
Pameran itu berlangsung ramai, karena di gabung dengan pameran perabot dan peralatan rumah tangga. Sedang dihalaman digelar pameran tanaman hias yang cantik-cantik. Penggabungan seperti itu memang berhasil memikat masyarakat, hingga ramainya seperti pasar. Sudah jelas sebuah rumah takkan lengkap bila tak punya perabotan atau pun tanaman. Memang sebagian pengunjung mungkin tidak tertarik pada rumah yang dipamerkan melainkan pada tanaman dan perabotan, tetapi mereka telah membantu menciptakan suasana semarak. Sudah jelas suasana seperti itu jauh lebih memikat dibanding sepi sunyi hingga pengunjung merasa risi melangkah seolah jadi pusat perhatian para penjaga stan.
Bram kelihatan keren dengan celana wol hitam dan kemeja lengan panjang warna putih bergaris-garis hitam serta dasi berwarna merah bata dengan motif bintik-bintik hitam. Perutnya tak sebuncit beberapa bulan yang lalu, ketika masih menjadi suami Lilis. Berat tubuhnya sudah menyusut sekitar lima kilo. Tapi itu bukan disebabkan karena diet ketat, melainkan akibat ketegangan yang dialaminya pada hari-hari itu.
Stan PT. Subur Mandiri sesekali ramai, sesekali sepi. Bram punya banyak kesempatan untuk mencuci mata. Kemudian dengan tiba-tiba tatapannya terfokus pada satu objek dan melekat disana, tak mau beranjak. Bram seperti kena sihir, tak peduli lagi pada situasi sekitarnya.
Obyek yang memikat perhatian Bram itu seorang perempuan yang yang diperkirakan berusia tiga puluhan, wajahnya manis imut-imut menggemaskan, berambut ikal pendek sebatas leher, dan bertubuh tinggi langsing. Gayanya melangkah seperti seorang penari, gemulai tapi cekatan. Kulitnya kuning langsat dibalut gaun berwarna krem yang panjangnya mencapai betis dan dipadu dengan rompi rajutan berwarna coklat. Aduh, harmonisnya perpaduan warna itu, Bram berseru dalam hati. Kelihatannya perempuan itu orang yang periang karena senyum selalu menghiasi wajahnya. Matanya yang bulat itu pun mengandung kecerahan. Dia nampak asyik dan serius mengamati maket perumahan sambil sesekali berbincang dengan seorang lelaki disampingnya. Pasti bukan suami atau pacarnya, pikir Bram melegakan perasaannya sendiri. Dan ketika matanya tajam menelusuri jari-jari perempuan itu ia tidak menemukan adanya cincin kawin disitu.
Sayangnya perempuan bersama pengiringnya itu berlama-lama di stan seberang, yang menawarkan apartemen mewah, hingga Bram tidak punya kesempatan untuk mengajaknya berbincang atau mengamatinya lebih dekat. Ia menunggu dengan tegang, apakah perempuan itu akan melihat-lihat stannya atau tidak. Jangan-jangan minat perempuan itu hanya pada apartemen? Menilik keseriusannya ia bisa memastikan dari tingkat sosial mana perempuan itu. Pasti orang kaya. Potongan gaunnya memang sederhana, tapi bahannya kelihatan mahal dan jahitannya rapi sekali. Mungkin buatan desainer ternama atau keluaran butik terkenal, ia menduga-duga. Dan lihatlah giwangnya berkilau-kilau diterpa cahaya lampu. Tak nampak jelas karena sebagian tertutup oleh rambut, tapi kilauan itu pasti disebabkan oleh berlian. Ya, berlian yang indah karena tersembunyi dan mengintip di sela-sela rambutnya. Itu pun menandakan pemiliknya tak mau sombong mengekspos.
Tiba-tiba perempuan itu mengangkat muka dan menoleh, seperti merasa dirinya tengah diamati. Segera pandangan mereka berdua beradu. Bram tidak mengalihkan pandangannya karena tak ingin bersikap seperti orang kedapatan. Ia mengangguk sopan dan tersenyum ramah. Perempuan itu menimbang-nimbang sejenak, seperti tengah mengingat-ingat apakah lelaki di seberang, orang yang pernah dikenalnya. Dimata Bram, senyum itu sungguh berharga karena ditujukan untuknya.
Tambah mengawang perasaan Bram ketika kemudian perempuan itu bersama pengiringnya melangkah ke stannya. Cepat-cepat ia menyambut dengan segala keramahan yang dimilikinya. "Silahkan, Bu," katanya seakan perempuan itu cuma satu-satunya pengunjung.
__ADS_1
Mereka berbincang-bincang sejenak mengenai perumahan. Bram mengeluarkan segala pengetahuan dan pemahamannya. Dalam hal itu ia boleh dikata tergolong pakar. Apa saja mengenai properti dikuasainya. Dari segi tata kota Jakarta, man yang aman dari penggusuran, harga pasar sesuai lokasinya, mana yang punya prospek akan meningkat harganya, sampai ke harga bahan bangunan yang paling akhir.
"Ibu mencari rumah tipe apa?" tanya Bram akhirnya, sadar bahwa ia tidak boleh membuat bosan tamunya dengan materi pembicaraan yang mungkin tidak disukai. Jangan sampai dia terlalu menonjolkan diri dan sok tahu.
"Saya masih bingung memilih, apa sebaiknya apartemen atau rumah ya?"
"Apakah untuk ibu sekeluarga dan beberapa anggota keluarganya?" tanya Bram sekalian mengecek.
Bram terperangah. Alangkah murah hatinya perempuan ini. Keponakan dibelikan rumah! Tapi menjadi jelas pula bahwa orang yang dihadapannya ini pastilah kaya raya.
"Apakah ia sudah berkeluarga?" tanya Bram.
"Belum. Dia masih sendiri. Ah, anda merasa heran bukan?" Perempuan itu tertawa menampakkan giginya yang putih dan rapi. "Memang ia bisa tinggal bersama sapa seperti sekarang ini. Tapi lokasi kantor tempat kerjanya lumayan jauh dari rumah saya. Pergi pulang membutuhkan waktu tak sedikit. Waktunya habis di jalan. Jadi lebih efisien kalau ia mencari tempat tinggal yang berdekatan. Memang indekos juga bisa, tapi masalahnya tidak leluasa. Kos sama rumah sendiri kan lain ya?"
__ADS_1
Bram mengangguk. Tentu saja. Untuk orang berduit indekost adalah pilihan yang tidak nyaman. "Di bilangan mana letak kantornya?"
"Slipi."
"Wah, dekat dong dengan perumahan yang kami tawarkan ini Bu! Tak perlu pakai mobil. Jalan kaki pun sampai. Ini penghematan yang sangat besar."
"Betul sekali. Tapi pilihan menjadi dua. Apartemen yang disebarang sana juga dekat. Jadi mendingan mana, rumah atau apartemen? Untuk seorang bujangan, sebuah apartemen lebih efisien, karena katanya sudah komplit mencakup kebersihan dan keamanan. Jadi dia tidak perlu pembantu. Tapi masalahnya, apartemen itu baru rampung sekitar setengah tahun lagi. Lama juga ya?"
Bram segera menangkap peluang. "Kalau masalah seperti itu tidak ada pada kami, Bu. Kami memiliki beberapa rumah yang sudah jadi dan siap huni. Nah, tipenya seperti ini, Bu." Ia menunjukkan maketnya.
"Saya ingin yang mungil saja, Pak. Jangan yang terlalu besar. Maklum yang menempati cuma sendirian. Kira-kira kamar tidurnya dua atau tiga buah. Dan halaman yang cukup luas. Keponakan saya ini menyukai tanaman. Itu juga merupakan salah satu sebab kenapa ia lebih suka rumah daripada apartemen."
"Dan harganya pun tak berbeda jauh, Bu. Kami juga punya tipe mungil seperti yang Ibu inginkan. Ukuran halamannya lumayan luas. Jadi rumahnya bisa diperbesar sendiri nanti. Dan mengenai kontruksinya bisa dijamin kekokohannya, Bu. Fondasi dan dindingnya kuat untuk dibuat bertingkat. Jadi tinggal menyambung keatas. Hal seperti itu mana bisa dilakukan pada sebuah apartemen? Sudah segitu, ya tetap saja segitu. Mana bisa diperbesar, diubah-ubah atau di dandani?"
__ADS_1