
Happy Reading
*****____*****
Maya tidak ditahan. Bagas membawanya pulang ke rumahnya Bustaman memberinya resep obat penenang. Maya pasti memerlukan itu. Sedang jenazah Bram dibawa ke rumah sakit untuk di otopsi. Muntahan dan bubuk putih dalam saku celananya berikut beberapa tetes kopi susu yang tersisa diperiksa di laboratorium.
Sementara menunggu hasil lab, Arman memimpin penggalian di halaman belakang rumah Bram. Dengan izin Arman, John memberitahu rencana itu kepada paman dan bibi Frida, juga kedua teman satu flat Frida, Erni dan Desi. Ternyata mereka berempat memaksa untuk ikut hadir dalam acara itu. Mengingat mereka bisa membantu melakukan identifikasi, seandainya mayat ditemukan, maka mereka diizinkan hadir. Dinda juga hadir. Tak ada yang bisa melarangnya. Sedang Bagas hadir mewakili pemilik rumah.
Para tukang yang menggali bekerja keras, karena sukar menentukan lokasi yang tepat. Nampaknya bila seluruh halaman sampai tergali maka setidaknya bisa bermanfaat untuk keperluan membuat taman. Tanahnya sudah gembur.
"Kenapa tidak menggali disini saja, Pak?" seru Dinda. Ia menunjuk tanah dekat tangga teras. Orang-orang menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya. Tentu ada alasannya kenapa ia mengajukan usul seperti itu, "Bukankah disini bangkai tikus itu ditemukan, Mas Bagas?" ia bertanya.
"Ya. Tapi..."
__ADS_1
Ucapan Bagas terputus oleh isyarat Johan. Tentu Johan masih ingat ucapan Dinda beberapa waktu yang lalu. Soal itu tidak perlu diperdebatkan.
Tapi Arman sudah belajar untuk tidak membuang waktu. Tak ada salahnya mendahulukan tempat yang ditunjuk Dinda itu. Sekarang atau nanti sama saja. Tapi bila usul Dinda itu membawa hasil maka mereka bisa menghemat waktu dan tenaga. Disamping itu sikap Dinda membangkitkan rasa segannya. Dulu ketika baru mengenalnya, ia tak begitu terkesan. Baginya, Dinda tak lebih dari seorang gadis remaja yang masih kuat dipenuhi emosi. Tapi sekarang Arman menyadari bahwa Dinda memiliki kekuatan yang lebih dari sekedar emosi. Ia pun belajar untuk tidak menilai seseorang melulu dari usianya.
Maka para tukang diperintahkan untuk menggali ditempat yang ditunjuk Dinda. Sepertinya ada daya tarik baru yang membangkitkan semangat hadirin. Mereka yang sudah lesu dan putus asa karena tak ada kepastian dimana tepatnya lokasi yang harus digali, menjadi segar kembali oleh ketegangan dan sensasi. Mereka berkerumun sedekat mungkin. Sesekali ada yang terkena cipratan tanah tapi tak peduli.
Setengah jam kemudian. "Stop!" teriak Arman sambil mengangkat tangannya. Para tukang berhenti. Mereka melihat sesuatu. Secarik kain bermotif bunga-bunga menyembul diantara bongkahan tanah. "Ituuu...!" teriak Desi histeris. "Itu bajunya Frida!"
Erni melotot. "Yaa! Betul! Betuuul...!" teriaknya juga.
Setelah jeritan dan teriakan yang terlontar barusan, maka suasana hening menjadi kelanjutannya. Mereka sudah tahu sekarang bahwa apa yang mereka cari benar ada dibawah sana. Setelah bau yang khas menyebar keluar, maka nampaklah sesosok jenazah yang sudah tak utuh lagi. Gaun yang dikenakannya bisa diidentifikasi dengan lebih jelas oleh Desi dan Erni. "Itu baju barunya. Ia pernah memamerkannya kepada kami."
Sebuah tas bertali yang juga dikenali sebagai milik Frida segera ditemukan. Didalamnya terdapat peralatan kosmetik, dompet kecil yang kosong, dan KTP Jakarta atas nama Frida. Benda-benda itu semakin memastikan identitas jenazah. Pencarian sudah berakhir, Frida berhasil ditemukan.
__ADS_1
Sayangnya didalam tas itu tidak ditemukan surat atau catatan yang bisa menjelaskan hubungan Frida dengan Bram. Sedang bagi Dinda dan Johan yang sangat penting adalah kejelasan mengenai Lilis. Benarkah Lilis menghabiskan hartanya di meja judi seperti dikatakan oleh Bram?
Ketika lemari dan meja kerja Bram di bongkar mereka pun tidak berhasil menemukan petunjuk mengenai hak itu. Tak ada catatan apa-apa mengenai Lilis, Frida, ataupun Indira. Sebenarnya hal itu bisa dimaklumi karena orang seperti Bram sudah tentu tak ingin meninggalkan barang bukti yang bisa memberatkan dirinya. Maka satu-satunya barang bukti yang dapat menunjuk dirinya sebagai pembunuh hanyalah jenazah Frida. Siapa lagi yang membunuh lalu menyimpan mayat ditempat itu kalau bukan pemilik rumah? Cuma dia yang tinggal disitu dan dia pun mengenal Frida. Memang tak ada saksi dan bukti, apalagi pengakuan dari Bram, tetapi kejelasan masih bisa diperoleh dari pemahaman yang logis.
Petunjuk yang menggemparkan itu pun membersihkan nama Tante Maya. Seseorang dengan reputasi mengerikan seperti Bram, pasti punya kemampuan untuk melakukan hal yang dituduhkan Maya. Bila seorang lelaki sudah pernah kehilangan istri dengan cara meragukan sebanyak dua kali, maka pastilah tidak berlebihan bila ia bermaksud mengulangnya lagi untuk ketiga kalinya dengan tujuan yang sama. Sebagai seorang janda tanpa anak, Maya cukup berharta.
Sesungguhnya, penemuan jenazah Frida bisa diartikan sebagai kelegaan yang luar biasa bagi Maya. Suatu pertolongan, atau jalan keluar dari kegelapan. Semua simpati tertuju kepadanya, sebagai istri dari seorang lelaki yang diam-diam mengancam keselamatannya setiap saat dengan topeng cinta. Bayangkan kalau dia pada saat kritis itu tidak melakukan penukaran cangkir. Betapa banyaknya hal-hal mengerikan yang bisa dibayangkan orang dari kemungkinan itu.
Tapi, seandainya tak ada jenazah yang ditemukan, maka ceritanya pun akan berbeda. Maya tidak semudah itu terlepas dari tuduhan biarpun dari hasil lab yang diperoleh kemudian ternyata racun yang mematikan Bram berasal dari bubuk putih dalam saku celananya. Racun itu adalah arsen. Jadi bisa saja Maya sendiri yang memasukkan racun itu kedalam saku celana Bram. Tak ada saksi yang melihat.
Karena itu Maya sangat berterimakasih kepada Dinda dan Johan. Ia merasa berhutang budi kepada mereka. Tetapi dengan rendah hati kedua orang itu mengatakan bahwa hak itu bisa terjadi karena Maya mempercayai mereka. Seandainya Maya tidak percaya, maka semuanya akan percuma. Ceritanya bisa saja menjadi lain. Sesungguhnya jalan hidup seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri. Orang lain cuma bisa mempengaruhi, tetapi pilihan tetap ada padanya.
****____*****
__ADS_1
to be continued 😂
don't forget to like, komen, n vote