
Happy shopping,,,,
___________________*********____________________
"Memangnya Mas nya mau tanya apa sih?"
Pemuda itu menjadi gugup oleh sikap judes Dinda. Wajahnya memerah.
"Silahkan bertanya mas." Dinda menjadi iba. Nampaknya orang seperti ini tidak berbahaya. Tetapi ia tetap tidak akan membukakan pintu, sesuai pesan ayahnya. Seseorang tak pernah bisa dinilai dari luar, bagaimanapun penampilannya.
"Begini dek. Saya cuma ingin memastikan saja, apakah benar Om Bram pernah tinggal disini dan almarhumah istrinya bernama Lilis?"
"Benar sekali mas. Bu Lilis itu ibu saya. Om Bram cuma sekitar delapan bulan menjadi suami ibu saya."
"Ya. Pertanyaan itu memang saya ajukan kepada Tante di sebelah. Pasti dia cerita ya?"
"Tentu saja. Barusan ceritanya."
"Barusan? Jadi baru saja?"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Saya bicara sama dia lebih dari sebulan yang lalu. Kok dia tidak bilang sejak waktu itu ya?"
"Mana saya tahu. Mungkin saya sering tak dirumah. Atau dia baru ingat setelah melihat mobil mas nongkrong disana. Tapi kenapa mas tidak dari saat itu juga menanyai saya. Kok malah nanya sama tetangga."
Wajah pemuda itu memerah lagi. "Maaf, dek. Tadinya saya pikir cukup bertanya sama tetangga saja. Kalau bertanya langsung sama adek, takutnya dicurigai. Kemudian rasanya enggak enak kalau tidak bicara langsung. Entah kenapa. Maka saya datang lagi."
"Kok nunggunya lama tadi?"
"Oh, saya makan roti dulu. Dan saya juga memperkirakan adik pasti makan sepulang dari sekolah. Jadi saya tak mau mengganggu."
Dinda mengangguk. "Baiklah. Lantas apa tujuan mas menanyakan hal itu?"
Si pemuda menengok kiri kanan dulu. Sungguh tak enak rasanya bicara diluar pagar, tapi apa daya tidak dipersilahkan masuk. Ia maklum. Dirinya masih dicurigai. "Begini. Saya disuruh Tante saya untuk mengecek keterangan Om Bram. Ia ingin tahu, Om Bram berkata benar atau tidak. Tante Maya, begitu namanya dilamar oleh Om Bram untuk diperistri."
__ADS_1
"Oh, begitu," perasaan Dinda tiba-tiba diliputi kengerian. Ia menjadi cemas akan nasib perempuan bernama Maya itu.
"Kenapa adik menjadi pucat?" tanya si pemuda.
"Tante Maya itu belum menikah dengan Om Bram kan?" Dinda menegaskan tanpa menjawab pertanyaan itu.
"Sudah. Kira-kira sebulan yang lalu."
"Apa? Sudah?" seru Dinda, lupa mengendalikan suaranya. Ketika menyadari tatapan orang lewat, ia buru-buru membuka pintu pagar. "Kita bicara didalam saja mas," Ia mempersilahkan si pemuda masuk, lalu merapatkan kembali pintunya.
Si pemuda mengulurkan tangan. "Nama saya Bagas."
"Dinda."
Bagas tertegun merasakan dinginnya tangan Dinda. Tapi ia senang karena sudah dipersilahkan masuk. Berarti ia sudah dipercaya sebagai orang baik-baik.
Mereka duduk di teras.
"Jadi pada waktu kau datang ke tetangga sebelah, Tante mu belum menikah dengan Om Bram?" tanya Dinda. Perasaan bahwa dirinya dan pemuda itu senasib mendorongnya bersikap akrab.
"Belum."
Bagas memandang heran. Di wajahnya nampak kecemasan. "Ada apa dengan dia, Dind? Apakah dia orang yang sadis? Aku tak ingin tanteku sampai diapa-apakan."
Dinda menatap wajah Bagas. Ia merasa simpati. "Kau menyayangi tanteku? Apakah dia tidak punya anak?"
"Aku cuma keponakan. Tapi dia mengasuhku seperti anak sendiri."
"Ibuku punya diriku ketika mereka menikah, tapi ibu tidak pernah mempercayai instingku bahwa lelaki itu tidak baik. Ia lebih mempercayai cintanya. Ya, cinta ibu memang tulus. Tapi cinta Bram gombal."
Bagas termangu sejenak. "Tanteku mencintainya," katanya pelan, setengah mengeluh.
Dinda memperhatikan wajah Bagas. Diam-diam ia mengakui ketampanan wajah anak muda itu. Bagas mirip seorang bintang sinetron yang pernah ditontonnya. "Tantemu pasti cantik," katanya.
"Ya. Dia memang cantik. Oh, aku hampir lupa. Sebentar." Bagas membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah sampul coklat. "Disini ada beberapa foto perkawinan tanteku dengan Om Bram. Sekalian kau bisa memastikan ucapanku benar. Yah, siapa tau dia Bram yang lain."
__ADS_1
Dinda mengamati foto-foto itu. Begitu saja darahnya mendidih melihat Bram bersanding sebagai pengantin dengan perempuan lain. Ia teringat kepada ibunya. Kalau saja ibunya masih hidup ia bisa menunjukan foto itu sekalian membuktikan betapa gombalnya Bram. Lihatlah betapa wajah Bram berseri-seri penuh kebahagiaan dan bagaimana matanya menatap pengantinnya dengan penuh cinta. Oh, gombal.
Setelah emosinya mereda baru perhatiannya beralih kepada pengantin perempuan. Benar dia memang cantik. Lebih cantik daripada ibunya. Dan sama seperti ibunya, dia pun nampak bahagia. Dinda mengerutkan kening. Ia mengamati lebih cermat wajah pengantin perempuan. Sungguhkah dia berbahagia seperti kelihatannya?
"Kenapa Dinda? Kau melotot begitu lama," tegur Bagas cemas. "Apakah kau mengenali tanteku? Barangkali kau pernah melihatnya?"
"Tidak. Aku tidak, mengenalnya. Tapi dia memang cantik. Katakan, apa sebenarnya yang dilihat Tante mu pada diri Om Bram? Begitu besarkah daya tariknya?"
Bagas tak bisa tidak tertawa. "Wah, mana aku tahu. Nyatanya ibumu pun tertarik kepadanya, bukan? Kau tidak suka kepadanya ya?"
"Oh, ya. Aku bukan cuma tidak suka. Aku membencinya!"
Bagas terkejut "Maukah kau menceritakan seperti apa sebenarnya kejelekan Om Bram supaya aku bisa mengingatkan tanteku?"
"Ceritanya panjang mas. Sangat, sangat panjang. Cuma sebentar dia jadi suami ibuku, tapi ceritanya banyak sekali," tiba-tiba Dinda merasa sedih. Menceritakan kembali semuanya berarti menyegarkan kenangan buruk.
Bagas melihat kesedihan Dinda. "Maafkan aku, Din. Pasti berat bagimu untuk menceritakannya ya? Kapan-kapan sajalah kalau begitu. Aku menyesal telah membuatmu sedih." Ia berbasa-basi padahal ingin sekali tahu pada saat itu juga.
Dinda menggeleng. "Tidak mas. Aku harus menceritakan supaya tidak jatuh korban lagi."
"Jatuh korban?" Bagas membelalakkan matanya.
"Ya. Jangan sampai tantemu menjadi korban berikutnya. Tapi sebelum aku bercerita, bolehkan aku bertanya mengenai status tantemu dan kayakan dia?"
"Tante seorang janda, tak punya anak, dan lumayan kaya dari warisan yang ditinggalkan almarhum suaminya."
"Tepat! Ibuku tidak kaya, tapi punya sedikit harta. Setelah ibuku meninggal, hartanya habis. Kata om Bram dipakai berjudi, tapi aku yakin ibuku tidak suka berjudi."
"Maksudmu Om Bram itu jenis lelaki yang memoroti harta istrinya?"
"Betul sekali. Tapi besar kemungkinan tantemu tidak akan percaya. Cinta telah membutakan perempuan-perempuan yang diperdaya om Bram. Aku sudah berpengalaman dengan ibu. Dia tidak percaya padaku. Aku sudah mengingatkan dan bertekad menjaganya. Tapi mana mungkin aku mampu? Nyatanya aku tidak berhasil melindunginya."
"Katanya, kedua mantan istrinya meninggal karena kecelakaan."
"Ya. Nampaknya begitu. Ah, kau sangat penasaran bukan? Baiklah. Akan ku ceritakan secara lengkap." Dinda mengambilkan amplop berisi foto tadi.
__ADS_1
Kemudian Bi Imah keluar. "Non ada telepon dari pak Johan."
****____****