Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 45


__ADS_3

Setelah percakapan berakhir, Dinda merenungkan sejenak kalimat Irene yang terakhir. Ia menyimpulkan, kepercayaanlah yang mendorong Irene mendukung ide itu. Irene percaya bahwa ia tidak akan sembarang menjerumuskan ayahnya bila tidak yakin. Siapa sangka bahwa kepercayaan Irene padanya sebegitu tingginya, hingga. bersedia melepas lelaki yang dicintainya untuk merayu perempuan lain walaupun cuma pura-pura?


Setiap perempuan bisa saja memiliki daya tarik yang unik, yang tidak dimiliki perempuan lainnya. Sesuatu yang bisa menggoda lelaki yang pada dasarnya cenderung poligamis. Tapi sudah pasti, kepercayaan harus pula memiliki dasar pertimbangan yang kuat. Sembarang percaya saja bisa mengarah pada kefanatikan. Dinda merasa bahagia. Sesungguhnya, kepercayaan itu amat tinggi nilainya.


Sesudah itu ia kembali meraih telepon. Della dan Bustaman harus diberitahu.


****


Setelah menutup telepon, Irene berhadapan dengan Johan. Mereka tersenyum dan memandang dengan sorot mata berbeda daripada biasanya. Sepertinya hari itu yang satu nampak berbeda di mata yang lain dibanding hari-hari sebelumnya.


Johan mengulurkan tangan. Irene masuk dalam pelukannya.


"Aku pikir, belum terlambat untukku melamarmu," kata Johan.


"Apa?" Irene melepaskan pelukan supaya bisa memandang wajah Johan.


"Maukah kau menjadi istriku?"


Irene kembali memeluk Johan. "Tentu saja mau. Kau bodoh sekali. Ku kira kau tak akan pernah mengatakannya."


Sepertinya kemesraan kembali berlipat ganda.


*****


Dua hari kemudian, Frida melihat Johan sedang duduk di halte bus. Dari seberang jalan ia sudah melihatnya dan segera tahu bahwa lelaki itu sedang menunggu kedatangannya. Jantungnya berdebar oleh rasa senang dan juga sensasi. Sebenarnya, diam-diam ia mengharapkan hal seperti ini akan terjadi. Selama dua hari berturut-turut ia merasa kecewa karena harapan nya itu tidak tercapai. Sekarang keinginan nya terkabul. Bukan cuma membuai ego nya sebagai perempuan yang senang di puja lawan jenis, tapi ia juga membayangkan rezeki yang bisa diteguknya dari Bram.


Tentu ada kemungkinan bahwa Johan menemuinya bukan untuk pendekatan pribadi melainkan untuk menanyainya lebih banyak lagi perihal Lilis. Tapi seandainya kemungkinan itu benar, ia tidak terlalu kecewa karena ia masih bisa mendapat keuntungan yang lain.


Johan berdiri dan kembali menyalami Frida. "Tidak bisa melihat saya?" gurau Johan. Senyumannya simpatik dan tatapannya lembut, pikir Frida.


"Ah, masa bosan. Baru lihat dua kali, kan?" Frida membalas dengan gurauan juga.


Mereka tertawa. Sikap Frida sudah tak setegang pada pertemuan pertama. Itu disebabkan karena ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. "Apakah ada lagi yang mau ditanyakan, Mas?" tanyanya langsung.


Johan menggaruk kepalanya. "Wah, apa ya? Tiba-tiba saya jadi lupa."


Frida tertawa geli. "Ih, masih muda sudah gejala pikun."

__ADS_1


"Bukan pikun, Frid. Tapi melihatmu saja jadi lupa apa gerangan yang mau saya tanyakan." Johan sudah mulai dengan usaha pendekatan. Pada awalnya harus diwarnai dengan humor. Tawa bisa melenyapkan ketegangan dan kecanggungan.


"Nanti bus saya keburu datang lho. Ayo diingat-ingat..." Frida merasa tergelitik.


"Wah, kalau begitu saya bisa celaka."


"Ah, masa. Kasihan amat."


"Kalau kau betul kasian sama saya, beri kesempatan lebih banyak dong. Masa bus jadi penentu nasib saya. Padahal saya tidak mungkin berharap bus itu mogok. Kasihan orang banyak nanti."


Frida tak bisa berhenti tertawa. "Memangnya kau mau tanya apa sih? Belum ingat juga? Apa masih tentang Lilis?"


"Ya dan tidak."


"Kok begitu?"


"Sebagian tentang Lilis tapi sebagian lagi bukan."


"Kalau begitu sebagian dulu saja. Bagian lain belakangan."


"Aneh amat."


"Ya. Memang aneh. Belum pernah terjadi seperti itu."


"Apa iya?" Frida menatap heran. Ia mulai mengira Johan benar-benar serius. "Habis bagaimana mas? Nanti namamu sendiri kau lupa juga."


"Namaku Johan kan?"


Frida tertawa lagi. "Aduh mas. Kau pasti sedang melawak."


"Maukah kau menolongku mengembalikan ingatanku?"


"Tentu saja mau. Tapi saya tidak tahu caranya."


"Nanti saja beritahu. Bagaimana kalau kita pergi minum dulu? Saya membutuhkan penyegaran. Jadi jangan biarkan bus itu jadi penentu nasibku. Selanjutnya saya bisa mengantarmu pulang."


"Wah, saya tahu sekarang. Mas sedang melancarkan akal bulus."

__ADS_1


Johan tertawa. "Jangan menyangka jelek, Frid. Istilah nya bukan akal bulus, melainkan taktik. Terus terang, saya tak mungkin puas berbincang denganmu bila waktunya begitu sempit. Belum selesai ucapan, tiba-tiba bus muncul. Lalu, kau melompat pergi. Atau begini saja. Saya akan ikut bus yang kau naiki lalu turun bersamamu. Boleh Frid?"


Ide itu membuat Frida cemas. Ia tidak ingin alamatnya diketahui Johan secepat itu. Pada suatu saat mungkin Johan akan tahu juga, tapi tidak cepat-cepat. Bagaimanapun ia terikat janji dengan Bram dari siapa ia berharap bisa mendapat uang lagi. Ia memutar otaknya. "Begini saja, Mas. Saya bersedia berbincang panjang denganmu. Tapi jangan sekarang. Saya punya janji seseorang sebentar. Jadi, saya tak mau pulang terlambat."


"Apakah janjimu dengan pacar?"


"Ah, tidak. Saya tidak punya pacar."


"Syukurlah," kata Johan dengan wajah lega. "Jadi kapan kau bersedia? Jumat atau Sabtu?"


"Jumat saja. Sabtu saya libur. Kau tunggu saya disini seperti biasa."


"Tidakkah Sabtu lebih baik? Biarpun kau libur saya bisa menjemput mu dirumahmu. Biar jauh atau dipelosok sekali pun saya datangi."


"Ah, enakan Jumat."


Johan tak mau memaksa. Ia harus bersabar. Mungkin usul yang itu lebih baik karena pada hari itu ia pasti bisa bertemu dengannya. Tapi bila Frida menyebutkan alamatnya supaya bisa dijemput pada hari Sabtu, bagaimana kalau alamat yang diberikan itu palsu atau sudah dicari? Toh ia akan tahu juga dimana Frida tinggal bila mengantarkannya pulang nanti.


"Terimakasih Frid, kau baik sekali."


"Ah, saya tidak sebaik itu. Ngomong-ngomong, mumpung bus belum datang, sungguhkah kau belum ingat hal-hal yang mau kau tanyakan?"


"Setelah saya diberi waktu, lebih baik nanti sajalah. Waktunya tak cukup."


"Jadi kau berbohong tadi kan?"


"Berbohong untuk kebaikan kan boleh."


"Jadi untuk kebaikan?"


"Ya. Saya tidak bermaksud jelek. Di samping berbincang-bincang saya pun ingin mengenalmu lebih baik. Boleh Frid?" Johan memperlihatkan senyumnya yang paling simpatik dan tatapan yang paling hangat.


Frida merasa tersentuh. Sudah cukup lama ia tidak menjalin hubungan akrab dengan kaum pria. Bukan berarti tak ada yang mendekat. Tapi ia belum menemukan orang yang berkenan di hati nya. Selama itu para lelaki terlalu blak-blakan memperlihatkan keinginan mereka pada saat mendekatinya. Mereka cuma menginginkan keintiman. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi lelaki yang satu ini kelihatannya lain. Awal pendekatan nya memang lain. Ia pun ingin tahu, kenapa Johan masih memikirkan dan memperhatikan Lilis, padahal mereka sudah lama bercerai sementara Lilis pun sudah menikah dengan orang lain.


****____****


to be continued.

__ADS_1


__ADS_2