Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 33


__ADS_3

"Justru untuk urusan itulah kami datang, Pak," kata Bustaman. "Anda tentu sudah tahu, bagaimana perasaan dan sikap Dinda terhadap anda. Jadi mana mungkin kalian berdua hidup rukun seatap? Paling baik bila kalian tidak serumah.'


"Saya mengerti maksud anda, pak Bus. Saya tahu, bahwa saya tidak berhak atas rumah ini. Karena itulah saya minta ijin lebih dulu. Kalau memang tidak diperbolehkan, ya tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan bunga bank itu? Tentunya akan berat bagi saya bila harus terus membayari sementara saya harus pula mengeluarkan biaya untuk mengontrak rumah. Tapi saya kasihan kepada Dinda."


"Itu tidak perlu!" teriak Della. Kebencian yang dirasakan Dinda kepada Bram sekarang menghinggapinya juga. "Dinda masih punya saudara. Ia tidak perlu dibelaskasihani olehmu."


Wajah Bram kemerahan. Bustaman menepuk lengan Della untuk menenangkan.


"Terserah Bu Della kalau begitu," kata Bram sambil mengangkat bahu. "Tapi saya berniat baik. Bukan salah saya kalau Dinda tidak mau menerima saya. Bukan cuma dia yang kehilangan ibunya, tapi saya juga kehilangan istri. Saya juga bersedih. Apalagi kepergiannya terjadi pada saat ia dirundung masalah. Saya merasa bersalah. Itu sebabnya saya bisa bersabar dan menahan diri ketika Dinda mengajukan prasangka yang kejam terhadap saya. Biarlah. Mungkin sebagai hukuman."


"Ah, jangan menggombal," gerutu Della.


"Mengenai masalah kredit bank itu, biarlah kami yang menangani penyelesaiannya. Anda tidak perlu ikut menanggung."


"Kalau begitu, besok pagi saya akan meninggalkan rumah ini. Mungkin itu jalan keluar yang terbaik."


"Ya. Sebaiknya begitu. Maaf, Pak Bram."


"Tidak apa-apa. Terimakasih."


Bustaman mengajak Della pergi. Ia membawa serta map berisi dokumen bank itu. Rencananya mereka akan kerumah Johan sekalian menemui Dinda dan menyampaikan kabar buruk itu.


Begitu kedua tamunya pergi, Bram mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak. Tapi ia lupa bagaimana dirumah itu ia tidak sendirian. Di belakang sepasang mata milik Bi Imah memperhatikan.


****


Meskipun Della sudah berusaha menjelaskan masalah dengan hati-hati tanpa disertai dengan emosinya, Dinda tetap memperlihatkan reaski terkejut yang amat sangat. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar. Butir-butir air keluar dari sudut matanya. "Jadi... jadi dia memang punya motivasi," keluhnya.

__ADS_1


Della mengulurkan tangan untuk memeluknya, tapi Dinda menolak dengan gelengan kepala. Sikap Dinda itu menyedihkan Della yang merasa ditolak. "Aku pun marah sekali padanya Dind. Aku memakinya barusan," kata Della, untuk memperlihatkan rasa solidaritas nya.


"Soal rumah itu tak usah dipikirkan Dinda," sambung Bustaman. "Aku sudah membicarakan dengan Tante Della barusan. Kami akan mengusahakan supaya rumah itu bisa dibebaskan dari cengkraman bank."


"Ayah juga akan membantu," Johan menambahkan.


Dinda menggeleng kembali. "Kalian tak mengerti. Bukan soal harta yang kupikirkan. Tapi kematian ibu! Bukankah dia punya alasan untuk menyingkirkan ibu? Setelah hartanya dikuras, orangnya pun disingkirkan? Ibu tak bisa membela dirinya biarpun dikatai sebagai penjudi."


Ketiga orang berpandangan. Tentu pikiran itu pernah terlintas dibenak masing-masing hanya mereka tak berani menyuarakannya. Itu masalah yang sangat besar. Dengan membenarkan pendapat Dinda, berati mereka jadi menanggung malu dan sesal karena pernah meragukannya. Justru disaat Dinda membutuhkan dukungan, mereka memberikannya secara maksimal.


"Untunglah ibu tidak di kremasi sesuai kehendak Om Bram," kata Dinda.


"Ya. Itu berkat usahamu juga, Dind," sahut Bustaman yang memahami makna ucapan Dinda itu. Pada saatnya ia akan bicara dengan Dinda mengenai persoalan autopsi itu. Sekarang ada masalah lain yang perlu dibicarakan lebih dulu.


"Ayah akan membantu menyelediki perihal lelaki itu. Sebenarnya siapa sih dia, Del?" tanya Johan.


"Aku juga tidak tahu banyak, mas. Dari apa yang diceritakan Lilis kepadaku kelihatannya dia pun tidak tahu banyak. Mereka berkenalan disebuah pameran. Kalau tidak salah itu pameran properti yang digabung dengan pameran alat-alat rumah tangga. Lilis pernah pergi bersama seorang temannya, ah, siapa ya namanya...," Della berpikir sebentar. "Oh iya aku ingat sekarang. Namanya Frida. disana ada Bram memperkenalkan mereka berdua. Dari situ perkenalan berlanjut. Katanya Bram duda tanpa anak. Pekerjaannya sebagai pengusaha pembebas tanah dan properti, juga kontruksi. Itu saja. Kupikir, andaikata Bram itu penipu, bisa saja ia bercerita bohong tentang dirinya. Tahu banyak dengan tidak tahu apa-apa kan sama saja maknanya?"


"Wah, aku tidak ingat. Rasanya Lilis pernah menyebut tapi aku lupa," sahut Della setelah berpikir keras.


"Dan temannya yang bernama Frida itu?"


"Aku mengenalnya, tapi tidak tahu dimana tinggalnya. Kalau tidak salah ia bekerja sebagai karyawan Bank. Entah sekarang, apa masih disana atau tidak."


Johan mencatatnya disebuah buku notes. Dinda merasa senang melihat keseriusan yang diperlihatkan ayahnya. Keseriusan menandakan kepercayaan. Aneh juga, kenapa orang harus menerima pukulan dulu, baru percaya kemudian. Ya, kalau saja ibunya mau mempercayai instingnya dulu, pastilah tidak akan terjadi malapetaka itu.


"Kalau ayah berhasil menemukan teman ibu yang bernama Frida itu, tanyakan siapa bekas istrinya yang dulu," Dinda mengusulkan.

__ADS_1


"Ya. Tentu saja."


"Tunggu sebentar," Della menyela, "Kalai aku tak salah, rasanya si Bram itu bukan duda cerai melainkan duda ditinggal mati."


"Mati?" Dinda membelalakan matanya.


Ekspresi Dinda mengejutkan ketiga orang didepannya. Pikiran mengerikan apalagi yang ada dibenak Dinda sewaktu mengucapkan kata itu?


"Itu kalau aku tidak salah, lho. Mesti ditanyakan lagi," Della cepat-cepat mengatakannya untuk menghapus prasangka Dinda, seandainya ada.


"Karena dia toh akan pergi besok, sebentar aku punya waktu untuk menanyakannya."


"Apa?" Tiga suara hampir berbarengan mengucapkan pertanyaan itu disertai rasa terkejut. Dinda benar-benar sulit diduga.


"Ya. Kapan lagi aku bisa mengajaknya bicara? Besok kita bisa kehilangan jejak."


"Tidakkah itu berbahaya Dind?" tanya Della cemas. "Bila benar dia orang jahat, sebaiknya jangan dipojokkan karena dia bisa nekat."


"Betul sekali Dind," Bustaman membenarkan. "Bahkan kupikir, sebaiknya kau jangan pulang ke sana malam ini. Menginap saja disini."


"Tidak. Ini kesempatanku yang terakhir," kata Dinda dengan suara mantap. "Tapi jangan khawatir, Aku akan bicara baik-baik dengannya. Siapa tahu ada yang bisa kuketahui."


Johan menggeleng. "Mana mungkin dia mau berterus terang kepadamu, Dind. Orang secerdik dia tentu sudah menguasai ilmu berbohong."


"Setidaknya aku bisa membaca wajahnya, Yah."


"Kau sudah membacanya jauh sebelumnya, bukan? Sudahlah," Della membujuk. "Jangan bertindak nekat Dind. Semalam ini kau selalu memperlihatkan kebencianmu kepadanya. Kalau tiba-tiba kau mengajaknya bicara baik-baik, ia pasti curiga. Bagaimana pula kalau kau emosi?"

__ADS_1


"Benar sekali Dind," Johan mendukung. "Jangan menempuh bahaya yang tidak perlu. Dia pasti tidak akan lenyap begitu saja. Aku akan menelusuri jejaknya besok."


****____****


__ADS_2