Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 16


__ADS_3

Happy Reading


***___***


Dinda berpikir keras. Apakah sebaiknya ia membuka selot pelan-pelan lalu membuka pintu dengan tiba-tiba? Pastilah orang diluar tak keburu lari. Ia bisa menangkap basah. Tapi kemudian muncul rasa takutnya. Apa yang mau dilakukannya bila kemudian berhadapan? Tiba-tiba saja terpikir akan kemungkinan lagi. Bagaimana kalau orang disana itu bukan Bram? Ia pun tak yakin akan kemampuannya sendiri menghadapi orang itu.


Kemudian pandangannya berkeliling ruangan. Ia menatap lubang angin pada tembok diatas pintu. Lubang angin itu masih ditutupi lagi dengan kawat nyamuk, tapi dari sana ia bisa melihat keluar. Apakah bisa? Meskipun tak begitu yakin, dengan bersemangat ia cepat-cepat naik keatas meja setelah menggesernya pelan-pelan. Setelah matanya berada dimuka lubang angin ternyata ia tak bisa memandang kearah pintu yang terletak dibawahnya. Pandangannya hanya bisa lurus ke depan, ke sebelah kiri dan kanan. Ia bisa juga melihat pintu kamar ibunya. Pada saat termangu dengan kecewa tiba-tiba ia melihat Bram berjalan menuju kamarnya sendiri. Lelaki itu membuka pintu lalu masuk. Maka sadarlah Dinda bahwa memang Bram lah yang barusan mencoba membuka pintu kamarnya. Sesudah mengutak atik pintu tanpa hasil, Bram kembali ke kamarnya sendiri. Ah, memang siapa lagi kalau bukan Bram?


Dinda kembali ke tempat tidurnya dengan perasaan tegang. Prasangka nya selama ini bukan cuma sekedar prasangka yang tak mengandung kebenaran. Untuk sesaat ia serasa terbakar oleh amarah. Berani sekali lelaki itu mencoba memasuki kamarnya padahal ibunya berada dikamar satunya lagi. Bila seorang lelaki mencoba memasuki kamar perempuan yang bukan apa-apanya maka sudah jelas apa yang dikehendakinya.


Kemudian amarahnya menyurut. Ia bisa berpikir lebih tenang. Muncul rasa heran. Keberanian Bram itu sepertinya tidak masuk akal. Bila Bram memang berniat masuk ke kamarnya pada saat ia tidur, pasti sudah berhasil ia lakukan sejak kemarin-kemarin. Sudah terbukti ia mampu menggeser pintu walaupun sudah diganjal dengan meja dan kursi, bahkan membuatnya terbangun. Tapi kenapa ia berhenti sampai disitu saja? Jelas kalau Bram sampai masuk maka meja itu tergeser lebih jauh lagi, karena ia membutuhkan ruang lebih lega bagi tubuhnya yang besar. Kenyataannya cuma bergeser sedikit. Pasti bukan karena ia tak punya tenaga yang cukup.


Di samping itu, kalau Bram sampai menyerangnya disaat tidur, maka sudah pasti ia akan melawan lalu berteriak sekeras-kerasnya. Ibunya akan terbangun. Dan sudah pasti ibunya tidak akan tinggal diam. Beranikah Bram menghadapi resiko itu?


Dinda merasa bingung. Ia terus berpikir sebelum jatuh tertidur lagi.


****


Belum sampai sebulan kemudian Bram sudah mengembalikan uang Lilis secara utuh. Lima puluh juta. Uang itu di transfer kembali ke rekening Lilis. Sudah tentu Lilis gembira sekali. Ia bergegas pergi ke rumah Della untuk khusus memberitahukan hal itu, padahal ia bisa saja melakukannya lewat telepon. Tapi bila menelepon ia tak bisa melihat wajah Della yang tentunya tak menyangka, dan ia pun tak bisa memperlihatkan wajahnya sendiri yang mengandung kebanggaan.


"Syukurlah," komentar Della. "Aku ikut gembira bersamamu kak."


"Makanya jangan suka menyangka yang macam-macam."


"Hei, aku tidak menyangka macam-macam kak." bantah Della.


"Memang kau tidak terus terang mengatakannya. Tapi omonganku itu sugestif lho."


"Ah, apa iya? Aku sudah lupa tuh," kata Della sebenarnya.

__ADS_1


"Iya. Kau ngomongnya tendensius."


"Wah ... maaf deh, Kak. Mungkin keceplosan. Kau nggak marah kan?"


Lilis merasa puas dengan penyesalan yang diperlihatkan Della. Memang itu yang ingin dilihatnya. "Aku bukan orang pemarah. Cuma ini pelajaran buatmu untuk tidak sembarangan menyangka jelek."


Della terdiam. Tak ada gunanya membantah. Mungkin juga omongannya dulu mengandung prasangka. Untung saja Lilis tidak mendengar apa yang dikatakan Bustaman. Bahwa Bram kemungkinan seorang lelaki yang suka memoroti harta istri? Wah, Lilis bisa ngamuk kalau tahu.


"Bagaimana dengan Dinda? Apa dia sudah menelepon?" tanya Lilis kemudian, ia tidak tega melihat sesal diwajah Della.


"Oh, sudah. Cuma dia belum ke sini."


"Apa katanya?"


"Dia lagi sibuk belajar bahasa Inggris."


"Ah, kak, si Indo itu kan punya nama. Jangan begitu ah. Sudahlah. Jangan mendendam"


"Ala. Itu urusan ku. Katakan dong. Apa yang diceritakan Dinda kepadamu?"


"Mestinya kau bertanya sendiri kepadanya."


"Dia tak mau bercerita. Sejak ada Bram di rumah, ia selalu menghindar. Tambahan lagi ia sering pergi kerumah Johan. Kalau pun ada dirumah, ia mendekam di kamar. Alasannya bikin PR dan belajar."


"Oh, ya. Ia kan sudah dekat ujian, Kak. Pantas saja dong. Dia rajin kok."


"Tapi kenapa harus belajar di kamar? Bahkan ia tak lagi suka nonton tv seperti dulu. Aku tahu, ia tetap tak suka pada Bram. Apakah ia masih suka mengeluhkan soal itu?"


"Tidak."

__ADS_1


"Betul tidak?"


"Betul. Lho, masa aku bohong. Coba pikir. Kapan dia bercerita kalau dia belum ke sini lagi? Nelepon pun baru sekali. Jadi jangan bertanya soal cerita Dinda. Sama sekali tidak ada."


"Aku jadi jauh sama dia," keluh Lilis.


"Dekati, dong."


"Bagaimana mendekatinya kalau ia bersikap dingin dan judes?"


Baik-baik saja, Kak. Tanyakan bagaimana sekolahnya, ulangannya, temannya. Kan ada banyak topik, tuh. Ku pikir, seharusnya kau duluan yang melakukan inisiatif pendekatan. Dia tentu segan karena disangkanya kau lebih memperhatikan Bram dan melupakannya."


"Ah, dia bilang begitu?" tanya Lilis dengan wajah muram. Ia menganggap Dinda keterlaluan. "Aku sudah berusaha mendekati dan memperhatikannya. Ya, seperti biasalah. Tapi sahutannya selalu judes. Kadang-kadang aku tak tahan dan ingin membentaknya, tapi aku takut juga kalau-kalau sikap keras malah membuatnya semakin jauh dariku. Bagaimana kalau dia memutuskan tinggal bersama ayahnya?"


Della tertegun. Jadi Lilis mengkhawatirkan hal itu. Tetapi ucapan itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Seandainya benar Dinda merasa terancam dan sangat tidak suka pada Bram, kenapa ia tidak tinggal bersama ayahnya saja? Tapi Dinda justru belajar kungfu untuk melindungi diri. Maka baginya hanya ada satu kesimpulan, yaitu Dinda memang tidak ingin meninggalkan ibunya. Tiba-tiba ia merinding ketika teringat tatapan Bram kepada Lilis dari belakang yang jauh berbeda dibanding kalau ia menatap dari depan.


Menurut para pengarang, tatapan mata dari belakang, tanpa setahu orang yang ditatap, justru menyatakan isi hati yang sebenarnya!


Apakah kecurigaan Dinda itulah yang membuatnya tak mau meninggalkan ibunya, walaupun ia sendiri merasa terancam? Ia mendapatkan suatu kesimpulan yang membuatnya terharu tapi juga kagum.


****____****


Jangan lupa like komen


Jangan lupa vote gratis


Jangan lupa gift seikhlasnya


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2