
"Bagus sekali. Saya pikir itu cukup menjadi petunjuk bahwa mereka berdua memang memiliki hubungan yang erat."
"Apakah mas mau bicara sendiri dengan orang-orang yang saya sebutkan tadi?"
"Oh, tidak. Tak usah. Mereka pasti akan balik bertanya, padahal saya sendiri belum bisa menceritakan. Anda berdua bisa mengerti, tapi orang-orang itu belum tentu."
"Mas benar. Jadi sudah cukup?"
"Cukup mbak. Terimakasih banyak atas bantuannya."
"Apakah mas sudah mendapatkan jejaknya?"
"Sudah. Tapi saya tidak mau dia tahu atau merasa dirinya tengah diselidiki. Jadi tolong simpan dulu foto itu baik-baik."
"Baik mas. Saya dan Erni berharap, semoga Frida cepat ditemukan."
"Ya. Itu harapan kita semua."
"Dan...dan dia...selamat."
"Tentu."
Tapi dari suara Desi, Johan tahu bahwa harapan yang diutarakan Desi itu bernada pesimis. Selanjutnya ia menyampaikan berita paling akhir itu kepada Dinda dan Della. Sedang Dinda mengatakan akan menyampaikan lagi kepada Bagas.
Tiap hari Bagas menelepon Dinda. Dan sampai hari keempat sejak pertemuan mereka, Bagas mengatakan belum mendapat kesempatan untuk menyampaikan cerita yang didengarnya itu kepada Tantenya. "Om Bram menempel terus setiap aku mendekati Tante. Dan celakanya mereka lebih sering menginap di Menteng. Menurut Tante, dirumah itu ada sesuatu yang membuatnya senang. Suasananya unik, katanya."
"Unik?" Dinda membelalakkan mata. Ia teringat kepada teorinya tentang kemungkinan Frida terkubur di rumah itu. Mana mungkin orang merasa nyaman tinggal dirumah seperti itu. Apakah tak ada hantu gentayangan disitu?
"Ya. Tante menyukai kekunoannya. Habis memang kontras dibanding rumah yang kami tempati, yang serba baru baik bangunannya maupun arsitekturnya. Mungkin ada saatnya dia akan merasa bosan dan kembali ke rumah."
"Ah, kau tidak menunggu dia bosan untuk menceritakannya, bukan?" tanya Dinda khawatir.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, kali aku menunggu-nunggu bisa jadi malah terlambat."
"Betul sekali. Nah, lantas kapan mau kau ceritakan?"
"Besok. Aku akan mengajak Tante makan siang bersama. Hanya pada saat itu aku bisa bersamanya berdua saja. Kudengar besok om yang punya kesibukan di Bogor hingga tak bisa makan siang bersama Tante. Kau tahu? Sejak mereka menikah, om Bram selalu menjemput Tante di butiknya untuk makan siang. Pendeknya, pagi, siang, dan malam mereka selalu makan bersama. Jadi mana aku punya waktu untuk bicara empat mata dengan Tante? Disana selalu ada om Bram. Bila dia tak ada, aku sedang bekerja."
"Uh, mereka lengket sekali ya? Apa kau pikir Tante mu akan percaya bahwa Om Bram harus diwaspadai?"
"Mudah-mudahan dia percaya padaku."
"Ya. Kau percaya padaku dan papa. Padahal kami tak bisa menyodorkan bukti konkret. Tapi masih jadi pertanyaan apakah Tante Maya mau mempercayai kami juga."
"Mungkin dia tak segera mempercayai. Tapi yang pasti dia akan menghargai pendapat ku."
"Kau memang berbeda denganku. Dan Tante mu berbeda dengan ibuku. Kalau saja dulu ibu percaya padaku. Atau aku punya kesempatan untuk bercerita padanya..." keluh Dinda.
"Sudahlah. Jangan menyesali yang sudah lewat. Kau punya alasan yang mulia untuk tidak segera bercerita kepadanya."
Dinda merasa senang untuk kata-kata yang menghibur itu. Kata-kata yang menghibur itu. Kata-kata semacam itu sudah sering didengarnya dari ayahnya, Tante Della, dan juga Om Bus. Tapi Bagas memberi pesan khusus.
"Ya. Doakanlah supaya aku bisa melakukannya dengan baik dan membawa hasil yang baik pula."
"Pasti. Dan jangan lupa beri aku kabar."
Setelah meletakkan pesawat telepon, Dinda termenung sebentar. Mau tak mau berpikir, apakah benar alasan Bagas bahwa ia tak punya waktu berduaan dengan Tantenya. Untuk masalah yang begitu mencemaskan, kenapa Bagas mesti menunggu-nunggu? Akhirnya ia sadar, Bram memang orang yang mengerikan bagi dirinya. Tapi belum tentu sama halnya bagi Bagas. Dia sudah mengalami, tapi Bagas belum. Sesungguhnya, percayakah Bagas kepadanya? Atau cuma setengah percaya? Tentu Bagas tak bisa disalahkan kalau ia tak bisa mempercayainya seratus persen. Mungkin Bagas membutuhkan waktu lebih banyak untuk merenungkan ceritanya.
Sampai saat itu Dinda belum memberikan kepastian kepada ayahnya kapan ia dan Bu Imah akan pindah. Ia mengulur waktu dengan memberi alasan, selama Bagas belum bercerita kepada Tantenya maka selama itu pula ancaman bahaya yang dikhawatirkan itu belum ada. Ia pun punya alasan lain yang ternyata tak bisa dibantah oleh Johan, yaitu buat apa Bram mencelakakannya bila perbuatan itu bisa menjadi bumerang untuknya kalau ketahuan? Bukankan dulu sudah terbukti betapa pandainya ia mengendalikan diri, sampai ditendang pun ia tak membalas? Apalagi sekarang mereka sudah tak punya hubungan lagi satu sama lain. Yang jelas menghadapi bahaya sekarang adalah Tante Maya dan mungkin juga Bagas, karena merekalah calon mangsanya. Masalah bagi Bram sekarang adalah kepercayaan kedua orang itu kepadanya.
Johan masih tetap membujuknya. Demikian pula Bagas. Untuk tidak mengecewakan mereka, ia tidak secara tegas menyatakan keberatannya. Sekarang Bagas mengabarkan bahwa waktunya adalah besok. Apakah besok lusa ia harus pindah?
Ia memandang seputar rumahnya dengan perasaan segan. Selama ini ia benar-benar menikmati kebebasannya sendiri. Mungkin karena dalam kesendirian ia sama sekali tidak kesepian. Walaupun sendirian ia tetap memiliki orang-orang yang mencintai dan memperhatikannya dan bisa pula ditemuinya dalam waktu singkat, bahkan bisa pula bercengkrama lewat telepon.
__ADS_1
Tiba-tiba panggilan bi Imah mengejutkannya. "Non, ada ibu sebelah rumah mau ketemu non. Tuh lagi nunggu didepan."
"Oh, Tante Leli bi?" Dinda memonyongkan mulutnya.
"Ya. Katanya penting, Non."
Dinda teringat pada pembicaraannya yang terakhir dengan Tante Leli, yaitu awal pertemuannya dengan Bagas. Siapa tahu, memang penting.
"Apa kabar Tante?" ia menyapa dengan ramah ketika menemui Tante Leli.
"Kabar baik, Dinda. Mana janjinya tuh?" Tante Leli menatap dengan kritis.
"Janji apa Tante?"
"Katanya mau main kerumah."
"Oh, belum sempat Tante. Lagi banyak urusan. Betul deh."
"Saya heran, Dinda. Kok kamu nggak seperti remaja lain."
"Apa iya Tante? Lainnya gimana sih?" Dinda mulai jengkel, mengira Tante Leli membohonginya dengan berita penting, padahal cuma mau mengobrol saja.
"Lihat dong anak-anak Tante. Mereka berteman banyak. Cowok dan cewek. Kalau kau kerumah kau bisa bergaul sama mereka. Jangan menyendiri seperti ini. Nanti bisa kuper."
"Ya, saya memang kuper Tante. Malu sih, tapi biarin ajalah. Habis memang orangnya begini."
"Ada yang bilang, kau sedikit galak dan judes. Eh, sory Dinda. Tante bilang gini supaya kau tidak jadi kuper. Jangan tersinggung ya."
"Nggak Tante. Dari sononya yang sudah jadi begini. Biarin deh." Dinda tidak tersinggung. Ia tersenyum.
****___****
__ADS_1
to be continued 😂
sampai jumpa Minggu depan ya..