
Selamat membaca...
Setelah mereka mengisi piring masing-masing, Della mengajak Dinda duduk sejauh mungkin hingga tak mungkin lagi mengarahkan pandangan kepada mempelai.
"Ayo, kita makan Din. Tanpa makan tubuh kita takkan menjadi kuat. Dan bila tidak kuat mana mungkin kita bisa melawan apa yang ingin kita lawan?"
Perkataan Della itu cukup untuk mendorong Dinda melahap isi piringnya. Tentu saja dia harus punya kekuatan untuk melawan Bram! Karena sekarang ia tak bisa lagi memandang orang yang dibencinya maka ia bisa makan dengan perasaan enak.
Sesekali Della melirik. "Enak, Din?"
"Lumayan, Tante."
"Memang enak kok. Habis ini, mau es krim?" Della menawarkan, sekalian menghiburku. Ia tahu Dinda sangat suka es krim.
"Mau, Tante!"
Tak lama kemudian seorang lelaki setengah baya, kurus tinggi, datang mendekat dengan piring berisi makanan di tangannya. "Dicari ke mana-mana, tahunya sembunyi disini, Ma," katanya sambil tertawa. Lalu ia menatap Dinda. "Hai Dinda! Berdua rupanya. Apa Om boleh ke sini?"
Dinda tersenyum dan mengangguk. "Boleh, Om. Masa nggak. Di sini kosong kok."
Lelaki itu Bustaman, suami Della, seorang dokter bedah. Dia berwajah ramah meskipun tidak tampan. Sorot matanya lembut. "Sudah habis makanannya, Din? Om ketinggalan dong."
"Tidak apa-apa, Pa. Kami mau makan es krim kok," Della berdiri. "Tunggu ya Din. Nanti kuambilkan sekalian. Mau yang apa? Coklat, vanila, moka, atau ...?"
"Campur aja, Tante."
"Wah, sudah kenyang makan masih ditambah es krim? Apa tidak takut jadi gembrot, Din?" gurau Bustaman.
Dinda tertawa. "Masa es krim aja bikin gembrot, Om? Yang calon gembrot itu tuh, kedua mempelai!"
Bustaman tertawa. "Duh, bisa aja kamu Dinda!"
"Betul, Om. Kelak merka akan menjadi bola-bola."
Bustaman tertawa lebih geli. Ia cepat-cepat minum supaya tidak tersedak. Dinda tertawa juga. Ia suka Om Bus. Ah, kalau aja ia bisa memiliki seorang ayah tiri seperti lelaki ini. Dan betapa senangnya kalau ia bisa memiliki ibu seperti Tante Della. Tapi mereka berdua milik sepupu-sepupunya. Kenapa yang baik-baik itu selalu milik orang lain?
"Aku tidak ngomong lagi deh, Om. Nanti Om tak bisa makan, tertawa terus."
"Ah, jangan begitu. Ngomong aja terus terang, Din. Yang ngomong kan kamu. Om mendengarkan sambil makan. Kalau kamu diam kan sepi."
__ADS_1
Dinda tertawa. Ia melirik ke sisinya, memperhatikan tangan Bustaman. Sama seperti tubuhnya, jemari tangan itu panjang dan
ramping. Pasti ideal sekali untuk "mereparasi" tubuh-tubuh pasien. Lihat saja bagaimana lincahnya tangan itu naik turun menyendok dan mengangkat makanan.
"Eh, apa sih yang kau pandangi? Aku jadi cemas, jangan-jangan ada makhluk asing di piringku," kata Bustaman.
Sekarang Dinda tertawa, "Aku mengagumi jemari Om," katanya terus terang.
"Oh ya? Ada apa dengam jemariku?" Bustaman mengambangkan kelima jarinya.
"Wah, terima kasih untuk pujian itu." Bustaman menyembunyikan senyum gelinya. Dinda bicara dengan penuh keyakinan bagai orang yang matang dengan pemahaman. Anak ini memang berbakat sebagai pengamat, pikirnya yang dipesankan Della.
"Apakah untuk menjadi ahli bedah, perlu diperhitungkan pula bentuk tangannya, Om?" tanya Dinda serius.
"Ah tidak. Memangnya kenapa Din?"
"Jemari Om kelihatan gesit dan cekatan. Ideal untuk membedah karena pekerjaan itu kan berburu dengan waktu. Cara kerjanya pasti dipengaruhi bentukan juga. Sama kaya orang gendut tak bisa berlari cepat kan?"
Bustaman tak bisa menahan tawanya lagi. "Tapi ada juga rekan Om yang badannya besar dan tangannya juga besar. Dia pintar kok."
"Kalau tangannya besar tentunya dia membutuhkan ruang yang besar juga untuk mengaduk-aduk. Jadi tubuh si pasien harus dibuka lebih lebar, ya Om?"
"Ya, Om. Tapi belum pasti."
"Lho, kenapa belum pasti?"
"Masih mikir-mikir. Sanggup atau tidak."
"Ya, waktunya masih panjang, Din. Tenang-tenang saja."
Della kembali dengan membawa dua es krim. Salah satunya diberikanny pada Dinda.
"Tadi kulihat kalian asyik sekali. Apa sih yang diobrolkan?" tanya Della.
"Dinda pintar humornya, Ma. Aku sampai tersedak-sedak, tuh."
Della tertawa. Ia senang melihat wajah cerah Dinda. Meski ia tahu, kecerahan itu cuma sementara sifatnya.
Benar saja. Setelah Bustaman pergi, wajah Dinda kembali murung. Es krimnya sudah habis. Ia menolak tawaran makanan yang lain. "Sudah kenyang, Tante. Aku cukup bertenaga sekarang untuk melakukan perlawanan."
__ADS_1
Semula Della heran, perlawanan apa yang mau dilakukan Dinda. Tapi kemudian ia teringat pada ucapannya sendiri barusan. Celaka, apakah ia sendiri yang menganjurkan agar Dinda melawan ibunya?
"Kau serius Din?" tanyanya khawatir.
"Iya dong, Tante."
"Maukah kau kuberi nasehat, Din?"
"Boleh, Tante."
"Begini Dinda. Berikanlah mereka kesempatan dulu untuk membuktikan diri. Jangan langsung mengajak berperang. Maksudku, Kau tidak usah pura-pura bersikap manis. Tapi jangan pula bersikap ketus dan bermusuhan. Pasif sajalah. Lihat dan perhatikan dengan diam. Tak perlu mendekat tapi juga tak menghindar."
"Bagaimana kalau tidak tahan, Tante?"
"Kalau begitu, barulah kau menghindar. Tapi tak perlu dengan emosi, nanti yang rugi kau sendiri lho. Mereka sendiri tidak apa-apa. Orang yang emosi itulah yang rugi."
Dinda termangu. "Mungkin sebaiknya aku menghindar saja, Tante. Bila tidak melihat maka aku tidak pula emosi. Seperti tadi itu. Pikiran rasanya negatif terus."
"Begitu juga baik. Berusahalah menahan diri Dinda. Anggaplah sebagai latihan mendewasakan diri."
"Aku tidak bisa membayangkan akan serumah dengan dia, Tante. Setiap hari melihatnya dan berdekatan dengannya. Aku tidak yakin, apakah bisa terus-terusan menghindar darinya."
Sebenarnya Della ingin mengatakan, "Barangkali prasangka mu terhadap Bram terlalu buruk, Din!" Tetapi ia takut kalau-kalau insting Dinda itu benar. Dinda harus merasa dirinya dipercaya karena dia sedang sendirian. Bukankah sekarang ini boleh dikata zaman edan, banyak terdengar kisah buruk mengenai para bapak yang tega memperkosa anak kandung sendiri? Apalagi terhadap anak tiri.
Sesungguhnya insting itu merupakan suatu karunia yang bisa dijadikan senjata bela diri. Tanpa memiliki insting manusia menjadi lugu dan gampang dibodohi, juga gampang dimangsa orang lain. Tentu mungkin saja insting itu berlebihan. Tapi masih lebih baik berlebihan daripada tak ada sama sekali. Maka ia menahan ucapannya, "Kalau begitu, jagalah dirimu baik-baik Dinda! Tapi ingat, jangan melakukan hal-hal ekstrem. Kalau Mamamu tak bisa menolong, masih ada aku. Kau tidak sendirian Dinda!"
"Ya, Tante. Terimakasih. Aku tahu, cuma Tante yang mengerti."
"Jadi kau berjanji untuk selalu datang padaku bila ada masalah? Jangan bertindak sendiri."
"Ya. Aku berjanji Tante." Dinda menyahut dengan ringan.
Della kurang yakin. Janji itu diucapkan Dinda dengan gampang. Sungguh seriuskah dia?
****____****
Ditunggu goyang like jempol nya..
Terimakasih.
__ADS_1