekitar empat bulan lalu. Ia datang berkunjung ke rumah Lilis, tanpa diundang tentu saja. Ketika itu Lilis menerimanya dengan baik walaupun dingin-dingin saja. Tapi itu jauh lebih baik dibanding hardikan dan pengusiran. Ia datang membawa bingkisan dan hadiah untuk Dinda. Tentu saja juga sejumlah untuk merayakan hari besar itu. Mungkin juga karena itu maka Lilis tak punya alasan untuk marah-marah kepadanya. Apalagi selama itu ia tak pernah kalau memberikan uang bagi biaya-biaya sekolah Dinda dan kehidupan sehari-hari kedua ibu anak itu. Hal demikian memang sudah menjadi kewajibannya, seperti yang diharuskan oleh pengadilan saat vonis perceraian dijatuhkan. Ia harus kontinu memberikan biaya itu selama Lilis belum menikah lagi. Ketika itu ia terpesona melihat betapa cepatnya Dinda tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Perasaannya menjadi terenyuh ketika terpikir bahwa ia tak sempat melihat pertumbuhan putrinya. Tahu-tahu sudah besar. Alangkah sayangnya waktu yang terbuang itu. Barulah terpikir bahwa yang demikian itulah kerugian yang terbesar dari perceraian. Ia tak bisa mengamati dan menikmati perkembangan anak kesayangannya. Jarak sudah memisahkan mereka.


Sekarang Lilis menikah lagi. Tentu Lilis memberitahunya, tapi dengan catatan bahwa ia tetap memberikan biaya sekolah Dinda karena Dinda adalah anak kandungnya. Ia tidak keberatan bahkan merasa senang karena dengan demikian ia bisa tetap berbuat sesuatu untuk Dinda. Jangan sampai segalanya diambil alih oleh lelaki lain. Maya miliknya, jadi merupakan tanggung jawabnya. Aneh juga, tapi toh nyatanya, bahwa cinta yang pada suatu saat begitu terasa dalam dan tulus pada saat yang lain bisa sirna tak tersisa. Itulah yang terjadi pada dirinya dengan Lilis. Tetapi tidak demikian dengan cintanya terhadap Dinda. Apakah itu merupakan suatu yang logis? Cinta kepada pasangan hidup bisa lenyap tapi tidak demikian dengan cinta kepada anak. Tentu saja ada perbedaan antara kedua cinta itu. Mungkin perbedaan itulah penyebabnya.


Memang ada banyak hal lain disamping kerinduan yang membangkitkan keinginannya bertemu dengan Dinda. Salah satu yang terpenting kehadiran ayah tiri. Bagaimana penerimaan Dinda terhadap lelaki baru itu? Apakah Dinda menyukainya? Ada rasa khawatir bahwa dirinya akan tersisih dari pikiran dan perasaan Dinda. Mendadak ia menyesal karena selama waktu belakangan ini tidak berusaha untuk tetap menjalin hubungan dengan anak itu. Kalau sulit bertemu setidaknya ia bisa menelepon. Bagaimana Dinda bisa ingat padanya kalau ia sendiri tidak melakukan pendekatan secara kontinu? Tentu ia tidak pernah melupakan hari ulang tahun Dinda atau memberinya perhatian khusus di hari raya. Tetapi itu peristiwa setahun sekali. Ah, keraguan itu membuatnya gelisah. Dan hampir saja mendorong untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Johan terkejut ketika anak-anak berseragam putih-biru berserabutan keluar dari pintu gerbang sekolah. Ia cepat-cepat keluar dari mobilnya. Kalau tidak gesit ia bisa kehilangan Dinda. Dalam pakaian seragam, anak-anak itu sulit dibedakan. Dengan berjaga di pintu, ia lebih mudah mengawasi. Bila ia tidak melihat Dinda, anak itulah yang akan mengenalinya. Tentunya Dinda tahu untuk siapa dia datang.


****____****


__ADS_2