
Maaf baru sempet update, jempol lelah setelah setengah jam nerbangin kotak di GC. Oiya khusus bulan Puasa, author update nya tengah malem ya dan hari nya Senin-Jumat 🙏 Happy Reading n Happy Shoping 😂
****
Apakah kecurigaan Dinda itulah yang membuatnya tak mau meninggalkan ibunya, walaupun ia sendiri merasa terancam? Ia mendapatkan suatu kesimpulan yang membuatnya terharu tapi juga kagum.
Lilis mencurigai Della yang lama terdiam. "Apakah Dinda pernah menyatakan niat seperti itu kepadamu?" tanyanya dengan nada mendesak.
"Sama sekali tidak. Kenapa kau punya pikiran seperti itu?" Della terkejut.
"Soalnya kau diam saja waktu kutanyakan."
"Aku justru menyimpulkan, bahwa dia takkan meninggalkan mu."
"Oh ya? Apa alasannya?" Lilis kurang percaya. Pasti Della cuma ingin menghiburnya saja.
"Bukankan dia tidak menyukai Bram? Kau tahu itu, bukan? Nah kalau dia memang ingin pergi, pasti sudah dari dulu dilakukannya. Bahkan ia bisa tinggal bersamaku untuk sementara waktu kalau dia mau."
"Ah kau membujuknya untuk tinggal bersamamu?" Lilis melotot.
"Tentu saja tidak. Aku cuma menawarkan solusi. Daripada dia stress."
__ADS_1
"Aku tak habis pikir, kenapa ia tak bisa menyukai Bram. Padahal Bram itu kebapakan, lho. Dan Bram sudah berusaha mendekatinya baik-baik, tapi Dinda jelas-jelas bersikap dingin dan ketus. Pendeknya aku sudah habis daya bagaimana mengakrabkan mereka."
"Menurutku, biarkan sajalah seperti apa adanya. Tak usah dipaksa-paksa. Kelak ada saatnya keinginan terkabul bila memang harus terjadi demikian."
"Tergantung nasib?"
"Ya, begitulah. Jadi kau harus percaya, bahwa dia sebenarnya menyayangimu. Itu sebabnya ia ingin tetap bersamamu."
"Benarkah begitu? Kadang-kadang aku pikir, ia terlalu egois. Dan karenanya ia bertahan bersamaku justru karena tak ingin aku berduaan saja dengan Bram. Ia takut Bram merebut perhatianku seluruhnya."
Della menggeleng-geleng untuk pemikiran yang disarankan nya keterlaluan itu. Bagaimana mungkin Lilis bisa beranggapan sedemikian jelek perihal Dinda? Padahal dia sendiri menghargai dan mengagumi tekad Dinda. Sayang ia tak bisa menceritakan. Tapi seandainya ia menceritakan, maukah Lilis mempercayai kekhawatiran Dinda? Paling-paling balik menuduh bahwa Dinda memfitnah Bram dengan prasangka jelek.
"Bagaimana mungkin kau berpikir jelek tent
"Tapi seharusnya dia mau berbagi dong. Dia itu sudah cukup dewasa untuk mengerti, Del."
"Kau harus mencoba memahaminya Kak. Dimata ku, anak itu memiliki sesuatu yang jarang dimiliki anak lain seusianya. Bahkan anak-anak ku sendiri tidak ada yang menyamainya." Della mengakui.
Tetapi Lilis menganggap pujian Della itu cuma untuk membela Dinda saja. "Bukan cuma aku yang harus memahaminya, Del. Dia pun harus begitu. Coba kalau dia mau menerima Bram sebagai ayahnya, kan dia beruntung punya dua orang yang menyayangi. Bukan satu orang saja. Eh, jangan perhitungkan Johan lho. Dia berada diluar permasalahan."
Didalam hati Della mengatakan, bahwa Dinda punya cukup banyak orang memperhatikan dan menyayanginya. Termasuk dirinya sendiri. Tetapi seorang ibu tentu tidak bisa disamakan dengan orang-orang lain, bagaimana pun dekatnya. "Cobalah mendekatinya, Kak. Dia membutuhkanmu. Biar pun dia cukup dekat denganku, tapi aku toh bukan ibunya. Yang dia sayangi dan butuhkan adalah Kakak."
__ADS_1
"Kalau mau dekat dengannya, kau seharusnya membantuku membujuknya supaya mau menerima Bram. Bagaimana lagi, Bram kan sudah jadi suamiku. Masa sehari-hari seperti orang asing yang bermusuhan."
Della terdiam. Ia tak mau berjanji seperti itu. Ia justru berharap Dinda tetap menjauhi Bram. Dulu ia pernah membujuk Dinda karena belum mempercayainya. Sekarang ia percaya seratus persen. Rasanya benar-benar menggemaskan karena ia tak bisa menceritakan kepada Lilis dan minta agar Lilis agar waspada menjaga putrinya. Seandainya terjadi apa-apa atas diri Dinda, tidakkah dia pun akan merasa bersalah karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk melindungi dan membelanya?
Pertemuan berakhir tanpa kepuasan bagi keduanya. Sedang Lilis karena bisa membawa berita baik tentang Bram jadi pupus setelah kasus Dinda dibicarakan. Dinda bisa dianggap sebagai pembangkang tapi ia tahu tidak boleh memperlakukannya seperti duri dalam daging!
***
Sekitar dua bulan sesudah itu, dengan bersemangat Bram memaparkan rencananya kepada Lilis. "Aku bermaksud untuk bekerja sama dengan seorang pengembang yang cukup bonafit. Jadi mitra, begitu. Selama ini kan aku cuma pembebas lahan, atau kasarnya calo tanah. Reputasinya sedikit jelek, ya? Tapi untuk menjadi mitra dimana aku memiliki saham, sudah tentu aku harus menyertakan modal kerja. Dan itu tidak sedikit. Uangku tidak begitu banyak. Jadi aku ingin mengajakmu bergabung. Kau menjadi mitra juga. Bagaimana? Apa kau tertarik?"
Lilis termangu sebentar. Ia tidak terlalu bodoh untuk memahami, bahwa ajakan Bram itu untuk menarik uangnya juga. Memang itu merupakan ajakan yang menarik, sebagai mitra usaha tentu lebih jelas kedudukannya dibanding sebagai pengutang. Tetapi modal kerja tentunya tak cukup sedikit. "Kau kan tahu Mas, uangku cuma seratus juta. Dan apa pemahamanku tentang proyek seperti itu? Aku tidak tahu apa-apa?"
Bram menatap istrinya dengan optimis. "Cukup aku yang memahami tentang pekerjaan itu, Lis. Kalau kau ingin tahu bisa kuajari. Dan mengenai uangmu, tidakkah kau sadari bahwa kau memiliki lebih dari seratus juta? Kau masih punya rumah bukan. Nilai rumahmu ini minimal dua sampai tiga ratus juta lho."
Lilis terkejut. Ia sama sekali tidak berniat menjual rumahnya. Itu terlalu jauh. Bram melihat kekagetannya dan memahami lalu cepat-cepat menentramkan. "Tentu saja aku tidak menyuruhmu jual rumah. Wah, sayang sekali. Begini. Kita bisa meminjam dari Bank dengan rumah ini sebagai jaminan. Rumah ini takkan ke mana-mana"
"Tetapi, bila nanti tak mampu melunasi maka rumah ini akan disita,' kata Lilis ngeri.
"Aku jamin, hal semacam itu takkan terjadi. Keuntungan yang akan kau peroleh bisa membengkakkan uangmu lebih cepat daripada hanya mengandalkan bunga deposito yang kecil. Dalam waktu singkat kita bisa melunasi hutang Bank dan rumah kembali menjadi milikmu. Kuperkirakan kredit yang bisa diperoleh sekitar 150 juta. Kalau bank ingin kurang dari jumlah itu maka kita tolak. Jadi bila ditambah dengan deposito mu, jumlah menjadi dua ratus lima puluh juta. Uangku pun berjumlah sama. Maka bila digabung menjadi setengah milyar. Kau dan aku bisa memiliki saham yang sama," celoteh Bram dengan mata berbinar.
Pada awalnya, Lilis terbawa semangat Bram. Ia membayangkan dirinya jadi wanita karier yang bisa berbuat jauh lebih banyak daripada cuma duduk menonton televisi dan tidur. Tetapi kemudian ia teringat pada resikonya. Tegakah ia mempertaruhkan segenap hartanya disitu? Bram tidak memperhitungkan kegagalan. Ia begitu optimis. Sedemikian yakinkah ia?
__ADS_1
****____****
to be continued 😂