Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 48


__ADS_3

Maaf author nya lagi sakit kemaren jadi update nya agak sedikit terbengkalai kek rumah kosong ya😂 sekarang kita mulai lagi ya.


*****


"Iya dong." Frida tersenyum. Alasan yang dikemukakan Bram itu kedengeran logis tapi juga serius. Jadi Bram memang tidak keberatan. Ah, senang sekali membayangkan dirinya duduk dibelakang kemudi.


"Jelas tidak bisa besok," kata Bram dengan suara tegas.


"Habis kapan? Jangan lama-lama. Mengecek saldo kan sebentar aja. Masa tak ada uang sekali."


"Pendeknya Minggu ini juga. Bagaimana kalau Sabtu? Kau libur hari itu jadi waktumu banyak. Tapi ada syaratnya. Batalkan kencanmu dengan Johan."


Frida tertegun. "Dia akan mengejar ku terus bila aku tidak muncul."


"Temui saja dia seperti biasa, tapi tak usah ikut dengannya. Cari saja alasan apa, kek."


Frida berpikir sejenak. Sebaiknya tidak mendebat Bram. Yang penting dapat mobil dulu. Urusan dengan Johan bisa belakangan. Mana mungkin Bram bisa memata-matai nya terus-terusan untuk mengecek dengan siapa saja ia berhubungan? Maka ia tersenyum tanpa beban. "Beres. Aku akan memikirkan alasan yang paling masuk akal."


"Jadi janji kita adalah Sabtu pagi jam sepuluh. Kau tunggu aku disini saja ya? Jadi aku tidak perlu naik keatas. Tapi kau harus nelepon aku dulu. Jumat malam untuk menceritakan pertemuan dengan Johan sekalian mengkonfirmasi janji kita."


Frida mengangguk senang. "Ya. Jangan sampai batal ya mas?" katanya dengan senyum yang lebar.


"Kalau ada yang mati baru batal," sahut Bram sambil masuk ke mobilnya.


Tapi sahutan Bram yang sinis itu tidak mengacaukan perasaan Frida. Ia terlampau gembira untuk terpengaruh perasaan negatif.


Pada Jumat sore ia bertemu dengan Johan dan sungguh-sungguh merasa menyesal karena harus membatalkan janjinya. Johan nampak gagah dan muda dengan celana jeans biru dan baju kaos putih. Lengannya berotot, bahunya kekar dan perutnya tidak menonjol. Dia tidak seperti Bram yang berperut buncit.

__ADS_1


"Aku benar-benar menyesal mas, karena sore ini berhalangan untuk bisa pergi bersamamu. Aku harus pulang seperti biasa."


Johan memperlihatkan kekecewaan yang amat sangat di wajahnya hingga Frida merasa tak tega. "Maafkan aku mas. Benar-benar tak enak rasanya karena aku terpaksa menyalahi janjiku padamu. Tapi kuharap kau mengerti. Kadang-kadang halangan itu ada saja, tak bisa dicegah datangnya." Frida merasa bersyukur karena Johan tidak cerewet mempertanyakan apa sebenarnya halangan itu. Dengan demikian ia tidak perlu berbohong terlalu banyak.


"Ya. Aku mengerti," kata Johan dengan lesu.


"Bagaimana kalau hari Minggu saja mas?" Frida sangat ingin melihat lagi kegembiraan di wajah Johan. Semakin bertambah saja keyakinannya bahwa Johan memang bermaksud mendekatinya karena perasaan tertarik dan bukan karena masalah Lilis.


Johan mengangkat kepala dan menatap Frida. Wajah Johan berseri-seri kembali dan matanya bercahaya. Ia tersenyum penuh syukur dan bahagia hingga Frida jadi merasa bersalah telah membohonginya. Tapi ia bertekad untuk memenuhi janji yang baru dibuatnya kali ini.


"Betul begitu Frid? Aku boleh datang ke rumahmu di hari Minggu?" tanya Johan.


Frida menggeleng. "Begini mas. Jangan ke rumah dulu, ya? Bukan apa-apa lho. Kita kan baru berkenalan?"


"Lantas dimana aku harus menjemput mu? Masa disini." Johan menggaruk-garuk kepalanya.


Frida tersenyum. Ia menyukai sikap Johan yang lugu. "Tentu tidak disini, mas. Tapi disuatu tempat yang gampang dicapai, baik olehku mupun olehmu. Justru kalau kau menjemputku ke rumahku kau akan kesulitan."


"Di Plaza Indonesia saja ya? Tahu kan? Jalan Thamrin."


"Ya, tahu. Tapi sebelah mana? Gedung itu kan besar sekali."


"Di bagian depan yang menghadap ke hotel Indonesia. Bagian pelatarannya itu memiliki beberapa tangga. Aku akan duduk disitu, dekat tiang. Kira-kira jam sebelas. Kalau kau belum melihatku, kemungkinan aku belum datang, kau bisa memarkir mobilmu dulu. Bagaimana mas?"


"Wah, kau mau duduk di tangga? Kasian amat."


"Tidak apa-apa. Banyak orang suka duduk disitu kok. Tapi kalau kau datang duluan, kau pun menungguku disitu ya?"

__ADS_1


"Baiklah. Aku setuju." Johan merasa terhibur. Mungkin cara begitu lebih baik dibanding sekarang. Dengan demikian ia bisa memiliki waktu lebih banyak bersama Frida. Pada perasaannya ia sudah mendapat kemajuan dalam usahanya mendekati Frida atau setidaknya ia berhasil memperoleh kepercayaan. Jadi ia akan melanjutkan strategi yang sudah disusunnya. Pertama, merebut kepercayaan bahwa ia sungguh-sungguh "naksir". Kedua, di saat-saat awal pendekatan jangan bertanya tentang Lilis apalagi Bram. Pertanyaan tantang hal-hal itu baru akan dikeluarkan nya bila ia sudah "akrab" dengan Frida, tapi tentu saja dengan cara yang tidak mencolok.


"Kau percaya padaku, bukan?" tanya Frida.


Johan menatapnya. Perempuan itu memang cantik, pikirnya. Tapi bukan soal kecantikan yang dinilainya saat itu. Sesuatu dibalik kecantikan itu. Ia tidak bisa memahami apa sesuatu itu. Sesungguhnya ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Frida atau tidak. Tetapi ia tidak bisa berkata lain. "Tentu aku percaya padamu. Wah, senang sekali rasanya." katanya dengan senyum polos, tapi didalam hati ia merasa malu. Kalau bukan demi Dinda, pastilah ia sudah pergi jauh-jauh dari sisi Frida, betapapun cantiknya dia. Ia akan berlari kembali ke dalam pelukan seorang perempuan yang sudah dikenal dan dipahaminya, hingga membuatnya merasa aman dan tenang. Irene.


Frida merasa senang mendengar jawaban Johan itu. Biasanya lelaki yang mendekatinya suka bersikap mendesak dan memaksa dengan keinginan mereka sendiri. Johan tampil beda dengan keyakinan dan ketenangannya. Masih disamping Johan, Frida sudah berangan-angan. Tak lama lagi, ia bukan memiliki sebuah mobil tapi juga seorang pacar.


Bus datang, mereka pun berpisah. Johan dan Frida saling melempar senyum yang mesra dan genggaman tangan yang hangat. Sampai hari Minggu.


Tak lama setelah pulang dan beristirahat, Frida memenuhi janjinya kepada Bram untuk menelepon dan menceritakan pertemuannya dengan Johan tadi. "Beres mas. Dia menerima pembatalan tanpa bertanya-tanya."


"Segitu gampangnya?" suara Bram kedengaran tak percaya.


"Ya. Rupanya dia bukan tipe orang yang cerewet. Seperti kau."


"Siapa tahu kau menelepon disampingnya dan bukan ditempatmu yang biasa. Aku kan tak bisa melihatmu."


Frida memonyongkan mulutnya. Itu memang khas Bram, pikirnya. "Lantas bagaimana aku bisa membuktikan kebenaran ucapanku?"


"Aku akan kesana sekarang untuk melihatmu."


"Aduh, Mas. Masa sih aku bohong," keluh Frida jengkel.


"Kalau kau tidak bohong, biarkan saja aku datang untuk melihatmu dengan mata kepala sendiri."


"Silahkan. Datanglah kalau kau mau." Dengan tak bersikap judes karena ingat bahwa Bram belum memberikan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


"Hei, ngambek ya?" kedengaran suara tawa Bram yang penuh canda.


****___****


__ADS_2