Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 27


__ADS_3

Setelah masalah itu disepakati, Bram menyampaikan niatnya mengkremasikan jenazah Lilis. Dinda terkejut. "Tidak!" serunya. Semua orang terkejut melihat reaksi Dinda yang spontan emosional. Johan yang juga hadir dalam acara itu lebih terkejut lagi. Tiba-tiba ia melihat Dinda yang berbeda daripada biasanya. Dinda yang nampak menyimpan sesuatu yang tak diketahuinya. Muncul prasangka dan rasa was-was ketika melihat tatapan Dinda yang mengandung permusuhan kepada Bram. Ada apakah sebenarnya?


"Kenapa tidak?" tanya Bram datar.


"Ibu harus diautopsi!" sahut Dinda. Mau tak mau ia merasa sedikit gentar menghadapi tatapan semua orang.


Bram mengerutkan kening. Yang lain pun merasa heran kecuali Della. Ia tahu apa yang terpikir oleh Dinda dan merasa cemas karenanya. Tapi ia pun mengagumi keberanian Dinda menentang Bram. Yang dicemaskannya adalah reaksi Bram. Tapi Bram kelihatan sabar dan tidak tersinggung. "Pak Bus seorang dokter. Apakah menurut pak Bus, autopsi itu perlu?" tanyanya kalem.


Bustaman tak segera menjawab. Ia sudah menyimpulkan dan menuliskan juga di surat kematian, bahwa penyebabnya adalah kecelakaan. Lilis jatuh sendiri karena tak ada orang lain bersamanya pada saat itu. Sementara itu autopsi hanya dilakukan bila ada laporan mengenai keraguan kematian. Untuk itu ada prosedurnya yang tentu harus melibatkan kepolisian. Tak semudah itu membedah mayat lalu mengambil organ-organ yang diperlukan dan mengirimkan nya ke laboratorium hanya karena dia seorang dokter dan jenazah merupakan kerabatnya. Dinda tentu tidak memahami sejauh itu. Tetapi ia menghargai keinginan Dinda dan tidak ingin membuatnya terdesak didepan Bram dan orang-orang lain. Maka ia mendekati Dinda. "Mari kita bicara berdua dulu Din," ajak nya.


Dinda setuju. Ia mengikuti Bustaman ke ruang lain dimana mereka bisa bicara berdua saja. Disana Bustaman menjelaskan pendapat dan kesimpulannya. Tetapi ia terkejut ketika Dinda berkata dengan sikap gigih, "Kalau begitu, kita harus melaporkan kepada polisi, Om!"


Bustaman tertegun. Ia berusaha bersikap tenang. "Apakah alasannya Din?"


Dinda tak membuang waktu untuk mengungkapkan kecurigaannya. "Pertama, sebelum keluar dari kamar, ibu minum kopi susu yang diberikan Om Bram. Cangkirnya pecah sebelum minumannya habis. Aku menemukan pecahannya berikut tisu yang masih basah di tempat sampah. Kenapa ia menjatuhkan cangkirnya? Mungkin ia kesakitan. Kedua, Bi Imah melihat ibu berjalan sempoyongan menuju tangga. Dan sebelum jatuh dia menjerit. Kenapa menjerit ya sebelum jatuh, dan bukan sesudahnya? Nah, itulah kejanggalannya Om. Apakah itu tidak cukup untuk melaporkan kepada polisi, Om?"

__ADS_1


Bustaman tertegun. Selama ini ia merasa sudah memahami kepribadian Dinda sebagai anak yang jauh lebih dewasa dibanding umurnya. Tapi apa yang dihadapinya sekarang membuatnya tercengang. Dinda sangat cermat dan juga gigih. Tentu laporan Dinda itu sekalian menjelaskan luka yang dilihatnya dijari Lilis sewaktu memeriksa tadi. Luka tersayat itu masih baru dan dibalut handsaplast. Mungkin Lilis melukai jarinya sendiri sewaktu mengangkat pecahan cangkir. Bagaimanapun ia menganggap teori Dinda itu belum cukup untuk semestinya kecurigaan. Tapi ia tak ingin menimbulkan kesan tak mendukung. Anak itu berniat mencari kebenaran. Niat itu haruslah dihargai setinggi-tingginya.


****


Diluar dugaan Bustaman dan Della, Bram menanggapi tuntutan Dinda itu dengan sikap tenang. Ia tidak kelihatan marah atau tersinggung. "Silahkan saja kalau mau lapor polisi," katanya. "Saya mengerti perasaan Dinda. Pak Bus dan Bu Della tentunya tahu betul, bahwa sejak awal Dinda tidak pernah menyukai saya."


Bustaman dan Della berpandangan sebentar. Sikap Bram itu memang memudahkan sementara tuntutan Dinda itu pun tidak bisa dianggap sepele. Masalahnya bukan main-main. Sementara itu Johan yang diberitahu permasalahannya mendukung keinginan Dinda sepenuhnya. Bahwa ia menawarkan diri untuk jadi pelapor ke kantor polisi mengingat Bustaman memiliki jadwal operasi di rumah sakit siang itu.


Akhirnya kesepakatan dicapai. Johan melaporkan kasus itu disertai Dinda. Bram dan Della menunggu kedatangan polisi sebelum membawa jenazah dengan ambulans menuju rumah sakit. Bustaman berangkat ke rumah sakit dan berjanji akan kembali secepatnya bila telah selesai.


Dinda sangat tidak puas. Dimatanya para petugas itu bersikap kurang serius. Sepertinya kasus yang mereka hadapi sepele saja. Lalu ia teringat. "Tunggu, Pak! Saya menyimpan pecahan cangkir dan tisu yang dibasahi oleh cairan yang diminum ibu saya sebelum dia jatuh. Saya kira itu bisa diperiksa di lab, Pak."


Si petugas tertegun sebentar lalu wajahnya kelihatan cerah. "Wah, bagus sekali. Baiklah, kami bawa sekalian. Punya kantong plastik?"


Tak lama kemudian si petugas pamit sambil menenteng kantong plastik berisi barang-barang pemberian Dinda. Bram tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Ia menyibukkan diri dengan mempersiapkan jenazah Lilis untuk dibawa. Ambulans sudah menunggu.

__ADS_1


Ketika Bustaman datang ke kantor polisi memenuhi panggilan, ia melihat Bram juga berada disana. Pada saat giliran Bustaman menghadap, Bram pamit untuk pulang duluan. Ia akan kembali ke rumah duka di rumah sakit untuk menemani jenazah istrinya. Kepada petugas, Bustaman menyampaikan kesimpulannya berdasarkan pengamatannya sebagai dokter ketika memeriksa jenazah Lilis.


"Ya. Saya sudah membaca visum yang anda buat. Kematian disebabkan karena patahnya leher korban akibat jatuh dari atas tangga. Apakah dari pengamatan anda sebagau dokter, kecurigaan keponakan anda itu beralasan? Perlukan autopsi dilakukan?"


"Untuk menghormati permintaan keponakan saya, Dinda, saya kira tak ada salahnya bila autopsi dilakukan pak. Dia akan puan dan kamu tidak perlu menyesal."


"Sesungguhnya, dari pengamatan saya sebagai seorang penyidik, tak ada yang mencurigakan dari kasus itu. Kita bisa menyimpan tenag dan biaya yang tidak perlu dikeluarkan. Bukannya saya tidak menghargai, lho. Anda sendiri sebagai seorang ahli sudah menyimpulkan penyebab kematian cukup dengan pemeriksaan luar saja. Pada saat kejadian itu tak ada orang lain diatas tangga. Pemeriksaan seputar tangga pun tak menunjukan indikasi mencurigakan. Bahkan sendal korban juga sudah diperiksa."


"Betul, Pak. Tapi Dinda mengajukan beberapa hal yang menurutnya merupakan kejanggalan."


"Ya. Saya juga sudah mendengar pengaduannya. Anak itu bersemangat sekali ya? Kelihatannya cerdas. Tapi juga emosional. Baiklah. Kita akan mendiskusikan saja hal-hal yang disebutnya janggal itu. Anda seorang dokter. Jadi diskusi kita akan bermutu.


****____****


to be continued 😂

__ADS_1


__ADS_2