
Bram tertegun sesaat. Tidak jijikkan Maya melihat tikus itu?
"Saya bukan menonton pekerjaanmu, tapi saya mau menemanimu dibelakang. Nggak enak sendirian disini." Maya menjelaskan.
"Tapi dibelakang kan bau. Disini tidak."
"Nggak apa-apa. Saya akan menutup hidung."
Baru pada saat itu Bram menyadari bahwa Maya seseorang yang kukuh dengan kehendaknya. Tetapi ia tidak merasa jengkel karena Maya punya alasan yang wajar. Apa yang dianjurkan Maya itu demi kebaikannya sendiri.
Mereka kebelakang bersama-sama.
"Heran ya. Kenapa tikus sebesar itu bisa mati disini?" Maya menyatakan keheranannya. Sesuatu yang sebenarnya juga dipertanyakan Bram meskipun cuma dalam hati. "Mungkinkan ada orang yang melempar kesini?" tanya Maya sambil memandang berkeliling. Tembok setinggi tiga meter membatasi kiri kanan dan belakang. Diatas tembok itu terdapat pecahan beling dan masih pula ditambah dengan bentangan kawat berduri.
Bram menggeleng. "Kemungkinan sih ada. Tapi untuk apa berbuat begitu? Saya tidak bermusuhan dengan tetangga. Kalau pun iseng, maka pelakunya harus naik tangga lebih dulu lalu melemparnya kuat-kuat supaya bisa mencapai tempat ini. Tikus sebesar itu tentunya tidak ringan."
"Ya. Saya kira itu tidak mungkin." Maya mulai menutup hidungnya.
"Tuh, terganggu kan? Ke dalam saja, May."
"Tidak. Butuh bantuan Bram?"
"Oh, sama sekali tidak. Kau duduk saja disitu."
__ADS_1
Bram mengambil cangkul dari samping rumah, lalu mencari tempat yang cocok. "Kenapa tidak disitu saja Bram?" Maya menunjuk bidang tanah yang tidak berumput sementara sekitarnya banyak ditumbuhi semak-semak dan tanaman liar.
"Ah, untuk benda sekecil ini kenapa mesti jauh-jauh." Bram menggali tanah dekat tangga teras. Ia mengayun cangkulnya kuat-kuat, sengaja memperlihatkan kekuatannya. Dalam waktu singkat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Bangkai tikus sudah lenyap kedalam tanah. Tapi ketika ia menoleh ia melihat Maya tidak sedang memandang kepadanya. Tatapan Maya ke arah lain.
****
Sejak kejadian itu Bram rajin membersihkan rumahnya setiap hari. Ia menggaji pembantu yang khusus untuk itu hingga tidak perlu menginap. Dengan demikian ia tidak merasa risih mengajak Maya datang. Tapi sebenernya bukan itu tujuannya. Ia lebih suka bercengkrama dengan Maya dirumah sendiri dibanding dirumah Maya. Di rumahnya tak ada orang lain hingga mereka bisa bebas dari gangguan. Sementara di rumah Maya ada pembantu dan juga Bagas.
Nampaknya Maya pun menyukai kebersamaan itu. Daripada makan malam di restoran yang bersuasana formil lebih baik mereka membeli makanan dari luar.
Hubungan mereka semakin akrab dan kemudian mesra setelah Bram mencium Maya untuk pertama kalinya. Bram memang menahan diri untuk tidak bersikap terlalu agresif. Ia ingin memberi kesan yang baik dimata Maya. Jangan bersikap seperti serigala lapar.
"Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan, tapi tak pernah berani kulakukan," Maya mengakui suatu ketika.
"Maukah kau bercerita sedikit tentang almarhum istrimu?"
Bram tidak terkejut mendengarnya. "Ya. Saya memang berhutang cerita itu kepadamu. Kamu sudah bercerita tentang almarhum suamimu. Saya belum. Sebenarnya bukan cuma kau yang takut bertanya, tapi saya pun takut bercerita. Toh saya harus terbuka. Selanjutnya penilaian terserah padamu."
"Saya siap mendengarnya, apa pun ceritamu."
"Begini, May. Sebenarnya saya sudah dua kali menikah. Ya, saya memang seorang duda dua kali. Dan dua mantan istriku meninggal karena kecelakaan." Bram bercerita singkat tentang Indira dan Lilis, terbatas pada hal-hal yang pantas diketahui Maya saja. "Nah, seseorang pernah berkata, bahwa ada kemungkinan saya membawa sial bagi orang yang menjadi pasangan hidupku. Mengerikan sekali, bukan? Karena itu saya jadi takut kalau-kalau kau pun berpikir begitu lalu berlari jauh dariku."
Maya tertawa. "Kau kira saya percaya takhayul? Tak ada hal-hal seperti itu. Mana mungkin. Itu cuma rekaan orang yang gemar sensasi. Bila seseorang ditakdirkan berumur pendek, maka dia akan tetap mati pada saatnya dengan siapapun dia kawin."
__ADS_1
"Oh, betapa leganya hatiku mendengar kau berpendapat seperti itu. Pasti jarang ada orang yang berpendirian seperti kau."
"Ah, apakah sudah pernah ada yang lari sebelum saya?" Maya tertawa.
"Belum sih. Tapi sejak kematian Lilis, saya jadi takut sendiri. Saya tak berani mendekati wanita."
"Kasihan sekali kau." Maya membelai kepala Bram.
"Jadi saya merasa beruntung sekali karena bertemu dengan orang sebaik dirimu."
"Betulkah? Saya merasa tersanjung. Apa iya saya orang baik?" Maya tertawa.
"Ya. Kau sangat baik."
"Hati-hati. Nanti kau salah menilai dan menyesal berkepanjangan."
"Pasti tidak," kata Bram dengan serius. "Tapi coba katakan, bagaimana penilaianmu sendiri tentang diriku?"
"Kau juga lelaki yang baik. Dan kupikir, kau cukup jujur dengan pengakuanmu barusan. Zaman sekarang kan jarang sekali lelaki yang jujur. Maunya ngegombal melulu."
Perasaan Bram benar-benar tersanjung. Ternyata ia tidak salah pada saat mengambil resiko dengan menceritakan kematian kedua mantan istrinya. Justru "kejujurannya" itu menjadi nilai tambah.
Selanjutnya mereka merasa kian dekat dan sudah cukup mengenal diri masing-masing. Masing-masing tak punya keraguan lagi. Sebulan kemudian mereka menikah.
__ADS_1
****