Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 52


__ADS_3

Happy Reading...


****___****


Sejak terusir dari rumah Lilis, Bram kembali menempati rumah yang diwarisinya dari Indira. Sebuah rumah berukuran sedang dengan tiga kamar, tapi memiliki halaman cukup luas di sekitarnya. Bentuknya tidak mewah dan nampak kuno tapi kondisinya kokoh. Letaknya dibilangan Menteng, Jakarta Pusat, hingga lokasi yang elit itu memberinya harga yang tinggi.


Ketika menikahi Lilis, ia membiarkan rumah itu kosong tapi menjadikannya sebagai kantor untuk ia menyimpan semua dokumen dan melakukan pekerjaan yang harus dilakukan sendiri. Ia tidak berada disitu sepanjang hari melainkan sesekali saja, karena ia punya kantor resmi di perusahaan properti yang jadi mintra kerjanya , PT Subur Mandiri. Karena itu ia tidak merasa perlu memperkerjakan pembantu atau karyawan di rumahnya tersebut. Kalau perlu ia bisa membersihkannya sendiri. Paling-paling dikotori debu. Tapi bila kotornya sudah keterlaluan atau dinding-dindingnya membutuhkan cat ulang dan tamannya perlu ditata, ia memanggil beberapa pekerja dari perusahaannya untuk melakukannya. Maka rumahnya menjadi bagus kembali.


Setelah tidak lagi menjadi suami Lilis dan terusir dari rumah, ia kembali menempati rumah itu dan mengulang cara hidupnya yang lama sebagai seorang bujangan. Ia membersihkan rumah dan mencuci pakaiannya sendiri. Makan sehari-hari pun bukan persoalan sulit. Lebih baik capek sedikit daripada menggaji pembantu yang kemudian bisa merepotkan karena keusilannya.


Sementara lingkungan sekitar tidak menjadi masalah. Masyarakat disitu sudah terbiasa sibuk dengan urusan sendiri. Tak banyak waktu tersisa untuk peduli terhadap yang lain. Sikap itu ditunjang oleh kondisi perumahan yang satu sama lain dibatasi oleh dinding tinggi dan halaman samping luas, hingga tidak memungkinkan saling lihat dan saling dengar. Bram merasa yakin akan ketenangan dan kenyamanan hidupnya. Ia tidak perlu tau siapa dan bagaimana tetangga sebelah rumahnya, begitupun mereka terhadap dirinya. Bahkan untuk masuk dan keluar rumah ia tidak perlu turun dari kendaraannya, cukup dengan alat remote control ia bisa membuka pintu gerbang dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Lilis tidak pernah tahu soal rumah itu. Sepengetahuan Lilis, Bram tidak punya rumah pribadi melainkan mengontrak sana sini. Ia pun tidak memberikan nomor teleponnya dengan alasan tidak ingin di ganggu saat bekerja. Tapi sebagai gantinya ia selalu menelepon Lilis pada jam-jam tertentu untuk menunjukan perhatiannya. Ternyata cara itu justru lebih menyenangkan Lilis hingga perempuan itu tak pernah ingin tahu atau merasa perlu mengetahui nomor telepon kantornya. Sementara itu usia pendek pernikahan mereka juga tidak memberi kesempatan kepada Lilis untuk merasa terpancing keinginannya. Maka periode kehidupannya bersama Lilis pun berlalu dengan aman. Dinda dan kerabatnya tak perlu ia cemaskan lagi sekarang. Pendeknya, ia bisa menghadapi masa depan tanpa perlu pusing lagi mengenai masa lalu.


****


Beberapa bulan berlalu tanpa sekali pun Bram merasa terusik oleh pengejaran orang-orang yang dendam kepadanya. Sampai saat itu ia merasa aman dan karenanya bisa menekuni kembali pekerjaannya dengan konsentrasi penuh. Ia belum bertemu lagi dengan Dinda atau pun kerabatnya atau mendengar apa-apa tentang mereka. Tentu ia tak menginginkan hal itu. Pertemuan bisa menimbulkan masalah. Ia takkan bisa melupakan apa yang telah dilakukan Dinda terhadapnya. Ia marah dan dendam. Bagaimana mungkin lelaki dewasa dengan fisik kekar seperti dirinya bisa dilecehkan oleh seorang gadis remaja?


Tetapi kesadaran mampu mengatasi dendam. Tentu ia bisa saja melampiaskan dendamnya dengan mudah dan pada sembarang waktu yang diinginkannya, misalnya dengan menggunakan tangan orang lain. Tapi ia harus memperhitungkan resikonya. Ia harus selalu waspada, bukan cuma terhadap orang lain, tapi juga terhadap dirinya sendiri. Emosi merupakan sesuatu yang berbahaya bila tak mampu mengatasinya. Ia bisa kehilangan semua yang telah diperolehnya sampai saat itu hanya karena emosi sekejap.


Sekarang ia punya posisi terhormat. Handoyo pun menyatakan kepuasannya atas kemitraan mereka. Dalam waktu relatif singkat itu ia sudah mampu mencapai sukses dalam beberapa hal yang penting, yaitu mendapat izin membangun yang diperlukan, membebaskan tanah tanpa ribut-ribut, dan berhasil pula menjual. Kesuksesan sebagai mitra tentu berbeda dibanding sukses sebagai karyawan yang cuma mendapat gaji dan sekedar bonus. Karena itu ia tak perlu mau menjadi karyawan Handoyo meskipun sudah berulangkali dibujuk. Ia ingin bebas sebagai orang yang mandiri. Ternyata cara itu menghasilkan keuntungan yang jauh lebih banyak. Apa yang sudah diperolehnya dari Indira dan Lilis menjadi berlipat ganda sekarang.


Semangat Bram tinggi. Ia punya uang banyak, posisi, dan status sosial terhormat, dan juga sangat menyenangi pekerjaannya. Ia merasa dunia ini menjadi miliknya. Bayangkan. Segala sesuatu selalu berjalan sesuai rencananya dan keinginannya. Dan ia pun berhasil lolos dari lubang jarum. Ia menepuk dada. Aku adalah Lucky Bram atau Bram si Mujur.

__ADS_1


Tetapi lambat lain kepuasannya memudar. Ia merasa sendiri dan kesepian. Padahal mulanya justru ia mensyukuri kesendiriannya sebagai suatu keberuntungan. Hidup bersama dengan orang lain membuatnya terikat dan harus berkorban perasaan. Ia sudah mengalaminya dua kali. Mungkinkan itu disebabkan karena cinta yang di tampilkan ya merupakan kepura-puraan? Ia tak pernah menemukan cinta yang sejati walaupun tak tahu pasti apa sebenarnya definisi cinta itu. Yah, kira-kira suatu perasaan yang sangat manis dan membahagiakan. Perasaan yang membuatnya bukan cuma ingin memiliki tapi juga menyayangi. Tapi, mungkinkah ia mengalami yang seperti itu? Mungkinkah ia menemukan seseorang yang bisa membangkitkan cintanya? Padahal ia tidak bisa membayangkan seperti apa atau syarat apa yang harus dimiliki orang itu. Apakah ia harus cantik, lembut, pintar, penurut, atau...? Ia merasa pesimis bisa menemukannya karena ia tidak tahu seperti apa orang yang dikehendaki nya!


****


Dalam pameran perumahan yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Bram berada di stan PT Subur Mandiri selama beberapa jam dalam sehari. Bisa sebentar, bisa pula lama, tergantung keinginan nya. Sekarang ia hadir disitu sebagai bos, bukan sebagai calo. Rasanya menjadi lain, penampilannya pun lebih berwibawa.


Pameran itu berlangsung ramai, karena digabung dengan pameran perabot dan perlengkapan rumah tangga.


***___***


Jangan lupa like, komen nya

__ADS_1


makasih


__ADS_2