
Update nya setiap Senin-Sabtu ya jam 20:00.
****
Sekitar lima menit kemudian ia terkejut sampai terlompat. Ia pun sempat memekik kesakitan karena lengannya ada yang mencubit keras. Ia tersipu ketika menyadari bahwa perbuatannya itu membuat dirinya jadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Tapi beberapa saat kemudian ia tertawa senang karena pelaku yang mengejutkannya itu Dinda. Rasa sakit dan malu serta merta lenyap berganti oleh kegembiraan. Ia menganggap perlakuan Dinda itu sebagai tanda keakraban.
"Tumben, Ayah!" seru Dinda dengan wajah berseri-seri.
Wajah Dinda yang cerah itu sungguh melambungkan perasaan Johan. Alangkah menyesal rasanya karena tidak dari kemarin-kemarin, atau sering-sering menjemput Dinda. Lihatlah betapa senangnya anak itu melihatnya. Kegembiraan Dinda imbalan yang tak ternilai.
"Ya. Memang tumben Dinda. Yuk!" Johan mengulurkan tangan. Dinda menyambar tangannya lalu mereka berdampingan menuju mobil. Dalam keadaan begitu, kelihatan benar bahwa fisik Dinda lebih banyak kemiripan dengan ayahnya dibanding dengan ibunya. Tubuh mereka sama ramping dan tinggi.
"Memangnya ada apa sih, Yah, kok bisa tumben?" Dinda mulai was-was. Mestinya ada suatu penyebab yang mendorong kemunculan ayahnya bila biasanya tidak begitu. Dan tentu juga bukan karena ayahnya bisa menangkap kerinduannya. Itu mustahil.
"Nggak ada apa-apa, Dinda. Ayah cuma rindu padamu. Kepingin ketemu, boleh kan?"
Dinda tertegun dan berhenti melangkah. Ia menatap ayahnya. "Cuma rindu Yah?" tanyanya dengan heran. Apakah benar hal yang dianggapnya mustahil itu ternyata benar-benar nyata?
"Ya, kenapa? Kau tidak percaya?" Johan sedikit cemas.
"Kok kebetulan amat ya? Aku juga rindu sama Ayah," kata Dinda terus terang.
"Wah, sama dong Din!"
"Kok bisa ya,.Yah?"
"Bisa aja. Mungkin ada hubungan telepati antara kita berdua." Johan bergurau.
__ADS_1
"Apakah itu mungkin?"
"Mungkin saja."
Mereka sudah masuk ke mobil. Tapi pikiran Dinda masih saja kepada hal itu. "Sebenarnya aku mulai teringat kepada Ayah pada malam perkawinan ibu. Kalau Ayah kapan?" tanyanya antusias.
"Ayah sih ingat terus kepadamu. Tapi memang menjelang dan setelah ibu menikah, Ayah jadi tambah rindu."
"Kalau begitu, memang ada hubungannya ya Yah? Saatnya kurang lebih bersamaan. Kalau dorongannya tidak kuat, mustahil Ayah ada disini sekarang. Dan tadi aku begitu girang melihat Ayah sampai mencubit terlalu keras."
Johan memperlihatkan lengannya yang kemerahan bekas cubitan. "Sekarang aja rasanya masih nyut-nyutan Din. Tapi tidak apa-apa. Ini rasa sakit yang menyenangkan. Cuma kau harus hati-hati dalam tindakan itu. Bagaimana kalau kau salah sasaran? Tahu-tahu orang lain yang mirip dengan Ayah yang kau cubit. Wah ..." Johan tertawa geli.
"Ah, tidak mungkin Ayah. Aku sudah memastikan dulu dong. Ayah saja yang tidak mengenalku padahal sudah begitu dekat."
"Ya. Ayah memang pangling melihatmu, Din. Kau bertambah jangkung saja ya? Dan seragam kalian itu membuatku pusing."
"Sekarang tujuan Ayah apa? Cuma mengantarku pulang?" Dinda sangat ingin tahu.
"Om Bram. Ibu menyuruhku memanggilnya Ayah. Tapi aku tidak mau. Aku cuma punya satu Ayah. Memang cuma soa sebutan, tapi aku tetap menolak. Kalau aku menyebut Ayah, orang bisa bingung. Ayah yang mana?"
Johan merasa senang mendengarnya. Ia menepuk lengan Dinda. "Terimakasih Dinda. Apakah kau menyukainya?"
"Tidak Ayah."
Johan terkejut oleh keterusterangan Dinda. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Cuma antipati saja."
__ADS_1
"Oh." Johan tidak berani bertanya lebih banyak. "Apakah kau lapar, Din? Kita makan dulu ya?"
Dinda mengangguk antusias. "Mau, Yah! Memang lapar nih. Makan di mana?"
"Fried chicken?"
"Oke Yah!" seru Dinda.
Johan sengaja mengusulkan makanan yang satu itu bukan semata-mata karena merupakan kegemaran Dinda, tapi juga letaknya sangat dekat. Bila harus menempuh jarak jauh dalam kemacetan pastilah cuma membuang waktu percuma.
"Sudah lama sekali aku nggak makan disini," kata Dinda begitu mereka masuki restoran yang lumayan penuh pengunjung karena saatnya memang merupakan jam makan siang.
"Apakah Ibu dan Om Bram tidak suka mengajakmu?"
Dinda memonyongkan mulutnya. "Biar diajak pun aku tidak mau, Yah. Pengantin baru kan sukanya berduaan saja. Masa mengajak orang lain."
"Kalau begitu, sekarang makan sepuasnya."
Tak lama kemudian mereka sudah asik menikmati makanan pilihan masing-masing. Mereka tak banyak bicara karena sulit mencabik daging ayam sambil bicara. Baru setelah tersisa tulang-tulang berserakan diatas piring, mereka mulai saling menatap. Di dalam hati Johan kembali memuji dan mengagumi penampilan putrinya. Dengan rambut panjang yang dikepang membentuk jalinan tebal, Dinda kelihatan imut-imut tapi bila diamati dengan cermat, ekspresi wajah terutama sorot matanya terkesan serius. Sesuatu yang tidak biasanya terdapat pada remaja seusianya yang cenderung santai.
Johan merasa bangga terhadap putrinya itu. Ia bertekad untuk melakukan apa saja bagi Dinda. Bagaimanapun ia masih beruntung karena banyak kesempatan untuk melaksanakan tekadnya itu. Memang tak ada gunanya menyesali waktu yang sudah berlalu. Yang penting sekarang dan yang akan datang. Ia juga sangat beruntung karena sudah terbuka Dinda menyayangi dan merindukannya. Bukankan akan percuma saja bila ia menyayangi seseorang tapi orang itu tak peduli kepadanya? Rasa sayang itu haruslah timbal balik untuk menghasilkan kebahagiaan. Anakku sayang, pekiknya dalam hati. Ya, apa yang tengah berkecamuk didalam hatinya pasti akan kelihatan menggelikan bila terekspresi keluar. Ia pasti tampak over-akting. Untung saja ia menyimpan semua yang berlebihan itu didalam dirinya. Yang tampak di luar cuma wajah bangga ketika memandang ke sekitarnya dan menerima tatapan selintas orang lain.
Inilah putriku! Dan ia menyayangiku! Tentu ada kemungkinan kalian juga memiliki putri, tapi apakah mereka mencintai kalian?
Sementara itu Dinda kembali menyimpulkan, setelah pengamatan yang lebih kritis, bahwa ayahnya nampak seperti bumi dan langit dibanding Bram. Semua berbeda. Bram berkumis sedang ayahnya licin klimis. Ia tidak suka lelaki berkumis karena di matanya, kumis membuat seseorang tampak licik. Dan ia yakin, Bram memang licik. Sedang ayahnya yang berwajah klimis, pasti rajin bercukur, kelihatan polos dan terbuka. Sorot mata keduanya pun berbeda. Bram menyimpan misteri di matanya, dengan ekspresi yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, hingga sukar disimpulkan bagaimana isi hatinya yang sebenarnya.
Tetapi sorot mata ayahnya gampang ditebak. Kalau satu waktu nampak kocak gembira, pada waktu yang berbeda tentu nampak sebaliknya yaitu sayu sedih atau melotot marah. Ah, tentu saja itu sekedar pengamatan luar.
__ADS_1
****____****
Mohon support nya, like, komen, vote, n gift ya.