Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 22


__ADS_3

Happy Reading


****____****


"Aku sangat ingin menendangnya Tante."


Ucapan yang kekanak-kanakan itu membuat Della tersenyum. Sesungguhnya Dinda masih sangat muda. "Kau sudah pintar kungfu ya?"


"Lumayan Tante. Aku punya motivasi untuk rajin berlatih. Dan ayah juga melatihku terus. Aku sudah bertekad untuk menguras semua ilmu ayah. Wah, dia senang sekali Tante."


"Tahukah dia apa motivasimu itu?" tanya Della khawatir. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila dua lelaki itu berkelahi. Bukankah orang seperti Bram punya anak buah yang kebanyakan merupakan orang-orang kasar? Sepintar-pintar nya ilmu kungfu seseorang, bila di keroyok dengan senjata tajam pastikan akan kalah.


"Jangan khawatir, Tante," sahut Dinda dengan senyum. Ia bisa memperkirakan kekhawatiran bibinya yang pastilah sama dengan kekhawatirannya sendiri.


"Aku tak ingin mereka berkelahi. Akibatnya bisa mengerikan."


"Ya. Akibatnya akan mengerikan."


"Lebih baik aku saka yang menendangnya daripada ayah. Akan merasa puas karena bisa membalas sendiri, tanpa meminjam tangan orang lain."


"Sungguh kau tidak mau tinggal bersamaku untuk sementara waktu, Din?"


"Aku tidak mau meninggalkan ibu. Aku sudah berjanji padanya, Tante."


"Oh ya? Ia memintamu berjanji?" tanya Della heran. Ia tak menyangka akan hal itu. Dalam pembicaraan mereka tempo hari nampaknya Lilis sangat jengkel kepada putrinya.

__ADS_1


"Betul, Tante. Tapi aku juga takut, sekalinya meninggalkan rumah maka aku tak bisa kembali lagi ke sana. Itu kan rumah ibu. Bukan rumah Om Bram. Bagaimana kalau nanti dikuasainya?"


Tiba-tiba perasaan Della menjadi tidak enak. Ia teringat kepada kasus uang lima puluh juta yang diceritakan Lilis kepadanya. Tentu kasus itu sudah tuntas. Tapi siapa bisa menjamin bahwa kelak tak akan muncul kasus-kasus serupa?


"Belakangan mereka sangat mesra satu sama lain, Tante. Aku enek melihat sikap manis dan romantis Om Bram kepada ibu. Sepertinya berlebihan. Sayang sih sayang, tapi kok seperti itu sih. Seingatku dulu ayah tidak begitu kepada ibu. Biasa-biasa saja."


Della jadi tertawa oleh gaya bicara Dinda. "Mungkin Om Bram orangnya memang romantis Din. Setiap orang kan berbeda-beda."


"Sepertinya ada sesuatu yang membuat Om Bram bersikap berlebihan seperti itu Tante," Dinda mulai berpikir lagi. "Jangan-jangan ada hubungannya dengan sikap gembira ibu yang berlebihan. Ah, jangan-jangan ibu memang hamil, Tante. Aduh...."


Della menggeleng. "Jangan begitu Din. Sudah kukatakan tadi, tanyai ibumu. Kenapa sih ibu begitu happy? Lalu lihat apa jawabannya."


"Ah, benar juga ya. Alangkah dungunya aku. Ini gara-gara si bibi."


Della tersenyum. "Tidak apa-apa. Kalau tidak begitu, kau pasti tidak akan datang ke sini. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku kangen padamu, Din. Dan juga mencemaskan mu."


Della memeluk keponakannya lalu menepuk-nepuk punggungnya. "Ayolah, jangan bersedih. Ingatlah. Dengan permintaan ibumu, agar kau bisa tidak meninggalkannya, maka itu berarti ia menyayangimu dan tidak ingin berpisah."


"Apa betul begitu Tante? Kadang-kadang aku pikir, dia sekedar tidak ingin ayah merebut ku dari tangannya. Semata-mata karena persaingan."


"Ah, pasti tidak begitu. Kau pun harus belajar berpikir positif tentang orang lain Din. Jangan yang negatif melulu."


"Entahlah Tante. Kadang-kadang aku juga suka berpikir negatif tentang diri sendiri. Sepertinya aku ini anak yang jelek sekali karena tidak menginginkan ibunya berbahagia. Barangkali ibu juga berpikir begitu ya?"


"Nah, mulai lagi."

__ADS_1


"Tapi kalau aku anak yang baik, seharusnya aku mengikuti kehendak ibu untuk bersikap baik kepada Om Bram."


"Lalu menanggung akibatnya? Ibumu pasti akan menyesal kalau kau sampai diapa-apakan oleh lelaki itu."


Tiba-tiba Dinda teringat kepada kejanggalan yang pernah terpikir olehnya beberapa waktu yang lalu. "Coba pikirkan Tante. Dia berulang-ulang menggangu tidurku dengan mengutak-atik pintu kamarku. Walaupun aku mengganjal pintu dengan meja dan kursi, toh masih bisa di gesernya. Sering aku melihat meja kursi itu bergeser dari tempatnya semula. Berarti dia bisa saja terus mendorong sedikit, sepertinya cukup menggeser saja perabot yang mengganjal. Jadi sebetulnya dia mau masuk atau tidak? Dan kalau dia sudah masuk lalu melihatku dalam keadaan tidur, lantas apa lagi yang mau dilakukannya? Katakanlah dia mau menggangguku, tapi aku kan bisa melawan dan berteriak. Tidakkah dia takut ketahuan oleh ibu yang kamarnya berseberangan? Lain halnya kalau ibu kebetulan tak ada dirumah. Bagaimana pendapat Tante?"


Della baru menyadari, bahwa masalahnya memang cukup rumit. Kalau bukan karena keanehan yang dimiliki Dinda, mustahil ia bila mempertimbangkan hal-hal seperti itu. Ia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Dinda itu. "Aku pikir, dia sebetulnya tidak berniat masuk, tapi cuma ingin memberi tanda bahwa ia bisa saja masuk dengan gampang kalau mau. Dengan kata lain, ia ingin menakut-nakuti mu. Aku yakin, ia tidak akan mau mengambil resiko dilabrak Ibu mu kalau ketahuan mengganggumu. Sama halnya dengan cara dia menatapmu dengan sikap melecehkan. Itu juga bisa dibilang menakut-nakuti saja, dan tidak serius ingin melakukan sesuatu?" tegas Della.


"Kayaknya begitu."


Ah, buat apa bertingkah seperti itu? Mungkinkah ia juga tidak menyukai aku seperti aku tidak menyukainya? Dinda merasa jengkel dengan pikiran itu. Barangkali Bram cuma menginginkan ibunya saja dirumah itu, dan tidak dirinya juga.


"Jangan-jangan ia ingin membuatmu tidak betah hingga kau memutuskan untuk pergi," Della menyimpulkan dengan hati-hati.


"Betul sekali Tante!" seru Dinda keras. Ia sudah mendapatkan jawabannya. Alangkah bodohnya karena ia tidak sempat berpikir kesitu. "Ia ingin mengusirku dari rumah itu lalu menguasainya. Ya, ya, tak salah lagi. Itulah tujuannya. Tapi justru karena itu aku malah semakin tak mau pergi. Aku akan bertahan di rumahku sendiri. Aku akan menghajarnya kalau dia berani menggangguku lebih dari itu."


"Hati-hati Din. Jangan emosi menghadapi orang dewasa yang penuh pemikiran dan rencana. Kita tidak tahu apa saja yang ada di kepalanya. Lebih baik kau bersikap tidak tahu apa-apa dan tidak menyangka apa-apa."


"Aku benci sekali padanya, Tante," keluh Dinda.


"Ya. Aku pun jadi ikut-ikut benci Din. Sabarlah. Kita hadapi bersama-sama ya? Jadi jangan bertindak sendiri."


Dinda memberikan janjinya. Ia pulang ke rumah dengan perasaan lebih lega, tapi juga marah oleh kesimpulannya. Ia tahu, akan sulit baginya untuk menekan emosi. Padahal selama berlatih bersama ayahnya, ia pun selalu diingatkan untuk belajar mengendalikan emosinya. "Mengendalikan emosi itupun merupakan bagian dari membela diri, tapi secara pasif. Tingkah yang emosional itu membuka diri untuk diserang. Padahal tindakan yang paling baik adalah tidak membiarkan diri diserang." Begitu ucapan ayahnya yang terasa membosankan karena sering diulang-ulang.


****____****

__ADS_1


to be continued


Like, komen, vote ya..


__ADS_2